Brilio.net - Wacana mengenai rekonsiliasi mencuat usai Pilpres 2019, hal ini diperoleh setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak semua permohonan yang diajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi).

Saat kabar rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo muncul, Partai Gerindra mengajukan syarat terkait upaya tersebut. Partai pimpinan Prabowo Subianto memasukkan nama pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dalam salah satu syarat rekonsiliasi dengan Jokowi.

Dilansir brilio.net dari liputan6.com, Selasa (9/7), Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani membenarkan hal itu. Selain itu Prabowo ingin para tokoh yang ditahan polisi segera dibebaskan.

"Ya keseluruhan bukan hanya itu (pemulangan Rizieq Shihab). Tapi keseluruhan bukan hanya itu tapi keseluruhan. kemaren-kemaren kan banyak ditahan-tahain ratusan orang," kata Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/7).

Ia juga menjelaskan bahwa saat rekonsiliasi tidak boleh lagi ada dendam apapun. Rekonsiliasi juga harus mampu menghilangkan perbedaan di masyarakat.

Loading...

"Atau rekonsiliasi tidak mungkin terjadi kalau kemudian suasana dan pikiran itu juga terjadi. Suasana itu harus diredakan, harus dikendurkan sehingga islah itu menjadi sesuatu yang kuat," ujar Muzani.

Muzani tak ingin jika rekonsiliasi hanya dijadikan pencitraan, tetapi menghasilkan suatu hal yang penting bagi masyarakat.

"Sehingga itu yang kita sampaikan pada kawan-kawan bahwa rekonsiliasi, islah, penyatuan, itu akan terjadi sebagai sesuatu yang genuine. Dan kita sampaikan itu, semuanya. ya tidak boleh ada proses kriminalisasi, dan seterusnya," ucap Muzani tentang Rizieq Shihab.

Menurutnya, Prabowo tidak memberikan syarat apapun lagi selain itu. Pasalnya, lanjut Muzani, yang terpenting adalah menghilangkan perbedaan di masyarakat.

"Engga ada. Pokonya yang penting adalah bagaimana perbedaan paham, perbedaan pandangan perbedaan pilihan di masyarakat ini kemudian menjadi sesau yang cari sehingga ada energi bagi bangsa Indonesia," tandas Muzani.

RECOMMENDED BY EDITOR