Brilio.net - Di Sayidan yang dinyanyikan Shaggydog bisa dibilang sebagai lagu legendaris. Lagu ini sangat popular di kalangan penikmat musik ska. Di Sayidan yang bercerita tentang sebuah gang kecil di tepi kali Code, Yogyakarta ini pun menjadi lagu wajib setiap kali Shaggydog manggung.        

Selama ini Di Sayidan dinyanyikan dalam genre ska. Namun ada yang beda ketika Shaggydog berkolaborasi dengan Iga Massardi, Kunto Aji dan Sal Priadi. Mereka menggandeng Puspa Jelita, grup seniman orkes keroncong di Yogyakarta menyanyikan Di Sayidan dalam versi keroncong. 

Hasilnya sangat luar biasa. Di Sayidan punya warna baru tanpa meninggalkan ciri khasnya, lagu yang easy listening dengan lirik yang lugas. Versi ini sekaligus menjadi karya produktif Lilik Sugiyarto, keyboardist Shaggydog.

Di Sayidan versi keroncong © 2021 brilio.netDok.Indosat Ooredoo

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Kolaborasi ini merupakan episode terakhir tayangan series dokumenter Collabonation Road to Unity-Bersatu untuk Bangkit besutan Indosat Ooredoo. Sebelumnya, para musisi Collabonation berkolaborasi dengan sejumlah musisi dan seniman seperti Barata Sena dan Gondrong Gunarto (Solo), Navicula (Denpasar), dan Mocca (Bandung).

Lantas, bagaimana kisah perjalanan dan pelajaran yang didapat para musisi Collabonation selama menyambangi markas Shaggydog di Yogyakarta?

1. Pelajaran berharga saat menyambangi Doggy House

Di Sayidan versi keroncong © 2021 brilio.netInstagram @shaggydogjogja

Di Yogyakarta, Iga, Kunto, dan Sal bukan sekadar bermusik. Mereka juga mendapat pelajaran berharga dari Shaggydog, kelompok musik yang telah berkarya selama 24 tahun. Saat menyambangi Doggy House, markas Shaggydog, mereka sangat salut dengan penghargaan yang diraih kelompok musik yang didirikan pada 1 Juni 1997 di Sayidan, Yogyakarta ini.

Bukan cuma itu, kelompok musik beraliran ska, reggae, jazz, dan swing ini juga memperlihatkan bahwa menjadi sebuah band tidak melulu mengenai panggung pertunjukkan. Masa pandemi menjadi momentum yang tepat bagi Shaggydog untuk kembali melihat apa yang selama ini mereka kerjakan dan lakukan, learn to pause. Selain itu, Shaggydog juga berusaha membantu orang-orang terdekatnya. “Migunani tumraping liyan, hidup itu harus berguna untuk yang lain,” kata Heru Wahyono, vokalis Shaggydog.

2. Membantu seniman tradisional

Di Sayidan versi keroncong © 2021 brilio.netInstagram @shaggydogjogja

Di masa pandemi, mereka saling bantu. Bukan hanya sesama personel Shaggydog. Untuk membantu para crew, Shaggydog memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan konser virtual dengan membawakan lagu-lagu Shaggydog. Hasil penjualan tiket dari konser virtual tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh crew Shaggydog dan crew band lain di Yogyakarta.

“Di Jogja, para seniman tradisional merupakan kelompok yang sangat terdampak pandemi. Oleh karena itu, kami berharap dengan dibuatnya versi keroncong lagu Di Sayidan, kami dapat bersinergi menciptakan sebuah karya dan juga energi baru sekaligus membantu para seniman tradisional yang ada di Jogja, khususnya seniman keroncong,” papar Heru.

3. Bukan sekadar kelompok musik

Di Sayidan versi keroncong © 2021 brilio.netIndosat Ooredoo

Mendapat pelajaran berharga ini, Iga melihat Shaggydog bukan hanya sebuah unit musikal, namun juga menebar dampak sosial terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Melalui pembuatan label, merchandise, hingga menciptakan kolaborasi penampilan. Ini tentunya sangat memiliki dampak positif ke roda perekonomian orang-orang di sekitar yang tentunya sangat bermanfaat, khususnya di masa-masa seperti saat ini,” papar Iga.

4. Pentingnya berkolaborasi

Di Sayidan versi keroncong © 2021 brilio.netIndosat Ooredoo

Melalui rangkaian episode tayangan series dokumenter Collabonation Road to Unity, para musisi Collabonation belajar bahwa karya yang istimewa tidak lahir dari hitungan hari, namun dibutuhkan perjalanan panjang untuk bangun, bangkit dan tetap bertahan.

Perjalanan ini begitu banyak mengajarkan bahwa sesuatu yang lahir dari hati, tidak hanya melahirkan karya-karya terbaik, namun juga formulasi untuk banyak melewati masa sulit. Dengan tetap berjalan bersama dan membuka diri untuk berkolaborasi, kita tidak hanya mampu bangkit dan bertahan sendiri, namun juga bermanfaat bagi banyak orang.

(brl/red)

RECOMMENDED BY EDITOR