Brilio.net - Divia Ayu Prihatina, salah satu lulusan Sekolah Global Sevilla Puri Indah ini tak pernah mengira dirinya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Maklum, Divia berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, cita-citanya untuk bisa kuliah di perguruan tinggi negeri begitu besar. 

Kini, Divia mampu menggapai asa. Tahun ini ia resmi menjadi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk jurusan Pendidikan Sosiologi melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Tapi perjalanan Divia tidak semudah membalik telapak tangan.

Mimpinya sempat terhenti ketika ia tidak bisa melanjutkan sekolah akibat keterbatasan biaya usai menamatkan Sekolah Menengah Pertama. Namun tekadnya untuk sekolah begitu tinggi. Divia tak pernah putus asa. Baginya, pendidikan sangat penting untuk mengubah kehidupan keluarganya agar lebih baik.

Secercah harapan muncul saat Divia bertemu Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Ia akhirnya mendapatkan pendidikan informal melalui rumah belajar. Hal tak terduga muncul dalam hidupnya setelah 2 tahun bersama YCAB, ia berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di sekolah formal demi mengejar mimpinya. Ia pun diterima di Global Sevilla School.

Divia © 2019 brilio.net

Loading...

Divia mendapat program beasiswa 100% bagi siswa berprestasi khususnya dari keluarga kurang mampu. Beasiswa ini berkat kerjasama Global Sevilla School dengan YCAB. Ini tahun ketiga kerjasama antarkedua lembaga ini. Oh iya, sekadar informasi, Global Sevilla School merupakan sekolah berbasis kesadaran penuh (mindfulness-based school) pertama di Indonesia.  

“Puji syukur, Alhamdulillah berkat kerja keras, doa, dan dukungan tiada henti dari orang-orang sekitar, saya diterima di perguruan tinggi negeri (UNJ) lewat seleksi SBMPTN, sungguh bangga rasanya. Insha Allah cita-cita saya menjadi guru semakin mudah dicapai. Terimakasih pada Global Sevilla, YCAB dan YSPI atas kesempatan yang sungguh berharga ini,” ungkap Divia saat acara penandatanganan nota kesepahaman kerjasama antara Global Sevilla School dan YCAB, baru-baru ini di Jakarta seperti keterangan resmi yang diterima Brilio.net, Rabu (24/7). 

Divia lalu bercerita bagaimana akhirnya YCAB bisa memberinya kesempatan untuk menggapai mimpi setelah mendapat program beasiswa Global Sevilla. Di sekolah ini ia menemukan kembali sesuatu yang baru dan harapan yang sempat sirna. “Satu tahun saya berjuang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan tuntutan belajar yang lebih tinggi juga,” jelas Divia.

Sementara School Liaison Officer Global Sevilla School Fitri Krisnawati mengatakan, Divia adalah angkatan kedua dari siswa penerima beasiswa. Ia membawa kebanggaan untuk Global Sevilla dan YCAB karena ia merupakan siswa penerima beasiswa yang lolos pertama lewat SMBPTN dan diterima di perguruan tinggi negeri. 

“Salah satu cita-cita founders sekolah kami adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa-siswi berprestasi namun kurang beruntung secara ekonomi untuk menempuh pendidikan di sekolah kami. Hal ini kita mulai melalui program Beasiswa Global Sevilla, yakni beasiswa 100% bagi siswa-siswi berprestasi,” kata Fitri.

Pemerataan akses pendidikan merupakan salah satu nilai yang diusung Global Sevilla School. Sekolah ini juga mengedepankan pengembangan karakter yang bertumpu pada berkesadaran (mindfulness). “Diharapkan dapat memberikan kemampuan pada anak-anak untuk menyadari keadaan sekitar dan ini dicontohkan langsung oleh manajemen sekolah dengan memberikan beasiswa 100% bagi siswa-siswi berprestasi dari keluarga kurang mampu,” ujar Superintendent Global Sevilla School Michael Thia.

“Founders Global Sevilla School menginginkan sekolah menjadi tempat pendidikan yang seimbang antara akademis dan karakter. Sesuai motto sekolah kami, Nurturing Global Students with Character,” kata Michael.

Selain Divia, sejumlah prestasi telah ditoreh siswa Global Sevilla School seperti raihan prestasi dengan menyabet sejumlah medali termasuk medali emas dalam World Scholar's Cup (WSC) Tournament 2016. WSC adalah kompetisi program akademik internasional yang diikuti lebih dari 82 negara.

RECOMMENDED BY EDITOR