Brilio.net - Presiden Joko Widodo memang telah mengumumkan dan melantik menteri dan wakil menteri beberapa waktu lalu. Saat masih menyeleksi, tentu banyak tokoh yang saling berebut untuk bisa menduduki satu kursi di kementerian. Beberapa tokoh dari partai pendukung bahkan merasa kecewa karena tidak mendapat jabatan itu.

Ada beberapa nama yang setidaknya dirumorkan bakal menjabat jadi menteri Kabinet Indonesia Maju, namun hingga hari pelantikan batang hidungnya tak juga tampak di Istana Merdeka. Tapi ternyata, tokoh-tokoh tersebut memang mengakui mendapat tawaran menjadi menteri. Namun, tawaran itu mereka tolak.

Padahal, banyak orang yang mengincar posisi itu. Tapi ketika disodorkan, tokoh-tokoh ini malah menolaknya. Kira-kira apa alasannya ya?

Berikut ini deretan tokohnya seperti brilio.net lansir dari merdeka.com, Senin (28/10).

1. Tri Rismaharini.

Loading...

tolak jabatan menteri © berbagai sumber

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengaku menolak tawaran menjadi menteri Jokowi. Nama Risma sebelumnya sempat santer dikabarkan masuk dalam bursa menteri. Namun hingga detik-detik pengumuman, Risma tak juga muncul di Istana.

Risma mengakui sudah seringkali ditawari menjadi menteri. Akan tetapi tawaran itu selalu dia tolak. Risma ditawari menteri bukan oleh Presiden Jokowi secara langsung. Namun tawaran justru datang dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"September sempat ketemu Ibu Mega, ditawari jadi menteri, tapi saya sudah jawab tidak. Tapi wes mbak ojok kesusu, pokoke sebelum Oktober (dijawab) ya mbak," ujarnya menirukan ucapan Megawati saat itu, Rabu (23/10).

Ia menambahkan, saat Oktober tiba, dirinya malah sedang berada di Korea. Saat itu lah dia ditelepon Puan Maharani. Puan kembali menanyakan tawaran untuk duduk di kursi menteri.

"Aku Oktober pergi ke Korea. Waktu itu aku ditelepon Mbak Puan, piye dadi menteri. Saya jawab endak (enggak) saya selesaikan di Surabaya dulu," tambahnya.

Ada beberapa alasan mengapa Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menolak menduduki kursi menteri. Pertama, ia merasa harus menjaga Kota Surabaya hingga tuntas masa baktinya yang kurang lebih tinggal satu tahun ke depan. Ia mengaku akan menyesal jika terjadi apa-apa dengan Surabaya, di mana ia sudah berdarah-darah sebelumnya menjaga Surabaya.

"Kalau aku meninggalkan Surabaya kalau terjadi apa-apa, saya nyesel (menyesal). Saya sudah berdarah-darah, benerkan, tanganku putus, tendonku juga kena dan saya sering jatuh di lapangan. Apa yang saya lakukan itu nanti akan sia-sia gitu," tegasnya.

Risma mengaku pernah bertemu langsung dengan Jokowi. Namun ia enggan mengatakan, apa yang dibicarakannya saat itu.

"Kalau ke Pak Jokowi, saya sudah sampaikan apa yang saya omongkan. Tapi itu rahasia ya. Saya sampaikan, saya ketemu Pak Jokowi juga, tapi sudah saya sampaikan ke Bu Mega," ujarnya.

2. Adian Napitupulu

tolak jabatan menteri © berbagai sumber

Politisi PDIP Adian Napitupulu juga mengaku menolak tawaran menteri dari Presiden Jokowi. Bukan hanya sekali, tawaran menjadi menteri datang ke Adian hingga empat kali.

Namun Adian tetap dengan pendiriannya menolak tawaran itu. Dia mengaku sampai minta ampun kepada Jokowi sambil menundukkan kepala dengan merapatkan telapak tangan menolak tawaran itu.

"Itu menjadi pilihan sadar saya, tanpa ada paksaan tanpa ada intervensi dari pihak mana pun. Walaupun mungkin saat itu saya melihat ekspresi Jokowi natapnya tajam, enggak tahu untuk menegaskan ini orang serius nolak atau enggak. Sampai saya begini-begini (nunduk sambil minta ampun), saya bilang saya minta ampun pak presiden sampai 1000 kali," kata Adian dalam acara Mata Najwa, Rabu (23/10) malam.

Adian Napitupulu mengungkapkan alasannya menolak tawaran menteri dari Presiden Jokowi. Dia merasa sadar diri menjadi menteri bukan kemampuannya. Selain itu dia merasa di DPR lebih bisa leluasa bekerja

"Kalau misalnya di Kemenaker saya bicara apa, buruh, jam kerja, cuti. Enggak bisa bicara tentang tanah rakyat. Kalau saya di Agraria bicara tentang tanah, enggak bisa bicara tentang hal lain buruh dan sebagainya. Di mana saya bisa bicara segalanya, ya di DPR," kata Adian dalam acara Mata Najwa, Rabu (23/10) malam.

RECOMMENDED BY EDITOR