Brilio.net - Miris melihat potret pendidikan di Indonesia, di mana distribusi penunjang pendidikan tidak merata, mulai dari fasilitas gedung, buku bahkan tenaga pengajar, membuat sekumpulan pemuda ini tergerak memberi solusi.

Mereka memilih melakukan gerakan nyata dengan membuka perpustakaan di berbagai wilayah untuk membantu meningkatkan minat baca pada anak-anak. Para pemuda ini mulai mengumpulkan buku-buku bekas, lalu mengoleksinya hingga banyak dan menjadikan buku-buku tersebut sebagai koleksi perpustakaan keliling.

Perpustakaan ini diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja agar mereka memiliki hobi membaca. Mereka percaya dengan meningkatnya budaya membaca, itu berarti peluang untuk meraih kesejahteraan di masa depan semakin besar.

Kini, komunitas yang menamakan dirinya sebagai Komunitas Jendela ini, mengadakan perpustakaan keliling atau taman baca keliling di desa-desa, dengan maksud membantu meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak dan remaja.

Dengan tagline "We are not just building a library, we are building a future" kini komunitas yang fokus pada bidang pendidikan ini sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Ibu Kota Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandung, Malang, bahkan Lampung.

Loading...

Salah satu pengurus komunitas Jendela, Yelladys Nuring mengatakan, awal berdirinya komunitas ini untuk membantu memulihkan kondisi psikis anak-anak dan remaja yang menjadi korban erupsi Gunung Merapi. Namun seiring berjalannya waktu, banyak relawan yang ingin terlibat. Sehingga untuk saat ini komunitas jendela sudah tersebar di lima kota besar itu.  

"Komunitas Jendela berdiri tahun 2011 pasca erupsi Merapi, tepatnya di pengungsian Shalter Gondang, Sleman, Yogyakarta," ujar Yella kepada brilio.net, Selasa (12/5).

Yella menuturkan, komunitas Jendela memang bertujuan menjadi alat untuk berbagi kepada sesama. Jadi komunitas ini berisi orang-orang yang ingin berbagi kepada saudara-saudara mereka yang membutuhkan sentuhan pendidikan. Baik mahasiswa maupun yang sudah bekerja atau berkeluarga, semua diperbolehkan mengikuti kegiatan Komunitas Jendela. "Fokus utama kami adalah pendidikan anak-anak dan remaja," imbuhnya.

Hingga saat ini, kegiatan perpustakaan keliling atau mobile library dari Komunitas Jendela terus digalakkan dan ditingkatkan intensitasnya. Bahkan kini Komunitas Jendela tidak hanya berkutat pada kegiatan mobile library, tetapi berbagai kegiatan lain yang menarik bagi anak-anak dan remaja dan tentunya meningkatkan kualitas pendidikan, seperti lomba menulis kisah inspiratif, mengenalkan permainan-permainan tradisional yang interaktif. Komunitas Jendela juga hadir dalam berbagai event car free day, peringatan hari-hari besar pendidikan dan lain-lain.

Nah, dari pada cuma urun angan untuk kemajuan bangsa Indonesia, mending turun tangan saja dengan mengikuti Komunitas Jendela ini. Selain teman baru, tentunya bakal banyak pengalaman berharga yang akan didapat.