Brilio.net - Gerabah Kasongan terkenal sejak lama. Kepandaian warga desa di selatan Yogyakarta dalam membuat aneka seni gerabah membuat hasil keajinan dari wilayah ini terkenal hingga mancanegara.

Dari sekian banyaknya perajin di Desa Kasongan, Mbah Karyo merupakan salah satu perajin tertua di kampung itu. Hingga saat ini, kakek usia 98 tahun itu masih langgeng membuat dan menjual kerajinan dari tanah liat tersebut.

Kakek kelahiran 1918 ini mengungkapkan bahwa ia sudah sejak kecil menekuni pembuatan kerajinan gerabah mewarisi orang tuanya. “Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Jepang, berjualan gerabah sudah menjadi sumber penghidupan saya,” tuturnya kepada brilio.net.

Mbah Karyo menceritakan dirinya dulu berjualan gerabah dengan dipikul dan berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Sudah hal biasa bagi Mbah Karyo melewati hutan belantara hingga kakinya pernah dipenuhi oleh lintah. Belum ada sandal jepit apalagi sepatu. Mbah Karyo tahu betul bagaimana rasa pahitnya berjualan gerabah dimasa itu.

Berpergian hingga berhari-hari dan pantang pulang sebelum jualannya habis adalah hal yang lumrah bagi kakek empat cucu ini. Dalam berkeliling, Mbah Karyo tak jarang tidur di rumah warga setempat, meski tak saling kenal sebelumnya.

Loading...

Kepedulian kepada sesama zaman dahulu memanglah tinggi. Hal itu pula yang menjadikan Mbah Karyo tak khawatir harus tinggal dimana saat berhari-hari harus menjajakan gerabah buatanya seorang diri.

Kini Mbah Karyo sedikit lega, karena di usia senjanya, masih diberi kesehatan untuk tetap menjaga profesi warisan orang tuanya membuat dan menjual gerabah. Tidak hanya karena kini kampung halamanya semakin dikenal sebagai pusat gerabah, terlebih karena anak cucunya masih mau membantu meneruskan usahanya.

Bahkan kini hasil kerajinan Mbah Karyo tembus ke pasar internasional dan diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Australia bahkan Amerika Serikat. Ketabahan Mbah Karyo melewati masa pahit meneruskan usaha keluarganya dirasakan hasilnya kini.