Brilio.net - Saat ini sudah banyak perabotan rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik beredar di pasaran. Keberadaannya yang murah ternyata membuat kerajinan dari bambu, seperti keranjang buah, semakin tergusur. Apalagi produksi dengan manual tangan tak bisa memenuhi pangsa pasar yang banyak.

Meskipun sudah banyak perabotan rumah tangga dari bahan plastik, ternyata kerajinan dari bambu seperti keranjang buah, bakul, tampah, dan lainnya masih bisa bersaing. Sayangnya, perajin bambu itu tak mampu bersaing dalam jumlah kuantitas karena masih menggunakan proses manual.

Melihat fakta itu, lima mahasiswa D3 Teknik Mesin Produksi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) membuat inovasi berupa mesin penyayat bambu semi otomatis dengan sistem pneumatik untuk membantu para perajin bambu. Lima mahasiswa itu adalah Alfiana Nur Hidayati, Muhamad Faisol, Sarlita Pigafeta, Febby Ayu Ramadhani, dan Lukman Santoso Fittra Abdurrochman. Ide lima mahasiswa ini menjadi salah satu Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan teknologi yang didanai oleh Dikti Kemenristek.

mesin penyayat bambu ITS © 2016 brilio.net

Faisol, salah satu anggota menerangkan, ide untuk membuat alat tersebut ada setelah melihat studi kasus di Magetan yang merupakan salah satu sentra perajin bambu di Jawa Timur, baik skala rumah tangga maupun industri kecil menengah. Proses menyayat bambu di sana kebanyakan masih secara manual menggunakan pisau.

"Hasil tebal sayatan yang didapatkan tidak teratur sehingga hasil kerajinan kurang maksimal. Selain itu proses menyayat manual akhirnya memakan waktu yang lama sehingga perajin kurang bisa menggenjot kuantitas barang yang dihasilkan," terang Faisol kepada brilio.net, Minggu (19/6).

mesin penyayat bambu ITS © 2016 brilio.net

Dari studi kasus tersebut, akhirnya mereka terpikirkan untuk membuat mesin penyayat semi otomatis dengan sistem pneumatik. Alat tersebut dilengkapi dengan rangkaian dua mata pisau bersistem elektro pneumatik sehingga akan menghasilkan sayatan yang lebih banyak dengan tebal yang sesuai kebutuhan. Dengan adanya alat ini, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dari industri skala rumah tangga kerajinan bambu karena memiliki efisiensi yang tinggi.

BACA JUGA: 10 Trik praktis sehari-hari yang bikin hidupmu dijamin nggak repot

"Jika menyayat manual, satu sayatan membutuhkan waktu sekitar 30 detik. Sementara menggunakan mesin ini, satu kali proses menghasilkan enam sayatan hanya dalam waktu enam detik saja," ungkapnya.

Secara manual, lanjut Faisol, perajin hanya dapat menghasilkan 100 sayatan per jam sedangkan alat ini dapat memproduksi lebih dari 500 sayatan per jam. Dengan begitu, diharapkan alat ini juga dapat meningkatkan pendapatan dari para pengrajin bambu, yang semula hanya sekitar Rp 30.000 per hari akan menjadi Rp 150.000 per hari.

"Kami ingin kerajinan bambu yang menjadi tumpuan banyak orang tetap bisa bertahan dan tak surut akibat banyaknya produk-produk non bambu," pungkasnya.