Brilio.net - Ada beberapa kejadian di dunia ini yang nggak bisa diterima secara nalar dan logika. Pernah mendengar cerita orang yang tubuhnya bisa keluar benda-benda seperti paku, kawat, jarum atau rambut? Bagi sebagian orang, cerita tersebut mungkin sulit diterima akal sehat. Namun tak bisa dipungkiri jika memang ada beberapa orang yang pernah mengalami kejadian serupa.

Pada 2012 lalu, publik pernah dihebohkan dengan pemberitaan mengenai seorang perempuan bernama Supiyati yang di dalam tubuhnya bersarang ribuan paku. Pemberitaan tersebut ramai menghiasi headline media cetak, online hingga televisi. Banyaknya paku yang bersarang dalam tubuh Supiyati membuat dirinya dijuluki sebagai manusia paku.

Paku-paku yang ada dalam tubuh Supiyati menjadi hal ajaib dan tentu mengerikan bagi sebagian orang. Pasalnya, tak ada yang bisa menjelaskan secara logika bagaimana benda-benda tersebut bisa bersarang dalam tubuh manusia, termasuk ilmu medis sekalipun. Paku-paku tersebut pun baru ada dalam tubuh Supiyati secara tiba-tiba saat usianya menginjak 24 tahun pada 2011.

Supiyati manusia paku  © 2019 brilio.net

foto: brilio.net/Ivanovich Aldino

Loading...

"Awal pertama saya ngerasain sakit. Habis sore lagi sama teman, mau buat undangan pernikahan. Malamnya saya langsung pingsan, satu minggu pingsan. Itu sembuh. Besoknya saya nikah, turun dari pelaminan pingsan lagi sampai satu minggu. Sembuh, sakit perut sampai minggu lagi. Perutnya gede kayak orang hamil," ujar Supiyati menceritakan awal mula rasa sakitnya kepada brilio.net, Jumat (23/8).

Kejadian aneh yang dialami Supiyati tak berhenti di situ. Usai sembuh dari perutnya yang membesar bak orang hamil, Supiyati kemudian kembali tak sadarkan diri selama 35 hari lamanya. Dunia medis menyebut jika Supiyati mengalami koma. Selama tak sadarkan diri, Supiyati tak tahu apa yang dilakukan keluarganya untuk membuatnya sadar kembali. Ia seperti sedang melakukan perjalanan panjang di alam lain.

"Tapi kalau dari sana (alam lain), jiwa kita itu ditinggal. Yang bilang itu orang sana (orang alam lain), 'Jiwa kamu itu digenggam. Digenggam itu, kalau Allah kembalikan ya nanti kembali, tapi kalau Allah genggamannya dilepas kamu meninggal'. Seperti itu," sambung Supiyati.

Kejadian tersebut dialami Supiyati saat dirinya masih tinggal di tempat asalnya, Ogan Komering Ulu, Palembang, Sumatera Selatan. Ujian yang didapat Supiyati tak berhenti sampai situ saja. Usai sadarkan diri dari koma 35 hari, Supiyati merasakan sakit lain seperti tersiram air panas yang membuat badannya melepuh selama enam bulan lamanya. Rasa sakit tersebut menjadi awal mula kemunculan paku-paku dalam tubuhnya.

"Di situ baru ada barang-barang, benda-benda asing kayak paku. Saya nggak tahu. Tahunya pas saya jalan, ada yang jatuh sendiri. Kan satu ini (satu titik pada bagian tubuh) ada 20-an. Satu lubang itu lebih dari 20-an (paku)," paparnya.

Rentetan kejadian yang dialami Supiyati tersebut juga membuatnya menjalai pengobatan dengan berbagai cara. Tak hanya secara medis, pihak keluarga juga melibatkan para pemuka agama seperti ustaz, serta orang pintar. Saat berobat ke rumah sakit, pihak rumah sakit tak menemukan apa-apa dalam tubuh Supiyati. Namun ceritanya justru berbeda saat dirinya sudah kembali di rumah.

"Jadi kalau dirontgen itu sama sekali nggak ada (benda-benda asingnya). Jadi kalau pas diambil ustaz itu bisa, tapi kalau sudah diambil itu ada lagi," ingat Supiyati.

--

Tak ada perubahan, keluarga membawa Supiyati ke Jogja

Upaya pengobatan selama 15 bulan yang dilakukan keluarga tak membawa hasil, membuat pihak keluarga memutuskan untuk membawa Supiyati ke Yogyakarta. Sesampainya di Kota Gudeg, Supiyati sempat menjalani pengobatan dengan orang pintar, namun hasilnya tetap sama, tak ada perubahan. Keluarga akhirnya memutuskan membawa ke Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul.

