Brilio.net - Tsunami yang melanda Selat Sunda benar-benar mengakibatkan kerusakan parah. Dilansir Brilio.net dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, ada 281 orang tewas, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi. Kerusakan fisik: 611 rumah rusak, 69 hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, & 420 perahu rusak.

Tsunami yang disebut juga tsunami Anyer atau tsunami Banten ini dipastikan terjadi akibat aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau yang terletak di selat Sunda.

"Saya pikir rekan-rekan sudah mendengarkan dari bapak kepala Badan Geologi yang menyampaikan bahwa jam 21.03 ada catatan aktivitas vulkanik yaitu di Pulau Sertung ya. Catatan seismografnya dari Badan Geologi di Pulau Sertung dan ini selaras sejalan juga dengan catatan BMKG. Sensor yang ada di Cigeulis Banten itu mencatat pada pukul 21.03 menit 24 detik itu jadi waktunya sama dengan yang dicatat oleh Badan Geologi di Pulau Sertung dan yang di Cigeulis Banten. Jadi dari ini menguatkan sebetulnya bahwa tsunami ini dipastikan akibat aktivitas anak gunung krakatau," jelas Kapus Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam konferensi pers BMKG.

Gunung Anak Krakatau mulai terlihat pada tahun 1927 atau 40 tahun sejak Gunung Krakatau meletus. Masih relatif baru, aktivitas kegempaan sering terdeteksi. Peneliti dunia sendiri masih belum bisa secara tepat memprediksi kapan Gunung Anak Krakatau akan meletus dengan dahsyat.

Dilansir Brilio.net dari berbagai sumber, Senin (24/12) ini lima fakta Gunung Anak Krakatau.

1. Bisa tumbuh tinggi 4-6 meter setahun.

Gunung Anak Krakatau 5 fakta © 2018 brilio.net

foto: screenshoot via video Capt Mykola/Susi Air

Material yang dikeluarkan dari perut gunung baru ini membuat Gunung Anak Krakatau bisa tumbuh 4-6 meter dalam setahun. Dalam catatan, gunung ini sudah mencapai 190 meter lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Tak hanya tinggi, diameter Gunung Anak Krakatau juga bisa mencapai 2 kilometer pada Agustus 2018 kemarin.

2. 3 Bulan belakangan selalu mengalami aktivitas kegempaan.


Dalam bagan yang diunggah oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Gunung Anak Krakatau mengalami letusan dan kegempaan hampir setiap hari. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan bahwa radius berbahaya mencapai 2 km dari puncak kawah.

3. Ada spesies binatang dan tumbuhan baru di Gunung Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau 5 fakta © 2018 brilio.net

foto: liputan6.com

Dilansir Brilio.net dari LIPI, Prof IWB Thornton seorang ahli zoologi dari Universitas La Trobe Australia bersama peneliti lainnya menemukan beberapa spesies tumbuhan dan binatang baru. Spesies baru tersebut meliputi ular terbang (chrysopelia paradisi), cecak besar gecko-gecko, sejenis rumput laut, kupu-kupu, dan lain-lain.

4. Pemda di sekitar Selat Sunda sempat melarang warganya untuk melihat Gunung Anak Krakatau secara dekat.

Gunung Anak Krakatau 5 fakta © 2018 brilio.net

foto: @sentinel_hub via Twitter/@flyingwktk

Dilansir Brilio.net dari LIPI, letusan aktif yang terjadi di Gunung Anak Krakatau membuat khawatir berbagai pihak. Hal ini terbukti dari himbauan dan larangan yang dikeluarkan berbagai Pemda di sekitar Selat Sunda. Pemda Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan khawatir karena Gunung Anak Krakatau sering memuntahkan lahar panas.

5. Erupsi Krakatau cikal bakal lahirnya Anak Krakatau bisa didengar 1/8 penduduk dunia.

Gunung Anak Krakatau 5 fakta © 2018 brilio.net

foto: www.answers.com

Kuatnya erupsi Gunung Krakatau memang tidak main-main. Pada tahun 1883, erupsinya bisa didengar sampai 4.600 km dan didengar oleh 1/8 penduduk dunia. Besarnya ledakan ini bahkan tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagai ledakan paling hebat yang pernah terekam dalam sejarah.