Brilio.net - Bekerja di jalanan sering dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Padahal ada sisi lain dari pekerjaan jalanan yang nggak banyak orang tahu.

Seorang seniman di Yogyakarta membuktikan bahwa bekerja di jalanan tak layak dipandang sebelah mata. Pria bernama Suji Haryanto (49) ini percaya diri tampil sebagai pantomimer di jalanan. Ia menghibur secara profesional, dengan kostum yang cukup rapi.

Ditemui brilio.net di hotel Srikandi, Yogyakarta, Senin (5/2), pria yang akrab dipanggil Hary itu mengaku bermain pantomim karena hobi. Ia mulai menghibur sejak pukul 7.00-23.00 WIB. Hary totalitas tampil dengan menggabungkan seni pantomim dengan sulap.

Sebelum di Yogyakarta, pria asal Bangka Belitung ini sudah pernah keliling kota lain sebagai pantomimer. Beberapa kota sudah ia jelajahi seperti Bandung, Solo, dan Surabaya. Namun, ia kemudian menetapkan hati untuk berkesenian di Yogyakarta.

"Jogja kan kota budaya, orang lebih menghargai budaya," jelas Hary menyebutkan alasannya.

Loading...

Bekerja di jalanan bukan hal yang mudah. Menurut pria lulusan SMKI Yogyakarta jurusan teater ini masih mengaku banyak orang yang memandang sebelah mata seniman jalanan.

"Ngamen bagi mereka dipandang sebagai orang-orang yang rusak," tutur Hary.

Padahal tidak banyak orang tahu, seniman jalanan pun dapat meraup kesuksesan seperti pekerjaan lain. Pendapatan Hary tergolong tinggi. Dia mampu mengumpulkan Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta per malam. Selain turun di jalanan, Hary kerap diundang menghibur di hotel-hotel. Tarifnya menghibur di hotel cukup tinggi yakni Rp 2,5 juta per jam.

Walau aktif di jalanan, Hary termasuk seniman sukses. Ia bahkan memiliki sanggar seni Suji Dance Company di Bangka Belitung. Ia juga menjadi koreografer yang banyak dimintai jasanya.

"Saya harus menikmati itu, jenjang di bawah di mana dihargai orang dengan uang seribu rupiah," jelas Hary saat ditanya alasannya masih bekerja di jalanan.

Hary punya misi khusus kenapa tetap bekerja di jalanan. Ia ingin membuat seniman lain percaya bahwa menghibur di jalanan bukan pekerjaan buruk. "Kita bukan gelandangan, tapi orang profesional yang yang menghibur di jalan," jelas Hary.

Selain di jalanan, Hary tak jarang mengisi kelas koreografi dan pantomim di sekolah-sekolah. Kemampuan pantomimnya diakui masyarakat. "Saya ingin meluruskan pandangan masyarakat bahwa pekerja jalanan itu hanya ingin menghibur dan mempertahankan hidup," pungkas Hary.

Semoga kini seniman jalanan semakin dihargai.

RECOMMENDED BY EDITOR