Brilio.net - Diferensiasi menjadi kata kunci dalam berwirausaha agar bisa meraih sukses. Hal ini disadari betul Syaiful Burhan (22), pemuda asal Medan, Sumatera Utara yang membuat usaha makanan molen. Molen buatan Burhan ini berbeda dari molen pada umumnya. Produksinya berukuran jumbo. Namanyapun unik, Molen Arab.

Awalnya dia memproduksi 50 butir. Tapi, kini dengan dibantu 11 karyawan Burhan mampu memproduksi 2.000 butir Molen Arab tiap harinya.

Burhan menceritakan, awal mula ia memutuskan untuk berbisnis karena kebutuhan yang mendesak akan biaya hidup sehari-hari. Saat itu, Maret 2013, Burhan menghubungi orang tuanya meminta uang untuk membayar kost pada bulan April 2013. Oleh orang tuanya Burhan dikirimi Rp 2,5 juta. Tapi saat itu Burhan berpikir bahwa pembayaran kost masih satu bulan dan jika ia gunakan untuk membayar kost maka hidupnya tidak akan ada perubahan.

Kemudian Burhan memberanikan diri menggunakan uang tersebut untuk mencoba usaha. "Waktu itu saya berpikir gorengan kan simpel, kalau dibawa ke kampus tidak merepotkan," terang Burhan saat dihubungi brilio.net, Jumat (20/3).

Tapi idenya untuk berjualan gorengan itu urung dilakukan karena saat eksperimen Burhan gagal membuat gorengan yang dianggapnya enak. Burhan lalu terbesit untuk membuat molen yang merupakan makanan kesukaannya. Dia mencari resep membuat molen dari pedagang molen maupun internet.

Setelah resep didapat, Burhan mencoba melakukan diferensiasi dalam produknya. Terpikir olehnya untuk membuat molen yang besar sehingga sekali makan bisa kenyang. Terbentuklah molen yang ukurannya besar, panjang, dan sekali makan puas.

Untuk molen ini, Burhan melakukan eksperimen sampai 6 kali. Pada percobaan ke-7, ia bawa molennya ke kampus untuk dicicipi teman-temannya. Tapi teman-temannya malah langsung menanyakan harga dan membelinya. Saat itu Burhan langsung yakin bahwa formula yang ia buat sudah layak untuk ia pasarkan.

Nama Arab dipakainya untuk mendeskripsikan produknya yang besar, panjang, dan sekali makan puas karena orang-orang sudah terbayang bahwa orang Arab berperawakan tinggi dan besar. "Awalnya ingin saya beri nama dengan kata Medan atau Nusantara, tapi kok kurang cocok untuk menggambarkan produknya," terang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

Burhan mengungkapkan bahwa usaha yang hampir berjalan 2 tahun ini awalnya dibuat di dapur kost yang berukuran 2x3 meter. Produksi itu ia lakukan sampai bulan ke-6.

Untuk memproduksi 2.000 Molen Arab tiap hari, Burhan dibantu oleh 11 karyawan. Sedangkan pendistribusian ke konsumen dibantu oleh 57 reseller atau agen yang tersebar di sekolah, kampus, dan cefe-cafe di Medan. Per butir molen dijual Rp 3.000-6.000.