Brilio.net - Setiap orang tentunya memiliki pengalaman kesuksesan yang unik dan menarik. Pepatah China "orang sukses tidak santai, orang santai tidak sukses" kini telah dibuktikan oleh kepala sekolah salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Papua, Anthon Karuh (48).

Kesuksesan yang diperoleh oleh Anthon bukanlah sesuatu yang instan melainkan diperoleh melalui berbagai perjuangan yang tidak mudah. Anthon bukanlah anak dari orang kaya, ayahnya hanya berprofesi sebagai tukang sol sepatu, tapi tekatnya untuk meraih kesuksesan mampu membuatnya melawan kendala kemiskinan yang dialami keluarganya.

"Kelas 5 SD saat masih berada di Makassar adalah masa-masa paling sulit, buat makan saja susah dan saya pikir apabila saya masih menetap di Makassar besar kemungkinan saya akan putus sekolah, maka dari itu saya memutuskan untuk merantau dan ikut bersama paman saya ke Papua," cerita Anthon kepada brilio.net melalui layanan bebas pulsa storytelling, Kamis (29/10).

Bukan hal mudah baginya untuk berpisah dan tinggal berjauhan dari orang tua, tapi hal itu harus dilakukannya demi mendapatkan cita-citanya mengenyam pendidikan yang lebih baik. Akhirnya dia pun ikut dengan pamannya ke Papua. Sadar bahwa dirinya menumpang di rumah pamannya, Anthon pun tahu diri dengan melakukan berbagai kerjaan rumah demi meringankan beban pamannya. Semua pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel dan menyiapkan sarapan dilakukannya sebelum ke sekolah.

"Jarak rumah dan sekolah tidaklah dekat, saya harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk tiba di sekolah, tapi itu bukanlah masalah besar asalkan saya masih bisa sekolah," ujar Anthon.

Loading...

Berapa uang jajan Anthon? Jangan tanya soal itu. Selama sekolah, uang jajan adalah hal yang mustahil untuk diperolehnya, bisa sekolah saja sudah menjadi kesyukuran yang luar biasa.

Anthon sadar bahwa pamannya yang hanyalah pensiunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) waktu itu tidaklah memiliki uang yang cukup banyak untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari Anthon. Jadi anak dari lima bersaudara ini juga memutuskan membantu ekonomi pamannya dengan mengumpulkan batu kali sepulang sekolah untuk kemudian dijual ke mereka yang akan membangun rumah. Hal itu dijalani Anthon dengan penuh kesabaran hingga lulus sekolah menengah atas (SMA).

Tahun 1986 menjadi awal kegundahan Anthon berikutnya, saat itu dia telah menyelesaikan SMA dan akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, pamannya tidak bisa lagi membiayai pendidikannya. Dia memberanikan diri mendaftar sebagai mahasiswa jurusan ekonomi di salah satu kampus negeri yang ada di Papua. Namun kondisi ekonomi harus membuat Anthon melepaskan mimpinya menjadi mahasiswa, dia harus berhenti kuliah karena tidak mampu membayar biaya kuliah.

"Ya, saya berhenti kuliah karena tidak punya uang tapi bukan berarti saya menyerah, saya memilih bekerja serabutan untuk sementara waktu, saya menjadi buruh, kondektur dan sopir taksi, semuanya saya jalani asalkan bisa menghasilkan uang," lanjutnya.

Butuh waktu beberapa tahun bagi Anthon untuk bisa mengumpulkan uang untuk kembali melanjutkan pendidikan. Penghasilan yang diperolehnya pas-pasan sehingga hampir seluruhnya habis untuk makan dan hanya menyisihkan sedikit untuk ditabung.

Menyerah? Tidak. Tekat Anthon untuk menjadi sarjana sudah bulat sejak dia meninggalkan kota kelahirannya, pantang baginya untuk mengeluh apalagi menyerah. "Uang terkumpul dan saya putuskan kembali datang memohon ke universitas dan melanjutkan sekolah, sebenarnya saya ingin melanjutkan S1 saya, namun apa daya uang yang saya punya hanya cukup untuk D3 dan tetap menjadi sopir taksi," cerita ayah dari dua orang putri ini.

Kuliah sambil kerja dilakoni Anthon hingga sarjana. Memang tidak mudah, tapi lambat laun hasil dari usahanya mulai terlihat, dia lulus dari perguruan tinggi dengan hasil yang sangat baik.

Kemudian dia mencoba peruntungan mendaftarkan diri sebagai calon pegawai negeri. Awalnya dia ragu, namun peluang itu tetap dicobanya. Diluar dugaan ternyata Anthon berhasil menjadi pegawai negeri. Sejak saat itulah hidupnya mulai mengalami perubahan.

Sosok Anthon yang memiliki cita-cita untuk selalu memperoleh pendidikan membuatnya tidak cepat puas, akhirnya dia melanjutkan studi S1 hingga S2nya. Karirnya sebagai pegawai negeri juga semakin baik hingga dia mendapatkan kesempatan menjadi kepala sekolah salah satu SMP yang ada di Papua.

Bukan Anthon kalau dia berhenti sampai di situ saja, dia masih berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan S3. "Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya peroleh, anak tukang sol sepatu kini bisa menempuh pendidikan, saya tidak punya modal banyak, tapi saya punya modal keinginan dan kerja keras yang tidak pernah habis meski tanpa biaya sekalipun, yakinlah tekat yang kuat dapat mengalahkan apapun rintangannya," tandas Anthon.

Cerita ini disampaikan oleh Anthon Karuh melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu!

RECOMMENDED BY EDITOR