Brilio.net - Seperti yang sudah banyak diberitakan, Balikpapan berhasil meraih peringkat pertama kota yang paling dicintai lewat program WWF Earth Hour City Challenge 2015 yang diselenggarakan oleh WWF Foundation. Kemenangannya ini bahkan berhasil mengalahkan 46 kota yang ada di seluruh dunia, lho. Wuih, brilio!

Balikpapan sendiri adalah kota besar di Provinsi Kalimantan Timur yang terkenal dengan julukan Banua Patra atau Kota Minyak. Banyak legenda yang beredar di masyarakat mengenai bagaimana kota Balikpapan ditemukan. Salah satu yang paling terkenal adalah cerita tentang orang-orang kepercayaan Putri Aji Tatin yang tertimpa musibah ketika sedang berlayar.

Dahulu kala, di Tanah Pasir, ada sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh Raja Aji Muhammad yang terkenal adil dan bijaksana. karena perannya inilah negeri itu senantiasa aman, makmur, dan sentausa.

Raja Aji Muhammad memiliki seorang anak perempuan bernama Aji Tatin yang sangat dicintainya. Bahkan saking sayangnya, semua dayang-dayang, prajurit dan para pegawai kerajaan dikerahkan untuk menjaganya.

Di hari pernikahan putrinya, sang raja mengadakan pesta yang sangat besar dan mewah. Sebagai hadiah, sang raja pun memberikan sebuah wilayah teluk yang indah, yang boleh dikelola putrinya. Bahkan dia berhak untuk segala upeti yang dihasilkan dari warga yang tinggal di teluk itu.

Loading...

Suatu kali, sang putri meminta para prajuritnya untuk memungut upeti. Setelah selesai, mereka pun kembali kepada sang putri dengan menaiki perahu. Namun nggak disangka-sangka terjadi badai dan membuat perahu dipenuhi air laut dan akhirnya terbalik. Semua prajurit pun tenggelam. Perahu kemudian terombang ambing hingga kandas di sebuah karang di sekitar teluk dan pecah berantakan.

Untuk mengenang kejadian ini, sang putri pun menamai teluk tersebut dengan nama Balikpapan yang berarti papan yang terbalik. Lalu kenapa Balikpapan dijuluki kota minyak? Hal ini disebabkan karena ketika badai menghempas perahu, minyak-minyak persediaan bahan bakar ikutan terhempas keluar dan bercampur dengan air laut.

Minyak yang tumpah itu digunakan warga sebagai bahan bakar. Sejak saat itu, di perairan lepas Balikpapan dibuat kilang-kilang penghasil minyak.