Brilio.net - Selama ini atau mungkin sampai hari ini masih ada anggapan stereotip bahwa perempuan itu tidak bisa mengungguli laki-laki dari sisi prestasi. Perempuan selalu saja ditempatkan sebagai subordinat dari laki-laki.

Padahal di era digital saat ini, sudah banyak bukti bahwa tidak sedikit perempuan yang justru mampu bersaing bahkan memimpin di bidang yang didominasi kaum lelaki. Sebut saja di dunia teknologi yang selama ini selalu dianggap sebagai dunia lelaki.

Saat ini banyak perempuan yang justru piawai memimpin perusahaan teknologi. Tidak sedikit mereka justru menjadi inspiratif bagi banyak perempuan lain, termasuk kaum laki-laki. Salah satunya Amelia Hendra, VP of Design Traveloka.

Perempuan yang lahir dan besar di Pontianak, Kalimantan Barat ini, merupakan satu dari sekian banyak perempuan yang tangguh bertengger sebagai salah satu pemimpin di lifestyle superapp seperti Traveloka. Perempuan yang menghabiskan masa SMA di Jakarta ini punya perjalanan panjang sebelum menduduki posisinya seperti sekarang.      

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Saat terjadi peristiwa kerusuhan pada 1998 silam, tempat tinggal Amel—begitu dia biasa disapa—yang merupakan toko bangunan milik pamannya dijarah. Karena orangtuanya khawatir terjadi sesuatu, Amel pun dikirim untuk melanjutkan pendidikan ke Kuching, Malayasia. Amel mengambil pendidikan bidang bisnis karena sang ayah adalah seorang entrepreneur.

Meski dapat menyelesaikan pendidikan dan lulus D1, Amel merasa bisnis bukan passion yang akan dia tekuni selanjutnya. Akhirnya ia memilih desain sebagai jalan berikutnya. Jalan inilah yang akhirnya mengubah karier Amel.     

Sosok VP Desaign Traveloka © 2021 brilio.netSaat meraih gelar Master of Philosophy in Education dari Universitas Cambridge (dok.pribadi)

“Aku diperkenalkan desain oleh mama teman baikku. Cukup penasaran ingin mencoba. Akhirnya berhasil meyakinkan papa untuk dapat mengejar karier di bidang desain, dan desain itu bukan hanya weekend hobby,” kisah Amel kepada Brilio.net.

Selanjutnya Amel menempuh pendidikan D3 Desain Komunikasi Visual di Singapura. Rupanya ia sangat menikmati  belajar dan bereksperimen konsep dan estetika desain selama dua tahun. Pada tahun 2002, ia mendapatkan pekerjaan pertama di studio kecil di Jakarta sebagai desainer grafis.

“Tugasku mendesain brosur, kemasan, logo, laporan tahunan cetak, dan menjadi art director untuk beberapa photo shoots. Aku belajar banyak hal tentang project dan client management yang menjadi tambahan pondasi desainku,” lanjut Amel.

Tak puas dengan gelar diploma yang sidandangnya, Amel pun memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 pada 2003. Alasannya sih  karena ingin belajar cara berpikir yang lebih sistematis. Awalnya ia berpikir ingin mengambil studi S1 Psikologi di Australia.

Padahal saat itu ia sudah diterima di University of New South Wales (UNSW). Namun karena terbentur problema ekonomi yang dihadapi keluarga, akhirnya ia mengambil beasiswa S1 lanjutan di Raffles Design Institute di Singapura yang ditawarkan karena sebelumnya lulus D3 dengan Academic Excellence.

“Bersyukur sekali satu dekade setelah S1, aku juga mendapatkan gelar S2 dengan distinction di bidang pendidikan dari Cambridge University (Inggris) di tahun 2014,” kenang Amel.

Menetap di Beijing 

Traveloka © 2021 brilio.net

Nah saat mengejar jenjang  S2, Amel pernah menetap di Beijing selama 3 tahun. Di sana ia berkarier sebagai seorang dosen Desain Komunikasi Visual dan turut mendirikan studio branding.

Kemudian ia pindah ke Shanghai dan selama 6 tahun bekerja sebagai Brand Design Consultant di The Brand Union, Project Lead di IDEO (konsultan global desain dan inovasi), dan Creative Director di Kerry Kidz (klub bermain yang fokus di pembangunan karakter untuk anak-anak pertama di Tiongkok).

“Selama dekade itulah aku banyak belajar dari rekan kerja, mentor senior, bahkan klien, dan mengaplikasikan design thinking mindset untuk mendesain, me-manage tim, anak didik dan proyek, bernegosiasi dan kolaborasi cross-discipline di setiap kesempatan yang ada,” terang Amel. 

Sebelum bergabung di lifestyle superapp Traveloka, selama 4 tahun Amel banyak mengambil proyek-proyek freelance sebagai konsultan desain dan pendidikan yang menangani klien-klien di sektor komersial maupun nirlaba. Para klien tersebut berasal dari berbagai negara Asia, seperti Tiongkok, Singapura, Filipina, hingga Hong Kong.

Beberapa klien diantaranya 3M untuk desain produk filter air, Samsung untuk desain Smart TV, pemerintah Singapura untuk riset pertumbuhan populasi dan perumahan rakyat, dan Volvo untuk riset mobil listrik.

“Di waktu luang aku dan teman di Somia Academy mengadakan pelatihan masterskill metodologi human centred design, di mana aku bertemu dengan salah satu co-founder Traveloka yang ikut belajar di kelas itu,” ucap Amel.

Pertemuan tersebut menjadi pintu masuk bagi Amel untuk bergabung di Traveloka. Awalnya ia menduduki posisi Design Consultant selama 9 bulan. Karena cocok dengan kultur kerja di Traveloka, pada Juli 2019 Amel dipercaya menduduki jabatan Vice President of Design Traveloka.

Ia bertanggung jawab atas keseluruhan desain produk digital di lifestyle superapp Traveloka dan mengepalai kurang lebih 70 desainer dari disiplin Visual UI Design, Interaction Design, Product Copywriting, dan User Interface Development. “Aku sangat bersyukur bisa belajar dan bekerja bareng dengan teman-teman yang cerdas, baik, dan kreatif di Traveloka,” katanya.

Terus mengejar mimpi 

Traveloka © 2021 brilio.net

Kendati menduduki posisi prestisius di lifestyle superapp Traveloka, namun Amel tak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Ia tetap punya prioritas waktu untuk keluarga. Bahkan ia selalu menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga secara reguler melalui sambungan telepon. Amel juga selalu berkomitmen bisa traveling bersama keluarga, minimal dua kali dalam setahun.  

“Aku berkomitmen untuk bisa traveling dengan mereka. Di saat tidak bekerja, aku akan menghabiskan quality time bersama keluarga, misalnya nonton bareng, makan bareng, atau mengunjungi tempat keluarga besar,” katanya.

Bagi sebagian orang, boleh jadi posisi yang disandang Amel saat ini merupakan puncak karier. Tapi tidak demikian dengannya. Menurutnya, karier seseorang itu berbeda dengan kompetisi olahraga yang ada pemenang utamanya. Karier itu sifatnya lebih long-term dan bisa dibilang tidak ada winner dan loser ataupun finish line, kecuali orang tersebut memang ingin pensiun.

Karena itu, Amel masih ingin mengejar mimpi. Menghasilkan produk yang tepat guna dan terjangkau, bermanfaat, serta inovatif. Menurutnya, seorang desainer perlu suasana kerja yang aman, menyenangkan, dan inspiratif agar bisa merasa nyaman berkreasi.

“Itulah yang ingin aku raih, bukan hanya jabatan semata, tapi juga menemukan formula gimana caranya menciptakan organisasi desain yang lebih mature, faktor apa saja yang perlu ada untuk suasana kerja kreatif, produktif, dan tetap menyenangkan,” imbuhnya.

Karena itu ia merasa masih perlu banyak belajar bagaimana caranya agar para desainer produk digital bisa menciptakan produk dan servis digital unggulan berstandar global yang memberikan nilai tambah bagi pengguna dan stakeholders Traveloka. Apalagi keadaan dunia dan manusia bakal terus berubah dan berkembang. Karena itu Amel ingin terus mengembangkan kompetensi dan stay relevant with state of the world.

(brl/red)

RECOMMENDED BY EDITOR

(brl/red)