Brilio.net - Di saat anak-anak seusianya masih tertidur nyenyak, lain halnya dengan Edi Priyanto (16). Begitu matahari baru keluar dari peraduannya, siswa SMP 2 Sewon, Bantul, Yogyakarta ini  telah sibuk mempersiapkan perlengkapan sekolah termasuk kursi rodanya. Meskipun usang, kursi roda inilah yang menjadi penopang kegiatan Edi sehari-harinya. Ya, Edi memang seorang difabel dengan semangat yang membara.

Semuanya berawal dari 14 tahun yang lalu. Pada saat lahir Edi memang terlahir dengan normal. Namun saat usianya dua tahun, tepat di saat 40 hari peringatan meninggalnya sang ayah, Edi terjatuh dan menyebabkan tangan serta kakinya patah. Tindakan operasi pun telah dilakukan namun kaki Edi tak kunjung sembuh. Ternyata Edi menderita kelainan tulang rapuh, sehingga sejak saat itu dia harus menggunakan kursi roda.

Setiap pagi Edi bangun pukul 03.30 WIB, setelah mandi dan menunaikan sholat subuh, Edi langsung berangkat ke sekolahnya pada pukul 05.00 WIB dengan menggunakan kursi roda tuanya. Dari rumahnya di Manggung, Sumberangung, Jetis, Bantul, setiap hari Edi mengayuh kursi roda menuju SMP N 2 Sewon, Bantul yang jaraknya kurang lebih 5 kilometer. Setiap paginya Edi memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke sekolahnya.

Dengan kursi roda usang, Edi ke sekolah sejauh 5 km tiap hari

"Biasanya sampai sekolah jam 06.00, saya sengaja berangkat pagi soalnya kan biar jalanan masih sepi, lagipula saya takut telat," ujarnya kepada brilio.net Kamis (21/5).

Loading...

Memang benar, rute yang ditempuh Edi melalui Jalan Parangtritis adalah jalan yang cukup ramai. Sehingga Edi harus ekstra hati-hati khususnya ketika akan menyeberang jalan.

Bagi siswa kelas 7 SMP ini jauhnya jarak bukanlah masalah. Dia bahkan lebih was-was pada kondisi kursi rodanya dibandingkan dirinya sendiri.  Sering kali dia jatuh di jalan karena ada beberapa baut rodanya mengendor dan lepas. Untuk berjaga-jaga, Edi selalu berbekal kunci tang di saku kursi rodanya. Walau begitu dia bertekad akan terus semangat sekolah demi memperbaiki hidup dan membantu ibunya yang hanya seorang buruh cuci.

"Karena kondisi saya, saya dulu sempat putus sekolah selama dua tahun. Tapi saya masih mau lanjut sekolah, saya pengen jadi teknisi komputer, kan yang diperlukan hanya otak sama tangan," pungkasnya sambil tersenyum

Semangat terus Edi, semoga cita-citamu tercapai!