Brilio.net - Majas atau gaya bahasa biasanya digunakan agar sebuah karya sastra semakin hidup. Majas ini merujuk pada kekayaan bahasa, sehingga membuat rasa dari karya sastra semakin bernyawa.

Majas ini bisa membuat sebuah karya sastra terhindar dalam sebuah penyampaian yang monoton. Majas akan membuat isi dan gagasan dalam sebuah karya sastra lebih gampang menyampaikan isi dan gagasan.

Majas adalah bahasa kiasan yang dapat menghidupkan sebuah karya sastra dan menimbulkan konotasi tertentu. Penggunaan majas yang tepat akan membantu pembaca untuk memahami makna dalam sebuah karya sastra. Majas juga bisa menjadi dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.

Ada beragam jenis majas yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia, seperti majas personifikasi, metafora, hiperbola, simile dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak majas diatas, majas hiperbola merupakan salah satu jenis majas yang banyak digunakan dalam sebuah karya tulis atau dalam sebuah percakapan.

Pengertian Majas Hiperbola

Contoh majas hiperbola, beserta pengertian dan ciri-cirinya © 2022 brilio.net

foto: freepik.com

Majas hiperbola merupakan sebuah gaya bahasa yang menggambarkan sebuah kondisi dengan kata-kata yang dilebih-lebihkan. Majas hiperbola sendiri merupakan jenis majas pertentangan yang erat kaitannya dengan gaya bahasa sindiran.

Menurut buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), majas pertentangan dikategorikan menjadi beberapa jenis, yaitu majas hiperbola majas antitesis, majas paradoks, majas litotes, dan majas anakronisme.

Dari kelima majas tersebut umumnya menggunakan gaya bahasa yang sangat bertolak belakang atau kontras dengan keadaan yang sebenarnya terjadi.

Ciri-ciri Majas Hiperbola

Berikut ini ciri-ciri majas hiperbola yang bisa membantu kamu mengetahui suatu kalimat menggunakan majas hiperbola:

1. Gaya bahasa yang dilebih-lebihkan , sehingga sesuatu yang disampaikan menjadi tampak wah dan lebih besar dari kenyataan.

2. Gaya bahasa yang didramatisasi.

3. Gaya bahasa yang bisa mempengaruhi pembaca ataupun pendengar.

4. Gaya bahasa yang tidak masuk akal.

Magang: Muhammad Reza Ariski

(brl/lea)

RECOMMENDED BY EDITOR