Brilio.net - Melalui ekspedisi yang bertajuk Carstensz Journey 2015, sekelompok Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) sukses menaklukkan gunung tertinggi di Indonesia, Pegunungan Jayawijaya. Pegunungan Jayawijaya atau Carstensz Pyramid sendiri merupakan salah satu dari tujuh puncak dunia yang berada Provinsi Papua, Indonesia.

Bermodal Rp 25 juta per orang, mereka taklukkan puncak Jayawijayafoto: dok. MAPALA UPN Yogyakarta

Carstensz Pyramid berdiri kokoh di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Letak geografis dan aksesnya yang sulit menjadikan pendakian ke puncak ini menjadi yang termahal di dunia.

Carstensz Journey 2015 sendiri dilaksanakan dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta yang ke-57 tahun. Tim Carstensz Journey 2015 terdiri dari 10 orang mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia seperti UPN Yogyakarta, UNY Yogyakarta, dan Kesatuan BRIMOB Timika, Papua. Ekspedisi ini dilaksanakan mulai 18 November sampai 29 November 2015 kemarin.

Bermodal Rp 25 juta per orang, mereka taklukkan puncak Jayawijayafoto: dok. MAPALA UPN Yogyakarta

Loading...

Untuk menaklukkan puncak dengan satu-satunya gletser tropika di Indonesia ini diperlukan usaha yang tidak mudah. Pasalnya, anggota Mapala yang berangkat dipilih dari proses seleksi yang tidak mudah.

"Prosesnya sangat ketat dan tidak mudah. Para peserta dikarantina selama satu bulan penuh. Dan dari situ terpilih orang-orang yang layak untuk berangkat," tutur Ulung, Ketua Mapala UPN 'Veteran' Yogyakarta kepada brilio.net, Rabu (16/12).

Bermodal Rp 25 juta per orang, mereka taklukkan puncak Jayawijayafoto: dok. MAPALA UPN Yogyakarta

Ekspedisi ini juga memakan biaya yang tidak sedikit. Untuk satu orang peserta ekspedisi, total biaya yang dihabiskan terbilang fantastis, yaitu mencapai Rp 25 juta. Akses dan letak geografis yang sulit membuat pendakian ke puncak tertinggi di Oceania ini menjadi salah satu pendakian termahal di dunia.

"Satu orang anggota kami habis Rp 25 juta. Dana itu didapat dari sponsor swasta dan dana dari universitas sendiri," ungkap Ulung.

RECOMMENDED BY EDITOR