Brilio.net - Kepergian Syekh Ali Jaber pada 14 Januari 2021 lalu masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, kalangan seleb, dan juga warganet. Hal ini dikarenakan, pendakwah dan ulama satu ini dikenal dengan kepribadian yang baik dan sangat menghargai orang lain. Tidak hanya itu saja, isi ceramahnya bisa membuat banyak orang tenang dan dapat dipahami dengan baik.

Banyak yang bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab kematian Syekh Ali Jaber. Selama ini orang hanya tahu bahwa ulama kelahiran Madinah itu meninggal karena Covid-19. Hal itu memang tidak salah, namun ada beberapa fakta lainnya yang menyebabkan Syekh Ali Jaber meninggalkan orang-orang yang dikasihinya.

Lewat unggahan channel YouTube Cerita Untungs, bertajuk "Syekh Ali Jaber dan UYM Besanan?", putranya, Al Hasan Ali Jaber mencoba meluruskan kabar simpang siur mengenai kepergian sang ayah. Berikut deretan faktanya yang diungkap putra Syekh Ali Jaber, dikutip brilio.net, Kamis (11/2).

1. Positif Covid-19.

Hasan membenarkan bahwa sang ayah memang positif Covid-19. Namun setelah itu Syekh Ali Jaber melakukan tes swab dan hasilnya menyebutkan bahwa ulama tersebut telah negatif Covid-19.

"Beliau ada penyakit. Cuma nggak begitu parah. Qadarullah kena itu Covid-19, ketabrak Covid-19, karena beliau juga ada (penyakit) darah kental kalau nggak salah sebelum Covid-19," katanya.

 

<img style=

foto: Instagram/@hasaanjaber

 

Karena adanya penyakit bawaan, Hasan mengungkapkan kemungkinan dengan positif Covid-19 semakin melemahkan imun tubuh Syekh Ali Jaber.

"Ketabrak Covid-19 itu, Covid-nya beberapa hari sudah negatif. Cuma mungkin impaknya sudah kesana ke mari. Sudah lumayan lama," Al Hasan membeberkan.

2. Tidak bersemangat dalam menjaga kesehatan.

Kabar mengenai Syekh Ali Jaber ditusuk oleh orang tak dikenal ketika menghadiri sebuah acara di Lampung itu memang ramai menjadi perbincangan. Menurut penuturan Hasan, sejak kejadian itu Syekh Ali Jaber jadi kurang perhatian terhadap kesehatan fisiknya.

Hasan juga mengungkapkan, Syekh Ali Jaber kurang bersemangat dalam menjaga kesehatan tubuhnya. Sikap ini sangat disayangkan oleh Hasan.

"Cuma beliau sedikit, agak kurang semangat menjaga kesehatan, agak malas. Apalagi setelah penusukan juga kurang perhatian sama diri sendiri," kata Al Hasan.

Sejak saat itu pula kondisinya mulai melemah, hingga akhirnya sempat dikabarkan dirawat di rumah sakit. Namun hal itu tidak dipermasalahkan. Hasan percaya, kepergian ayahnya bagian dari jalan takdir Sang Khalik. Kini Syekh Ali Jaber telah tenang di alamnya dan tugas sang anak dalam meneruskan kebaikan sang ayah.

3. Syekh Ali Jaber butuh teman ngobrol.

<img style=

foto: Instagram/@hasaanjaber

 

Hasan mengungkapkan sebelum meninggal, Syekh Ali Jaber ternyata butuh teman ngobrol. Hal ini dia rasakan karena sang ayah kerap menghubunginya untuk berbagi cerita ini dan itu.

"(Ayah sering kirim) voice note, video call melihat adik-adik main. Kadang juga… terakhir datang ke Lombok padahal acara cuma satu. Biasanya balik langsung (tapi kala itu) beliau tetap di Lombok," ujarnya.

"Banyak yang pengen curhat rupanya. Itu beliau sering telepon. Kalau misalnya kangen beliau pasti curhat masalah ini dan itu. Butuh teman ngobrol," Al Hasan mengakhiri.