Brilio.net - Tunari merupakan seorang tukang pijat keliling yang tidak pernah mematok harga kepada setiap kliennya. Pada usia yang sudah mencapai angka 56 tahun, Tunari masih bersemangat untuk mencari uang demi anak-anaknya. Ia memiliki tiga orang anak yang masih mengenyam pendidikan, satu anak laki-laki yang sedang kuliah dan dua anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP dan SD.

Tukang pijat keliling ini tinggal di Desa Simpar, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Meski dibayar dengan sukarela, Tunari tidak mempermasalahkannya karena yang ia cari adalah keberkahan.

"Profesi tukang pijat ini sudah dijalani mulai tahun 1992 sampai sekarang," jelas Tunari saat ditemui brilio.net, Jumat (11/11).

Tunari menceritakan, keahliannya dalam memijat tidak pernah ia sadari sebelumnya. Semua berawal saat ia menjadi kuli bangunan di sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat rumah pijat. Rumah praktik pijat itu dibuka oleh seorang ahli pijat bernama Herman. Bukan sembarang orang, nama Herman sudah melegenda di kalangan masyarakat sekitar.

Setelah pembangunan rumah praktik selesai, beberapa hari kemudian Tunari dipanggil oleh Herman untuk datang ke tempatnya lagi. Hal tersebut menimbulkan rasa penasaran Tunari.

"Kenapa ya, kok disuruh balik lagi?" ucap Tunari.

Mendengar kabar tersebut, keesokan harinya Tunari langsung berangkat ke rumah praktik yang ia bangun tersebut.

"Sesampainya disana kira-kira pukul 16.30 WIB, saya masuk ruangannya Pak Herman. Ketika saya ingin duduk, Pak Herman bilang 'kamu keluar dan apabila berhasil mendapatkan hadiah'," tuturnya.

Tunari langsung bergegas untuk keluar ruangan dan melihat keadaan di luar. Namun ia tidak melihat apapun selain dua orang yang sedang merintih kesakitan karena luka di tangan. Setelah itu, Tunari kembali masuk ke ruangan dan memberi tahu Herman tentang kondisi yang ia lihat di luar.

Pak Tunari tukang pijat tenaga dalam © 2022 brilio.net

foto: brilio.net/Feni Listiyani

Kemudian Herman menjelaskan maksud dari kalimat "kamu keluar dan apabila berhasil mendapatkan hadiah", ternyata Herman menyuruh Tunari untuk menyembuhkan pasien yang ada di luar ruangan tersebut. Dengan raut muka kebingungan, Tunari akhirnya memberanikan diri untuk menyembuhkan orang tersebut dengan bekal mengingat gerakan yang dilakukan Herman ketika memijat pasiennya. Hanya berbekal yakin dan ingatan, akhirnya Tunari bisa menyembuhkan dengan usapan tangannya.

 

 

Mgg: FENI LISTIYANI

 

(brl/jad)

RECOMMENDED BY EDITOR