Brilio.net - Ternyata ada banyak sekali jenis profesi di Indonesia ya. Kalau biasanya yang kita ketahui hanya profesi-profesi semacam dokter, guru, pegawai bank, dan semacamnya, ternyata masih banyak jenis profesi lain yang mungkin bisa dibilang seru. Salah satunya adalah profesi sebagai penyelam cagar budaya yang pernah digeluti oleh seorang Pahadi.

Pahadi merupakan pria asal Sambas yang sudah mencoba profesi sebagai penyelam cagar budaya sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014.

“Awalnya waktu itu ada pengawasan survei bawah air di Bangka Belitung dengan peneliti dari Portugal di mana kita harus ikut mengawal. Dari situ saya diajak menyelam mengamati mana cagar budayanya, apa yang perlu dilakukan, dan lain-lain,” ujar Pahadi kepada brilio.net Selasa (19/5).

Pahadi menceritakan sebelum menjadi seorang penyelam cagar budaya, pada 2010 dia terlebih dahulu mengikuti pelatihan selam yang dilakukan di Kepulauan Seribu. Dan dia juga sempat mewakili Indonesia mengikuti pelatihan yang diadakan di Thailand pada tahun 2011. Pahadi juga menuturkan bahwa sepanjang empat tahun menjalani profesi tersebut dia sudah puluhan kali menyelami perairan Indonesia, di antaranya Natuna, Bintan, Bangka Belitung, Serang, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Selayar-Makassar, Togean, Ternate, Halmahera, sampai Raja Ampat.

“Paling menarik waktu nyelam di Raja Ampat, untuk identifikasi pesawat Catalina yang tenggelam di pulau Wai. Di situ lautnya asyik banget, jadi situsnya di kedalaman 42 meter tapi pesawat sudah terlihat jelas dari kedalaman 15 meter. Kalau di titik lain untuk dapet jarak pandang 10-15 meter susah,” lanjut Pahadi.

Loading...

Pria lulusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada ini juga menuturkan bahwa di perairan Indonesia sendiri yang sering kali ditemukan adalah kapal-kapal perdagangan, pesawat bekas perang, dan juga keramik-keramik yang berasal dari China. Dan biasanya tim penyelam akan membawa satu contoh dari barang yang mudah dibawa ke darat untuk kemudian di teliti dan diamankan di direktorat cagar budaya.

Bapak satu anak ini menambahkan bahwa untuk sekali penyelaman biasanya akan membutuhkan waktu selama 5-7 hari untuk barang temuan non-kapal dan 10-14 hari untuk kapal dengan jumlah orang dalam tim sebanyak 10 personel yang dibagi menjadi dua regu. Tugasnya juga bermacam-macam yaitu sebagai pengukur obyek, bagian fotografi, dan juga penggambar sketsa. Tiap regu nantinya akan ditemani oleh dua dive master yang akan memastikan keselamatan dan keamanan penyelam.

Untuk tahun 2015 sendiri Pahadi mengaku belum memiliki agenda untuk kembali mengidentifikasi cagar budaya yang ada di perairan Indonesia. Namun pada 2016 nanti dia berencana untuk fokus meneliti perairan di Jawa Timur karena diduga ada beberapa spot yang menyimpan peninggalan-peninggalan sejarah bawah laut.