Brilio.net - Indonesia termasuk negara dengan budaya riset yang masih rendah. Rasio ilmuwan atau peneliti Indonesia hanya 205 orang per satu juta penduduk. Bandingkan dengan Jepang 5.573 orang atau Singapura 6.088 orang.

Di tengah minimnya budaya riset Indonesia, ada kabar menyejukkan dari Atnic, tim yang terdiri dari sekumpulan mahasiswa jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Atnic berhasil menjadi wakil Indonesia dalam Kompetisi Teknologi dan Inovasi Internasional ASME I Show 2015 dengan karyanya BlumbangReksa.

Teknologi buatan mahasiswa UGM mudahkan petambak piara udang

BlumbangReksa menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam ajang bergengsi kompetisi karya-karya inovasi dunia tersebut. Sejak akhir 2014, Atnic didukung Indmira, perusahaan berbasis riset dan penelitian untuk mengembangkan piranti cerdas di bidang pertanian dan lingkungan.

Ide membuat BlumbangReksa bermula dari permasalahan sulitnya mengontrol perubahan kondisi air pada kolam udang. Masalah ini sering kali telat diketahui yakni setelah muncul kasus gangguan atau bahkan kematian pada udang di kolam. Akibatnya, kerugian tak dapat dihindarkan.

Loading...

Teknologi BlumbangReksa memungkinkan setiap gejala abnormal pada kolam dapat diketahui secepat mungkin, sehingga resiko kegagalan produksi tambak udang dapat diminimalisasi. Alat ini berupa perangkat Internet of Thing (IoT) yang memantau kondisi air tambak udang selama 24 jam sehari.

Alat ini dilengkapi dengan modul GSM dan internet sehingga data kondisi air dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui gadget nonstop selama 24 jam. Petambak pun bisa melakukan penanganan kualitas air secara optimal, sehingga bertambak udang menjadi lebih ramah lingkungan.

Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2010, founder Atnic, mengaku miris melihat petani dan petambak kelaparan di lumbung padi dan ikan seperti negeri ini. "Kami punya mimpi melihat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, berdiri di atas kaki sendiri," katanya melalui surat elektroniknya dari London seperti dilansir ft.ugm.ac.id, Selasa (14/4).

Semoga hal ini semakin mendekatkan Indonesia menghasilkan inovasi teknologi yang bisa memberikan manfaat untuk masyarakat luas.