Brilio.net - Aksi penolakan terhadap pembangunan dan pengoperasian PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang Jawa Tengah terus berlanjut. Bahkan sejak beberapa hari lalu, sekelompok masyarakat Kendeng kembali menyemen kakinya sebagai bentuk penolakan di depan Istana Negara, Jakarta.

Namun, tak diduga salah satu peserta aksi Patmi (48) meninggal dunia setelah melakukan aksi menyemen kaki beberapa hari. Kabar duka itu langsung menjadi tranding topik di sosial media Twitter. Ratusan ucapan bela sungkawa mengalir untuk perempuan yang mempertahankan tanahnya tersebut.

Berdasarkan siaran pers dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang dikutip brilio.net, Selasa (21/3), Patmi meninggal pukul 02.55 WIB saat perjalanan ke Rumah Sakit Saint Carolus, Salemba, Jakarta. Diduga, Patmi meninggal karena serangan jantung.

"Bu Patmi sebelumnya dinyatakan sehat dan dalam keadaan baik oleh dokter. Kurang lebih pukul 02:30 dini hari Selasa (21/3) setalah mandi, bu Patmi mengeluh badannya tidak nyaman, lalu mengalami kejang-kejang dan muntah," demikian keterangan tertulis dari YLBHI.

Bu Patmi © 2017Bu Patmi

foto: twitter.com/omahekendeng

Jenazah Patmi langsung dipulangkan ke Larangan, Tambakromo, Pati, untuk dimakamkan. Duka itu membuat sebagian peserta aksi memutuskan untuk pulang ke Kendeng, sementara sembilan orang lainnya masih bertahan dengan mengubah cara aksi.

Diketahui, pada Senin (20/3) kemarin, sejumlah perwakilan Petani Kendeng bertemu dengan Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki. Usai pertemuan, disepakati ada petani yang tetap melanjutkan aksi semen kaki, ada pula yang pulang ke Jawa Tengah.