Supiyati manusia paku  © 2019 brilio.net

foto: Dokumen pribadi Supiyati

Supiyati ingat betul dengan kondisinya yang masih sakit karena banyaknya paku yang masih ada di tubuhnya. Perempuan berhijab tersebut merasakan badannya panas ketika benda-benda tersebut masuk dalam tubuhnya. Tak hanya itu, Supiyati juga seperti orang bingung dan tidak tahu apa-apa ketika ditanya orang lain.

"Panas, badannya panas. Nanti kalau ditanya saya bingung sendiri kalau ditanya. Jadi setiap masuk (paku) kayak gitu panas. Tapi kan saya bisa lihat orang yang masukin, orang yang nggak kelihatan orang lain," jelas Supiyati.

Dalam buku 'Supiyati Manusia Paku' yang ditulis Dr Sagiran, Supiyati datang ke rumah sakit pertama kali dengan kondisi di mana kedua tungkai bawah dan kakinya penuh luka-luka, bengkak dan bernanah. Terlihat jelas ada beberapa benda asing yang menancap di kedua tungkai serta telapak kaki yang terdapat banyak jarum.

Melihat kondisi Supiyati yang seperti itu, dokter kemudian langsung memberikan pertolongan darurat. Pada kedatangan pertama Supiyati, tiga paku dan satu gulungan rambut diambil dari kaki kanannya serta dua paku dari kaki kirinya. Selama 18 hari berada di rumah sakit, proses pengobatan yang dilakukan Supiyati tidaklah berjalan mudah.

Selain melakukan proses pengobatan secara medis seperti operasi, Supiyati juga menjalankan proses rukiah yang juga dilakukan langsung oleh Dr Sagiran. Proses rukiah dilakukan untuk mengeluarkan paku, kawat dan jarum dalam tubuh Supiyati setelah berbagai rentetan kejadian aneh. Seperti munculnya kembali paku usai proses operasi dilakukan, atau munculnya paku di lokasi lain yang tak sesuai hasil rontgen.

Supiyati manusia paku  © 2019 brilio.net

foto: Dokumen RS Nur Hidayah

"Setiap dirontgen kan kelihatan barangnya, tapi setiap mau diambil itu barangnya pindah. Jadi dirukiah," kata Supiyati.

Selama belasan hari di rumah sakit, ribuan paku dan benda-benda lainnya dalam berbagai ukuran dan bentuk sudah keluar dari dalam tubuh Supiyati baik itu lewat tindakan operasi dan rukiah. Bekas-bekas operasi pun kini masih tertinggal di kaki dan sebagian tangan Supiyati. Supiyati diperbolehkan pulang ke rumah setelah melewati masa penyembuhan di mana ia sudah bisa menjalankan dzikir sendiri.

Supiyati manusia paku  © 2019 brilio.net

foto: Dokumen pribadi Supiyati

Meskipun sudah diizinkan pulang, penderitaan yang dialami Supiyati tak lantas berhenti begitu saja. Saat kembali ke rumahnya di Dlingo, Imogiri, Supiyati masih mengalami kejadian-kejadian seperti sebelumnya. Hal tersebut sempat membuat tim rumah sakit datang ke rumahnya untuk merukiah Supiyati. Tak hanya itu, tim rumah sakit juga mengajari Supiyati untuk melakukan proses rukiah mandiri agar dirinya bisa melawan rasa sakit tersebut.

"Rukiah mandiri, diajari dari tim rumah sakit. Seperti itu kan lama-lama kita harus melawan diri kita sendiri gitu lho. Dari situ lah, pelan-pelan (bisa mengatasi dirinya sendiri)," ujar Supiyati.

Masa penyembuhan yang dilakukan Supiyati pun tak sebentar. Usai keluar dari rumah sakit, perempuan berusia 31 tahun ini masih mengalami kejadian serupa meski barang-barang yang dikeluarkan tak sebanyak saat awal. Supiyati pun sudah paham betul apa yang harus ia lakukan saat badannya merasa tidak beres.

Selain jumlahnya benda-benda yang dikeluarkan tak sebanyak dulu, rasa sakit yang dialami Supiyati pun tak sesering dulu. Ia baru benar-benar merasa sembuh, dengan kata lain tak ada paku, kawat dan jarum yang keluar dari tubuhnya pada 2017. Meskipun benda-benda asing sudah tak keluar, namun Supiyati tetap memiliki penglihatan kepada makhluk-makhluk tak kasat mata.

