Brilio.net - Tak pernah terbersit di benak Febi Hariono punya kehidupan seperti saat ini. Febi bekerja di instansi pemerintah Kotabumi Lampung Utara sementara sang istri adalah pegawai BUMN. Hidupnya bisa dibilang berkecukupan.

Tapi siapa sangka, Febi pernah punya kehidupan yang berkebalikan dari apa yang dia punya sekarang.  

Lulus SMA, Febi harus mengubur keinginannya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dia harus bekerja membantu kedua orangtuanya, maklum keluargnya hidup pas-pasan. Febi muda memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, mengadu nasib di ibu kota. Dia tak lama bekerja di Jakarta. Atas permintaan kedua orang tuanya, Febi pulang ke Kota Bum dan bekerja di sana.

Di kota kelahirannya dia bekerja di sebuah radio lokal. Penghasilannya tak seberapa, lalu dia bekerja sampingan sebagai penjaga malam di kantor pemerintah daerah setempat. Keinginannya untuk melanjutkan kuliah belum pupus. Begitu ada kesempatan dia mendaftar. Jadi, kesibukannya pun bertambah antara kerja dan kuliah.

Lagi-lagi keinginan Febi untuk meraih gelar sarjana kembali tertunda. Pada tahun 2005 ibunya jatuh sakit, stroke parah. Febi memutuskan fokus bekerja dan merawat ibunya yang sedang sakit. Keputusan besar diambil Febi yaitu menikah pada awal 2007. Keputusan tersebut diambil, dengan harapan sang istri bisa membantu merawat sang ibu.

Loading...

Pekerjaan sebagai penyiar dan penjaga malam dipandang sudah tidak memadai lagi untuk ukurannya kini. Di tengah kegalauannya dalam mencari pekerjaan, ia seakan mendapatkan hadiah dari Tuhan. Ia diangkat menjadi pegawai negeri di pemerintah daerah setempat. Tidak lama berselang, di tahun 2008 istrinya diterima di perusahaan asuransi milik negara, PT. Askes, atau yang sekarang jadi PT. BPJS.

Perekonomian keluarga pun perlahan membaik. Kebahagiaanna bertambah lengkap dengan kelahiran sang buah hati pada 2012. Dia pun berkesempatan kuliah lagi dan berhasil tuntas meraih gelar sarjana yang ia idam-idamkan. Namun, di tengah kebahagiannya itu ia harus kehilangan ibunya di tahun 2013. Sosok yang menjadi nafas bagi perjuangan hidupnya.

Kini, tinggal ayahnya yang masih bisa ia perhatikan. Meskipun ia mengaku bahwa hubungannya dengan sang ayah tidak semanis dengan ibu, tapi ia tetap ingin berbakti kepadanya. Karakter dirinya dan sang ayah yang sama-sama keras membuat hubungan mereka kurang dekat.

Ia berpesan, “Jangan pernah menyia-nyiakan orangtua. Jangan pernah mengabaikan keinginan orangtua. Sekalipun kita diizinkan melakukan sesuatu tapi di hati orangtua belum tentu ikhlas. Jadi kalau dimana-mana kita gagal, tanyakan kembali kepada orangtua apakah beliau sudah ikhlas atau belum. Rezeki itu ga akan kemana-mana, turuti kata orang tua, pasti dapat berkahnya.” sampainya kepada brilio.net Selasa (06/10) via sambungan telpon.

Cerita ini disampaikan oleh Febi Hariono melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu