Brilio.net - Menghabiskan puluhan tahun demi berbuat baik bagi sesama tentu merupakan hal yang luar biasa. Itulah yang berhasil dilakukan oleh Antonio Vicente. Pria berusia 83 tahun itu rela menghabiskan 40 tahun demi menghijaukan hutan di desanya.

Antonio diketahui tumbuh besar di sebuah desa peternakan. Ia telah melihat ayahnya dan penduduk desa lainnya menebang hutan sesuai perintah pemilik. Hutan-hutan itu kemudian banyak diubah menjadi lahan untuk ternak. Pria asal Brasil tersebut telah banyak menyaksikan sumber air mengering dan penderitaan orang-orang berjuang untuk bertahan hidup.

Kakek ini habiskan 40 tahun demi hijaukan hutan © 2017 odditycentral

"Ketika saya kecil, para petani menebang pohon untuk membuat padang rumput dan arang, air tanah pun mengering dan tidak kembali," katanya seperti dikutip dari laman Oddity Central, Selasa (6/6).

"Saya berpikir: Air itu berharga, tidak ada yang bisa membuat air, dan populasi manusia tidak akan berhenti tumbuh. Apa yang akan terjadi? Kita akan kehabisan air," tambah Antonio.

Pada tahun 1973 Antonio pun bertekad untuk mengembalikan hutan di desanya. Ia membeli tanah yang telah digunduli seluas 31 hektar lewat uang pinjaman pemerintah. Ironisnya, orang-orang sekitarnya mencemooh Antonio karena dianggap telah melakukan tindakan bodoh.

Kakek ini habiskan 40 tahun demi hijaukan hutan © 2017 odditycentral

"Anda bodoh. Penanaman pohon adalah pemborosan lahan. Anda tidak akan memiliki penghasilan. Jika penuh dengan pepohonan, Anda tidak punya tempat untuk mendapatkan sapi atau tanaman," ujar Antonio menirukan ucapan tetangganya.

Antonio tidak bergeming. Dia tahu bahwa kerusakan akibat penggundulan hutan jauh lebih berbahaya daripada keuntungan finansial apapun. Pria berambut putih itu pun mulai menanam di tanah yang dibelinya. Antonio hanya dibantu oleh beberapa pekerja yang dibayarnya. Siang malam, ia menghabiskan waktunya di tanah tersebut.

Dalam 40 tahun terakhir, Antonio sudah menanam 50.000 pohon di lahan seluas 31 hektar. Tanah itu kini berubah menjadi hutan hujan kecil. Di dalamnya banyak terdapat satwa liar.

Antonio mengatakan, sekarang sudah ada lebih dari 20 sumber air di tanah tersebut. Hutan itu penuh dengan suara burung dan hewan-hewan mulai membangun rumah di dalamnya.


"Ada toucans, semua jenis burung, binatang pengerat besar yang disebut apaca, tupai, kadal, oposum, dan bahkan babi hutan pun kembali," cerita Antonio.

Data menunjukkan, hampir 8.000 hektar hutan hujan Brasil hancur antara periode Agustus 2015 hingga Juli 2016. Fakta itu membuat hutan buatan Antonio yang hanya seluas 31 hektar bagaikan setetes air di dalam kolam. Terbukti, kebaikan yang telah ia lakukan selama puluhan tahun berdampak besar bagi lingkungan sekitarnya.