Brilio.net - Merazia gelandangan, pengemis, dan orang gila adalah tugas Heru Sutiyono (45) salah satu Satpol PP di Kudus, Jawa Tengah. Tapi dari interaksinya dengan orang-orang yang biasa diacuhkan itu, kini ia punya aktivitas mulia, yakni merehabilitasi orang gila. Setahun lalu, Heru sengaja mendirikan Yayasan Jalma Sehat sebagai pusat rehabilitasi orang gila.

Yayasan Jalma Sehat terletak di Desa Bulung Kulon No. 150 Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Tempat tersebut jauh dari suasana perkotaan, kanan kirinya merupakan lahan bertani warga setempat. Tapi berkat tangan dingin Heru beserta lima pagawai yang ia pekerjakan untuk mengurusi orang gila, banyak orang gila yang bisa kembali normal setelah direhabilitasi di tempat tersebut.

Berbekal uang pribadi, Satpol PP ini rawat orang gila, mulia sekali

Heru mengungkapkan bahwa interaksi setiap hari membuat ia tak tega dan memikirkan solusi bagaimana caranya menyembuhkan orang gila. Ketika ia dan istrinya sepakat ingin berbagi rezeki, maka ide untuk membuat tempat rehabilitasi orang gila tercetus.

"Ingin menyalurkan rezeki yang tepat sasaran. Karena setiap hari ketemu mereka, maka saya ingin memutus rantai peredaran orang gila," terang Heru kepada brilio.net, Selasa (16/6).

Berbekal uang pribadi, Satpol PP ini rawat orang gila, mulia sekali

Heru menerangkan jika selama satu tahun berdiri, total ada 86 orang gila yang pernah dirawat di tempat tersebut. Saat ini yang masih direhabilitasi ada 34, sisanya sebagian besar sembuh dan pulang ke daerah masing-masing. Sebagian kecil saja yang kabur saat masih menjalani rehabilitasi.

Untuk mengurusi 34 orang gila, mulai dari makan, pakaian, hingga obat-obatan, semua menggunakan biaya pribadi Heru. Gajinya sebagai Satpol PP yang tak cukup besar tak membuat ia mundur untuk memanusiakan orang gila. Bersyukur ia punya beberapa usaha seperti tempat penggilingan padi, laundry, dan bengkel yang bisa menopang kehidupan sehari-hari para pasien Jalma Sehat.

Berbekal uang pribadi, Satpol PP ini rawat orang gila, mulia sekali

"Saya pernah kepikiran sejumlah itu makannya dari mana, tapi nyatanya mereka bisa makan 3 kali sehari dan minum obat sampai saat ini," terang pria yang mengaku hanya lulusan STM ini.

Ia mengungkapkan bahwa tak ada sedikit pun niat untuk mengeruk keuntungan dari yayasan ini atau pun memintakan bantuan ke pihak lain. Prinsipnya, selama ia kuat untuk membiayai maka ia tetap menerima orang gila untuk direhabilitasi.