Brilio.net - Pukul 10 pagi menjelang siang adalah jam-jam tanggung untuk mencari makanan. Waktu sarapan telah lewat namun waktu makan siang hanya tinggal beberapa jam lagi. Namun motor ini tetap menuntun ke halaman parkir Rumah Ori, rumah makan yang terletak di Jalan Titi Bumi Barat No 99, Gamping, Sleman.

Tak ada yang spesial dari kedai makan ini, tampilan luarnya sederhana senada dengan menu ala masakan rumahan yang sederhana pula. Namun bisnis rumah makan yang hanya berawal dari hobi ini bisa mengubah nasib hidup keluarga Muhammad Imam Bukhori, sang pemilik.

Sambil menyantap ayam kimbok, menu andalan rumah makan ini, brilio.net berkesempatan berbincang dengan pria yang akrab disapa Ori itu. Pemuda asli Suryakarta, Mesuji Makmur, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan ini mendirikan Rumah Ori saat menginjak semester tiga pada kuliahnya. Bisnis kuliner yang sedang tumbuh di Jogja dimanfaatkan Ori yang notabene hobinya adalah memasak.

"Melihat peluang (bisnis) makanan di Jogjakarta itu lumayan pasarnya. Berjalan sampai semester empat, berhenti jualannya karena saya student exchange ke Malaysia, tapi di sana Rumah Ori masih tetep eksis," ucap Ori.

kisah pemilik rumah ori © brilio.net

Loading...

foto: Instagram/@rumahori

Namun tak disangka pada tahun 2013, ia mendapatkan kabar bahwa usaha yang dirintis ayah dan ibunya harus kolaps. Bahkan setelah semua aset dijual, masih ada utang piutang yang belum terselesaikan. Oleh sebab itu, pria 24 tahun ini harus cuti kuliah total selama tiga tahun karena tak dapat sokongan dana dari orangtua.

Ori pun pulang untuk melihat kondisi keluarga yang pindah ke Kampung Sungai Lilin, Sumatera Selatan, pasca kolaps. Ternyata tempat keluarganya di kampung terpencil ini memang tak memadai. Selain itu kedua adiknya pun harus putus kuliah karena memang kondisi finansial keluarga yang pada waktu itu tak memungkinkan.

Ori pun bertekad untuk mengambil tindakan serius dari bisnis kuliner yang pernah ia kembangkan. Dari awalnya hanya sekadar hobi, menjadi prioritas utama untuk pemasukan yang nantinya akan membantu finansial keluarga.

"Akhirnya mindset-nya Ori ganti, prioritasnya ganti, sekarang kalau jualan ya buat keluarga. Buat bantu-bantu finansialnya orang rumah. Lebih serius lagi, gitu," jelas pria yang saat itu mengikat rambutnya.

Tak mau keluarganya tinggal di tempat yang tak layak, Ori pun memutuskan untuk membawa satu per satu keluarganya ke Jogja mulai tahun 2014. Sampai pada awal 2017, pria lulusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini berhasil membawa 12 anggota keluarganya ke Kota Pelajar. Tentu saja dari uang yang dihasilkan dari bisnis kulinernya tersebut.

Beruntungnya ia memiliki teman-teman yang sangat mendukung keberlangsungan hidup dan usaha yang Ori rintis ini. Mereka sangat berkontribusi besar untuk kesuksesan yang Ori raih sampai sekarang. Dari mulai meminjamkan dana untuk modal bisnis, sampai memberikan pekerjaan di Amerika Serikat.

kisah pemilik rumah ori © brilio.net

foto: dok. pribadi/brilio.net

Matahari semakin tinggi, driver Go-Jek dan Grab silih berganti mengambil pesanan yang dipesan pelanggannya. Sambil menyeruput es susu cokelat, Ori mulai menceritakan pengalamannya sebagai tenaga kerja ilegal di Amerika Serikat. Pemasukan yang belum mencukupi, sementara pengeluaran kian membengkak membuat Ori mengiyakan ajakan temannya untuk mencari kerja di Negeri Paman Sam.

"Teman ada yang menjanjikan mau bisa kasih kerjaan, ya udah berangkat ke sana. Pada akhirnya dapat kerjaan," ucap pemilik Rumah Ori ini.

Bekerja sebagai juru masak di San Fransisco selama dua pekan, rupanya masalah kembali terjadi. Gajinya tak bisa cair karena VISA yang ia punya adalah kunjungan, bukan untuk bekerja. Namun karena memiliki keterampilan sangat baik, ia tetap dibayar bahkan sempat jadi juru masak di acara Broadway Show dan New York Fashion Show. Ia habiskan waktu tiga bulan di Amerika Serikat sebelum akhirnya pulang lagi ke Jogja untuk melanjutkan skripsi yang tertunda.

Berkat tekad kuat untuk menghidupi keluarga serta melanjutkan kuliahnya, saat ini Ori telah menyandang gelar sarjana pada 10 Februari 2018 lalu. Ia juga mampu kembali menyekolahkan kedua adiknya ke bangku kuliah serta dua sepupunya di SMA.

Di mata ayah dan adiknya, Ori merupakan orang yang sangat bertanggung jawab. Mutia sang adik pertama mengatakan, ia sudah dekat dengan kakaknya sedari kecil. Mahasiswi Universitas PGRI Yogyakarta ini mendeskripsikan sosok kakak sebagai orang yang sangat memperhatikan keluarganya.

kisah pemilik rumah ori © brilio.net

foto: umy.ac.id

Senada dengan anak keduanya, ayah Ori juga berkata demikian. Padahal, Ori ini dikenal sebagai anak yang jarang berkumpul dengan keluarga. Hal itu disebabkan sejak SD ia telah merantau ke Lampung untuk bersekolah di sana. Hingga akhirnya mimpi untuk kuliah di Jogja bisa terwujud. Meski begitu, pria 24 tahun ini tetap menomorsatukan keluarganya meski jauh.

"Dari kecil memang sering pisah (dengan keluarga). Waktu SD itu sekolah di Lampung. Terus ya ini bisa kuliah di Jogja," ucap ayah Ori yang baru tinggal satu tahun di Jogja ini.

Bisnis rumah makan dengan konsep sederhana ini sekarang telah berkembang pesat. Rumah Ori saat ini memiliki dua cabang, Rumah Ori 1 terletak di sebelah SMK Pelayaran, Gamping, Sleman dan Rumah Ori 2 terletak di belakang kampus UMY, Kasihan, Bantul.

Semula hanya iseng-iseng bisnis karena hobi, namun siapa sangka, keisengan Ori ini ternyata berbuah manis untuk hidupnya serta keluarganya.