Brilio
×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
BRILIO >> Wow
Fariz Faizul (brl/tin)

05 Juni 2019 11:33

5 Fakta tak terduga lagu Hari Lebaran yang dinyanyikan saat Idul Fitri

Ada makna sindiran sang pencipta lagu pada pemerintah zaman lagu itu dibuat..

5 Fakta tak terduga lagu Hari Lebaran yang dinyanyikan saat Idul Fitri

View Image



Brilio.net - Lebaran menjadi momen tradisi bagi setiap Muslim, terlebih bagi Indonesia. Semua berbondong-bondong merayakan hari kemenangan tersebut. Semua orang berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman.

Berbagai perayaan pun diadakan demi semaraknya momen tersebut. Seperti tradisi membuat kue Lebaran, bersilaturahmi, ataupun sekadar menyanyikan lagu bernuansa Idul Fitri.

Lagu bertema Lebaran memang banyak dijumpai di Indonesia. Namun satu lagu yang tak bisa lepas dari momen hari raya adalah Hari Lebaran milik Ismail Marzuki. Lagunya sangat enak dinikmati karena terdengar sederhana.

Namun siapa sangka jika lagu tersebut mengandung makna mendalam. Dalam lagu tersebut terdapat kritik sosial, kelas ekonomi, hingga pemerintahan yang korup. Lagu ini juga mempunyai fakta-fakta menarik.

Nah, apa saja fakta di balik lagu Hari Lebaran? Disarikan Brilio.net dari berbagai sumber, inilah deretan fakta lagu Hari Lebaran yang tak banyak orang ketahui.

Loading...

1. Penyanyi pertama.

fakta lagu hari lebaran © 2019 brilio.net

foto: YouTube/Montana Blego

Lagu ini direkam pertama kali pada 1954. Ada dua versi mengenai penyanyi pertama lagu Hari Lebaran. Versi pertama dinyanyikan oleh grup vokal Lima Seirama di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1952. Adapun versi kedua dilantunkan oleh Didi & Kwartet Mascan. Pada intinya, setelah kemunculannya pertama kali, lagu Hari Lebaran langsung dikenal publik hingga hari ini.

2. Banyak dinyanyikan ulang.

Indonesia patut berbangga karena lagu Hari Lebaran dinyanyikan ulang oleh maestro besar Malaysia, P. Ramlee pada 1977. Sedangkan pada era 1990-an, lagu ini dinyanyikan banyak musisi Indonesia seperti Gigi, Ungu, Gita Gutawa, Sentimental Moods hingga Derehida. Menariknya, grup band retro Derehida menyanyikan ulang secara lengkap lagu Hari Lebaran.

3. Mempopulerkan kosa kata baru.

fakta lagu hari lebaran © 2019 brilio.net

foto: Freepik

Sejak kecil kita selalu mengucapkan "Minal Aidin Wal Faizin" saat silaturahmi antar keluarga. Kalimat tersebut kerap disambung dengan kata-kata "Mohon maaf lahir dan batin". Tradisi tersebut menjadikan banyak orang menganggap dua kalimat yang mempunyai arti yang sama.

Padahal, Ismail Marzuki hanya menggabungkan untuk mendapatkan rima lirik yang sama. "Minal Aidin Wal Faizin" yang harusnya bermakna "Semoga kita termasuk golongan yang kembali mendapat kemenangan" menjadi ungkapan permintaan maaf.

Sementara itu, sebelum P. Ramlee membawakan ulang lagu ini, kata Lebaran masih asing di telinga warga Malaysia.

4. Bait yang jarang dibawakan.

Acap kali orang menyanyikan lagu ini hanya beberapa bait saja. Jarang sekali ada penyanyi yang melantunkan hingga bait akhir. Padahal ada banyak pesan sosial yang disampaikan oleh Ismail Marzuki. Setelah Derehida menyanyikan lagu tersebut dengan lengkap, publik berangsur mengenali bait yang jarang dibawakan.

“Dari segala penjuru mengalir ke kota

Rakyat desa berpakaian baru serba indah

Setahun sekali naik terem listrik perei

Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore

Akibatnya tengteng selop sepatu terompe

Kakinya pade lecet babak belur berabe

Maafkan lahir dan batin, ulang taon idup prihatin

Cari uang jangan bingungin, bulan Syawal kita ngawinin

Cara orang kota berlebaran lain lagi

Kesempatan ini dipakai buat berjudi

Sehari semalam main ceki mabuk brandi

Pulang sempoyongan kalah main pukul istri

Akibatnya sang ketupat melayang ke mate

Si penjudi mateng biru dirangsang si istri

Maafkan lahir dan batin, ‘lan taon idup prihatin

Kondangan boleh kurangin, kurupsi jangan kerjain”

5. Sindiran pada pemerintah.

fakta lagu hari lebaran © 2019 brilio.net

foto: abc.net.au

Selain menyindir kebiasaan masyarakat kota pada hari Lebaran, Ismail Marzuki juga menyindir pemerintah. Baris "Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin" sebenarnya tak sesuai dengan kondisi masyarakat pada waktu itu.

Rakyat berada dalam kesengsaraan yang jauh dari kata makmur. Tak hanya itu, suami primadona grup musik asal Bandung Eulis Zuraidah itu juga menyindir koruptor. Lagu ini diakhiri dengan kalimat "korupsi jangan kerjain". Lagu ini sekaligus jadi penanda bahwa korupsi sudah marak dari zaman awal kemerdekaan Indonesia.

RECOMMENDED BY EDITOR

Pilih Reaksi Kamu



Tags

Sejarah Lagu Tradisi Lebaran Lebaran Lebaran 2019
Loading...
Creator Banner

YUK GABUNG SEKARANG UNTUK DAPETIN
UANG TUNAI DARI HASIL KARYAMU!

Learn More Sign In
Tulis Komentar

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE