Brilio.net - Setiap wilayah biasanya akan merasakan cuaca dingin atau cuaca panas jika sedang memasuki musim tertentu. Belakangan ini suhu udara di wilayah Jawa terasa lebih dingin dari biasanya. Bahkan saat beraktivitas pada pagi dan siang hari udara dingin masih bisa dirasakan.

Perubahan cuaca bisa dilihat dan diperkirakan oleh para peneliti sehingga masyarakat kerap diimbau untuk bersiap menghadapi akibat dari perubahan cuaca tersebut.

Secara umum, musim yang terjadi tak akan jauh beda dari wilayah satu dengan lainnya walaupun beberapa kawasan di Eropa dan Amerika memiliki musim lebih banyak daripada di kawasan benua Asia yang dilintasi garis khatulistiwa. Namun bukan hal mustahil jika bumi juga mengalami perubahan cuaca ekstrem.

Berikut ini penjelasan secara ilmiah yang dilansir dari liputan6.com, Selasa (25/6) mengapa di Jawa mengalami suhu yang cukup dingin sedangkan di Eropa panas.

Beberapa daerah di Jawa mengalami suhu dingin yang tak biasa, bahkan sudah dirasakan oleh masyarakat sejak hampir seminggu lalu. Misalnya di wilayah Bandung, Jawa barat. Kondisi udara dingin tersebut mulai terasa saat malam hari hingga pagi keesokan harinya.

Menurut Peneliti Cuaca dan Iklim Badan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Barat, Muhamad Iid Mujtahiddin, suhu dingin di Bandung disebabkan wilayah ini sedang memasuki musim kemarau.

"Untuk Jawa Barat, periode musim kemarau datang pada bulan Juni dengan terlebih dahulu masuk di wilayah sekitar Pantura (pantai utara), kemudian bergerak ke arah selatan," kata Iid dilansir Liputan6.com, Selasa (25/6/2019).

Menurutnya puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus-September dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering.

"Dari pantauan alat pengukur suhu udara tercatat selama bulan Juni 2019 ini, suhu udara terendah tercatat sebesar 17 derajat Celcius pada tanggal 21 Juni 2019 atau hari ini," ungkapnya.

Namun tak hanya Bandung saja yang mengalami suhu dingin. Masyarakat Yogyakarta pun merasakan hal yang sama. Pada siang hari, suhu udara berada di kisaran 31 sampai 32 derajat Celcius, sedangkan pada malam hari dapat mencapai 18 derajat Celcius.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY mencatat suhu udara malam dan pagi hari di DIY perlahan naik jika dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya. Pada Minggu (23/6/2019) malam suhu udara 19 derajat Celcius, sedangkan pada 21 dan 22 Juni lalu mencapai 18 derajat Celcius.

Menurut Reni Kraningtyas, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, angin Monsoon Dingin Australia dominan bertiup saat musim kemarau. Kondisi ini turut menyumbang suhu udara rendah di malam hari.

Bahkan ada daerah yang membeku, seperti di kawasan Dieng, Jawa Tengah. Suhu minus sembilan derajat Celsius tercatat di kompleks Candi Arjuna Dieng. Di dalam ruangan rumah warga di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, suhu di dalam ruangan mencapai minus satu derajat Celsius. Suhu tersebut memunculkan embun es yang menyelimuti kawasan Candi Arjuna dan sekitarnya.

"Minus sembilan derajat Celsius. Ini sudah sampai ke pertanian. Tanaman kentang itu sudah cukup luas," kata Aryadi Darwanto, Kepala UPT Dieng.

Bahkan menurut Aryadi, suhu udara Dieng sepekan terakhir ini memang turun ke suhu kurang dari nol derajat. Namun, Senin pagi ini adalah yang terendah. Sebelumnya, suhu udara berkisar minus satu hingga minus lima derajat Celsius di kompleks Candi Arjuna. Adapun di perumahan, suhu udara masih berkisar satu atau dua derajat Celsius.

Jika dibandingkan dengan kawasan Jawa, Eropa justru mengalami gelombang panas. Bahkan panas di eropa mencapai suhu tinggi, yakni 40 derajat Celcius. Kondisi ini bahkan kabarnya akan dirasakan masyarakat Eropa hingga sepekan kedepan.

Para ahli meteorologi mengatakan suhu akan mencapai atau bahkan melebihi 40 derajat Celsius dari Spanyol ke Swiss, saat udara panas disedot dari Sahara oleh kombinasi badai yang melanda Atlantik dan tekanan tinggi di Eropa tengah.

Di Spanyol sendiri diperkirakan suhunya mencapai 42 derajat Celcius. Pemerintah Prancis bahkan telah mengeluarkkan peringatan melalui Menteri Kesehatan, Agnès Buzyn.

"Ini memengaruhi kita semua, tidak ada yang (seperti) Superman dalam berurusan dengan panas ekstrem, yang akan kita alami pada hari Kamis dan Jumat," katanya dalam konferensi pers.

Italia juga mengalami hal serupa, diperkirakan suhu tertinggi 37-40 derajat Celcius diperkirakan terjadi di wilayah Italia utara dan tengah, termasuk Roma, Florence, Bologna, Milan, dan Turin.