"Yang terakhir itu pas ngisi di Semarang itu ada paku panjang banget sepulpen ada foto (mantan) suami digulung pakai kayak rambut tapi bukan rambut. Pas saya buka, lho ini kan foto yang ada di buku nikah," terang Supiyati.

--

Sudah memaafkan pelaku dan semangat menjalani lembaran baru

Supiyati menyadari bahwa apa yang ia alami selama ini bukanlah sakit biasa. Supiyati menyadari hal tersebut setelah berbagai rentetan kejadian aneh terjadi pada dirinya. Perempuan yang kini akrab dipanggil Shofi ini juga mengetahui siapa pelaku yang mengirimkan benda-benda tersebut.

"Tapi pas menikah dulu saya sudah tahu tingkah laku si (calon) suami. Saya kan membatalkan, jadi lebih baik kita saudaraan. Tapi dia bilang, 'Oh, ya nggak apa-apa'. Dia terima. Nah, tapi kan beberapa bulan kemudian saya tunangan sama orang lain. Terus dia ini nyari dukun ke mana-mana  biar bisa kena si tunangan," kata Supiyati.

Meskipun disiksa selama bertahun-tahun dengan sakit yang tak masuk di akal, namun tak ada dendam di dalam diri Supiyati dan keluarga. Sebaliknya, Supiyati sudah memaafkan tindakan orang yang menyakitinya tersebut. Baginya, biar Tuhan yang membalas semua tindakan orang yang menyakitinya.

"Ya, saya maafkan. Saya dan keluarga nggak ada dendam, ya pokoknya saya maafkan. Keluarga saya nggak dendam, saya juga nggak ada. Jadi biar Allah yang balas semuanya, kitanya tetap tawakal," ujar Supiyati.

Bukan hal mudah bagi Supiyati saat melewati masa sakitnya. Diakuinya masa-masa tersebut menjadi momen tersulit dalam hidupnya. Meskipun berat, tak ada rasa menyerah dalam dirinya. Perempuan kelahiran 1988 ini hanya memasrahkan dirinya pada sang pemilik hidup.

Supiyati manusia paku  © 2019 brilio.net

foto: brilio.net/Syamsu Dhuha FR

Selain harus menahan rasa sakitnya yang membuatnya hanya terbaring di tempat tidur, Supiyati juga harus menghadapi berbagai tanggapan miring orang-orang yang sempat meragukan sakitnya. Tak sedikit yang menduga jika Supiyati hanya mengada-ngada soal sakitnya tersebut.

"Ya kalau yang kayak gitu (orang nggak percaya) banyak banget. Saya dikira sakit itu dibuat sendiri. Tapi ya sudah biarin saja," kenang Supiyati.

Supiyati tak mau terlalu memikirkan apa kata orang. Baginya yang terpenting saat itu adalah kekuatan dirinya untuk melewati cobaan tersebut. Kisah Supiyati pun membuat dirinya banyak dicari orang yang juga mengalami hal yang sama. Mereka ingin mengetahui bagaimana Supiyati bisa bertahan mengalami rasa sakit tersebut.

"Ya saya bilangnya pasrah saja sama Allah. Mau orang ngomong apa ya biarin aja, yang penting kita nggak ngurusin dia. Yang penting kita kuat, orangtua masih mendukung, keluarga juga, jadi kalau ada orang mau ngomong apa ya sudah biarin aja seperti itu," ujar Supiyati.

Kehadiran serta dukungan orangtua yang diberikan dan perjuangan Supiyati untuk bertahan akhirnya berbuah manis. Setelah bertahun-tahun melawan rasa sakitnya tersebut, Supiyati kini semakin semangat menjalani lembaran baru dalam hidupnya. Supiyati pun kini sudah menjalani hidup normal meski sesekali masih merasakan sakit karena bekas operasi.

"Saya semangat, semangat sekali. Saya kan sudah sembuh. Cuma kadang kalau buat berdiri masih sakit. Kalau berdiri lama. Soalnya kan bekas-bekas (operasi) di kaki masih banyak," katanya.

Kejadian yang dialaminya juga memberikan pembelajaran yang sangat berharga dalam hidup Supiyati. Tak hanya untuk dirinya, Supiyati juga ingin pengalamannya tersebut bisa menjadi pembelajaran berharga bagi orang lain agar tidak ada lagi yang mengalami kejadian seperti dirinya.

"Ya itu penting buat pembelajaran kita semua. Jangan lagi ada orang seperti itu. Saya selalu bilang, sudahlah cukup saya yang ngerasain sakitnya, Masya Allah banget. Jadi jangan ada orang lagi lah," pungkas Supiyati.

RECOMMENDED BY EDITOR