Brilio.net - Sebagai bangsa Indonesia pastinya kira seringkali merasa bangga akan batik sebagai warisan budaya bangsa. Terlebih sejak tahun 2009, batik telah mendapat pengakuan internasional dan secara resmi menjadi bagian dari Daftar Representatif Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia.

Secara tidak langsung, batik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Selain di rumah, kini batik khas Indonesia digunakan untuk bekerja, acara keluarga hingga berbagai acara-acara resmi. Batik juga mudah ditemukan dalam berbagai bentuk serta tingkatan. Baik batik dalam bentuk kain, produksi massa pakaian jadi, maupun berbagai produk handmade yang terbuat dari batik.

Maka tak heran, kini desainer batik Indonesia semakin banyak dan inovatif. Teknik yang digunakan para desainer ini pun beragam. Mulai dari teknik membatik tradisional yang dilakukan dengan tangan, menggunakan canting tulis, pewarnaan tahan-lilin pada tekstil, hingga menggunakan kibasan sabut kelapa.

Seiring dengan perkembangan kreasi batik saat ini membuat wanita asal Bantul, Sumarni Alisha Aprilia menciptakan pola baru dalam industri batik. Perempuan yang berhasil menjadi Duta Pemuda Kreatif Indonesia 2017 ini menjadikan kibasan sabut kelapa menjadi pola yang bisa menjadi tren baru dan bernilai tinggi.

Arni Sabut Kelapa  © 2018 brilio.net

foto: brilio.net/ Farika Maula

Perempuan yang akrab disapa dengan nama Arni Alisha ini mengaku terinspirasi membuat pola kibasan sabut kelapa sebagai pengganti canting untuk membatik di atas kain. Saat ditemui tim brilio.net di kediamannya pada Selasa (18/12/2018), Arni mengaku bahwa ide awal karya ini saat ia ingin menyelesaikan tugas akhir atau skripsinya.

"Aku terinspirasi sejak aku ngerjain skripsi. Aku mencoba membuat pola dari sabut kelapa yang aku buat sendiri. Ternyata dari goresan sabut kelapa itu menghasilkan pola yang berbeda-beda," ujarnya saat diwawancarai oleh tim brilio.net.

Arni Sabut Kelapa  © 2018 brilio.net

foto: brilio.net/ Farika Maula

Dari sabut kelapa tersebut Arni berhasil membuat pola baru dalam dunia batik yang ia beri nama pola kuas mekar, kuas gandeng dan pola kuas love. Ketiga kuas sabut kelapa tersebut masing-masing menghasilkan goresan pola yang berbeda-beda saat ditorehkan di atas kain putih.

Pola batik sabut kelapa berbeda dari batik tulis.

Berbeda dengan batik tulis atau cap yang polanya lebih beraturan, pola batik kibasan sabut kelapa ini menghasilkan pola yang beragam. Setiap kibasan yang dihasilkan di atas kain berbeda dengan kibasan sebelumnya.

Selain itu, masing-masing kuas sabut kelapa yang dibuat Arni ini menghasilkan corak yang berbeda. Ciri khas dari batik ini adalah goresan dan bercakan dari masing-masing kuas yang dihasilkannya.

Arni Sabut Kelapa  © 2018 brilio.net

foto: brilio.net/ Farika Maula

Maka, untuk kamu yang tertarik dengan batik jenis ini jangan khawatir, karena ada orang lain yang menyamainya. Pasalnya, setiap pola yang dihasilkan dari goresan sabut kelapa ini berbeda-beda.

Soal ketahanan kuas sabut kelapa, Arni menjelaskan bahwa kuas dari sabut kelapa ini dapat bertahan hingga bertahun-tahun tanpa merusak pola. Cara pembuatannya pun sangat mudah. Selain dapat memanfaatkan limbah kelapa, harga jualnya pun fantastis. 

Beberapa motif yang telah dihasilkan oleh perempuan berusia 25 tahun ini pun beragam. Dari mulai batik Gantungan Ukel, Titik Telu, Pitakonan hingga batik yang bercorak Plesiran. Beberapa batik karya Artniq Batik ini telah dipasarkan secara manual dan online.

Arni Sabut Kelapa  © 2018 brilio.net

foto: brilio.net/ Farika Maula

"Saya sejauh ini masih jualan lewat Instagram sih, sama kadang nerima pesanan souvenir dari acara-acara resmi. Belum ada dana kalau mau buka toko," pungkasnya saat diwawancarai tim brilio.net.

Meski jenis batik kibasan sabut kelapa ini cenderung baru, namun Arni tetap berjuang untuk memasarkan agar dikenal oleh publik, khususnya masyarakat Yogyakarta.

Usahanya dalam memasarkan karyanya tersebut ia lakukan dengan mengadakan beberapa workshop bersama para mahasiswa, ibu-ibu hingga orang asing yang ingin belajar membatik. Tak hanya pola membatik dengan kibasan kelapa, Arni juga menguasai teknik batik menggunakan canting.

Pola kibasan sabut kelapa yang berbeda, membuat karyanya mempunyai nilai yang tinggi. Arni mengaku menjual kain batik kibasan sabut kelapanya tersebut mulai dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 12 juta. Arni pun merima pesanan batik sesuai dengan permintaan konsumen. Dari yang bergambar wayang dengan pewarna alami hingga gambar bunga dan daun dengan pewarna sintetis.

"Aku juga kadang buat batik sesuai pesanan. Misalnya maunya apa gambar wayang atau apa. Aku menyesuaikan aja," imbuhnya.

Dalam sebulan ia mampu menghasilkan 10 karya batik kibasan kelapa. Proses pembuatan batiknya pun ia mengaku tak melibatkan orang lain. Ia melakukan sendiri setiap ada pesanan atau saat akan melakukan pameran.

Batik membawa Arni ke berbagai negara di dunia.

Selain jualan online dan offline, Arni juga sering mengikuti event nasional maupun internasional. Baru-baru ini Arni mengikuti acara Future Leader Camp Batik Festival di Kyoto, Jepang. Ia mempresentasikan karya-karya tersebut di depan para peserta workshop dan para petinggi negera termasuk Kedubes Jepang.

Arni Sabut Kelapa  © 2018 brilio.net

foto: dok. pribadi Arni Alisha

Dalam event tersebut Arni mengaku banyak yang membeli karyanya. Batik yang berhasil terjual di pasar internasional pun berjumlah 70 buah. Bagi Arni hal tersebut merupakan prestasi yang luar biasa. Namun saat ini Arni masih dalam perjuangan untuk mendapat hak cipta dari karyanya tersebut.

Arni Sabut Kelapa  © 2018 brilio.net

foto: brilio.net/Farika Maula

"Rencanaku dalam waktu dekat ini paling dapat hak cipta, biar nggak ada yang plagiat karyaku," ujarnya.

Selain Kyoto, Arni juga pernah mengikuti berbagai event di Malaysia dan Singapura. Di sana ia juga mempresentasikan karya batik dari sabut kelapa dan memamerkan beberpa karyanya.