Brilio.net - Bagi sebagian orang, batok kelapa merupakan salah satu barang yang sangat jarang terpakai. Limbah yang berasal dari kelapa ini biasanya akan langsung dibuang setelah penggunaannya. Meski sebenarnya ada, beberapa orang tetap menggunakannya sebagai mangkuk atau wadah makanan.

Namun lain halnya yang dilakukan oleh pria yang bernama Hendi Hermawan ini. Di tangannya, ia mampu mengubah sebuah batok kelapa menjadi hasil yang menakjubkan, yakni cincin. Ia menciptakan karya yang diberi Idneh Craft.

Hendi menceritakan awal mulanya idenya tersebut. Semuanya hanya berawal dari 'keisengan'. Ketika masih duduk di bangku sekolah, ia dan teman-temannya sering membuat cincin dari batok kelapa lantaran sangat tren.

idneh craft © 2019 brilio.net

Sosok Hendi Hermawan foto: brilio.net/Hira Hilary Aragon

Loading...

Ketertarikannya pada aksesori terus berlanjut, hingga akhirnya suatu saat ada seorang teman tertarik dengan cincinnya. Ia mengajak Hendi untuk membuatkan cincin yang nantinya akan dijual di toko perhiasannya.

"Suatu saat ada teman yang marketing online, cincin perak. Suruh jual (di toko tersebut). Awal-awalnya cuma buat bonus (pembelinya). Misalnya ada satu cincin couple, produk A kurang laku, nanti dikasih bonus sama dia," ujar Hendi seperti saat ditemui brilio.net di kediamannya di Sampok, Imogiri, Bantul, Kamis (19/12).

Lambat laun, pria 23 tahun ini mulai mempromosikan produknya di media sosial sekitar 2017. Hendi membuat akun Instagram yang dinamainya 'Idneh Craft'. Nama Idneh bermakna kebalikan nama Hendi itu sendiri.

"Dulu kan mamak saya masak santan, jadi sisa-sisa bekas batok daripada dibakar bisa dimanfaatin sendiri," kata Hendi.

idneh craft © 2019 brilio.net

Proses pembuatan cincin foto: dok. pribadi Hendi

Rupanya, semuanya proses pembuatan dipelajarinya secara autodidak. Semua bentuk dan motif merupakan ide yang berasal dari dirinya sendiri. Termasuk penggunaan barang-barang bekas sebagai motifnya. Salah satu alasan terbesarnya mengenakan batok karena tidak memiliki serat seperti kayu pada umumnya.

"Batok kelapa itu tidak memiliki serat. Kemudian unik ada bintik-bintiknya. Ada bambu, kayu, tutup galon, bekas oli, kartu perdana (bahan limbah lainnya). Tergantung model," tuturnya.

Keunikan dari hasil karya Hendi yakni murni memakai barang tak pakai. Misalnya saja, dengan satu kartu perdana, dirinya bisa membuat empat cincin sekaligus. Kartu perdana dipakai sebagai pelapis atau motif dari cincin yang berada di tengah cincin berwarna putih.

Untuk mendapat kartu perdana, Hendi 'pungut' ketika berada di konter handphone. Seumpama Hendi tengah membeli pulsa, ia sambil mengambil kartu-kartu perdana yang tidak digunakan lagi.

idneh craft © 2019 brilio.net

Hasil cincin foto: Instagram/@idnehcraft

Mulanya batok kelapa yang berbentuk bulat dipotong beberapa bagian menjadi bentuk kotak kecil. Karena tidak semua bagian batok mempunyai sisi tebal, sehingga pembuat harus telaten memilih yang tepat. Ini berpengaruh pada hasil cincin akhir.

"Prosesnya dipotong, dilubangi, nanti ditumpuk-tumpuk (bahan per bahan)," ungkapnya sambil menunjukkan cincin yang sudah jadi.

Batok kemudian dilubangi dengan bor. Selanjutnya bahan diamplas hingga rata datar. Hasil batok yang sudah jadi, dilem dengan bahan lapisan lainnya. Misalnya menggunakan kartu perdana yang sudah melalui proses pelubangan dan amplas yang sama.

Kendati demikian, proses pembuatannya tidak serta merta memakai tangan saja lho. Hendi memakai mesin untuk memudahkannya. Seperti scroll saw guna memotong batok, mesin jahit yang dipasang alat amplas, mesin bor, kemudian mesin pompa air yang berfungsi menghaluskan bagian luar cincin. Terakhir dengan mesin tuner pada bagian dalam.

idneh craft © 2019 brilio.net

Hasil cincin foto: Instagram/@idnehcraft

"Satu cincin (pembuatannya) 1,5 sampai 2 jam," jelas Hendi.

Sementara, untuk pewarnaan cincin pun terbilang cukup unik. Biasanya menggunakan dua metode pewarnaan alami, yakni direbus atau direndam di kolam ikan selama berbulan-bulan, sehingga memberikan warna hitam secara alami dan batok jadi lebih kuat.

Satu cincin biasanya dijual dengan harga yang relatif cukup terjangkau, mengingat pembuatan cincin tidak membutuhkan biaya operasional yang besar, yaitu Rp 25 ribu sampai Rp 40 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan motif.

Menariknya, peminat cincin ini terbilang cukup banyak. Setiap harinya Hendi selalu mendapat pesanan. Satu bulan ia dapat pesanan rata-rata 60 cincin. Tak cuma memasarkannya via online, diakuinya Hendi menjual saat pameran. Pasalnya lurah setempat sering memberdayakan UKM di event-event tertentu.

Mahasiswa yang kini mengenyam pendidikan di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta ini mengklaim ketahanan cincin buatannya bisa awet hingga satu tahun, bahkan seumur hidup jika pemakaiannya hanya sebatas aksesori.

RECOMMENDED BY EDITOR