Brilio.net - Pemilu 2019 diselenggarakan dengan lancar, namun menguras banyak tenaga. Banyak petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang sakit hingga meninggal dunia. Hingga kini Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih terus mendata petugas KPPS yang meninggal capai 382 orang.

Sementara itu, untuk penyelenggara Pemilu atau KPPS yang mengalami sakit sebanyak 3.529 orang. Jumlah tersebut dari 33 Provinsi di Indonesia.

Meninggalnya petugas KPPS tentu membuat keluarga besar KPU bersedih. Ketua KPU RI Arief Budiman mengaku sedih dan menyampaikan duka mendalam atas tragedi tersebut. Dia mengatakan KPPS memiliki tugas yang berat. Bahkan, menguras tenaga dari pagi hingga pagi lagi.

"Saya pernah ikut petugas pantarlih (panitia daftar pemilih) yang harus data pemilih. Mereka sebenarnya yang paling menentukan pemilu aman, sukses dan lancar. Pekerjaan mereka tidak sehari tapi rangkaian panjang," ujar Arief seperti dikutip dari Liputan6, Jumat (3/5).

Arief bercerita kerja berat Tutung dimulai jauh sebelum 17 April 2019. Tutung harus melapor penyebaran C6 yang menjadi surat pemberitahuan kepada pemilih di kediaman mereka masing-masing. Saking berat dipikulnya, lanjut Arief, Tutung akhirnya menutup mata untuk selamanya saat berada di kantor kelurahan.

"Itu saya pikir negara patut berterimakasih dan memberikan penghargaan kepada mereka," ujar Arief.

Pengaruh wilayah pemungutan suara juga menentukan beban kerja petugas KPPS. Secara demografis, wilayah seperti DKI Jakarta yang memiliki jumlah TPS banyak, bahkan di satu kecamatan jumlahnya bisa lebih dari 1.000 titik. Karenanya, KPPS tidak hanya berhadapan oleh waktu, tetapi juga energi, kekuatan fisik, mental, yang harus harus dijaga bersamaan.

"Kita semua harus menguatkan. Supaya mereka bisa semuanya bertugas dengan baik tuntas sampai akhir," Arief.