Brilio.net - Kajian baru mengenai transmisi atau cara penularan corona telah diluncurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dokumen berjudul Transmission of SARS-CoV-2: Implication for Infection Prevention Precautions merupakan pembaruan dari ringkasan ilmiah berjudul Modes of transmission of virus causing COVID-19: Implications for Infection Prevention and Control (IPC) Precaution Recommendations yang dipublikasikan pada 29 Maret 2020. Termasuk juga bukti ilmiah baru mengenai transmisi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

corona udara pixabay

foto: pixabay.com

WHO juga mengeluarkan bukti ilmiah mengenai transmisi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19. Pada bagian mode transmisi, disebutkan sejumlah kemungkinan mode penularan corona COVID-19, di antaranya kontak langsung, droplet (air liur), udara (airborne), fomite, fecal-oral, darah, penularan dari ibu ke anak, dan penularan dari hewan ke manusia.

Meskipun penularan virus corona melalui airbone (udara) adalah hal langka. Namun, semakin banyak bukti ilmiah yang memperlihatkan bahwa penularan SARS-CoV-2 melalui udara bisa terjadi, penting untuk lebih waspada.

Dilansir brilio.net dari situs resmi WHO pada Jumat (10/7), terdapat beberapa laporan terkait penularan virus corona lewat udara, yang dikombinasikan dengan penularan droplet, di dalam ruangan. Seperti selama latihan paduan suara, makan atau berada di restoran, dan di pusat kebugaran.

corona udara pixabay

foto: pixabay.com

Untuk kasus ini, disebutkan bahwa transmisi aerosol jarak pendek, khususnya di ruangan tertutup tertentu, seperti ruang yang penuh sesak dan tidak bervintalasi selama periode waktu yang lama dengan orang yang terinfeksi tidak dapat dikesampingkan.

Perlu diperhatikan adalah virus dapat bertahan di udara selama berjam-jam di dalam ruangan tertutup. Risiko menginfeksi orang lain pun tak dapat dihindari. Bahkan, dapat menggambarkan apa yang terjadi pada peristiwa super-spreader.

"Lingkungan kontak yang dekat dari klaster-klaster ini mungkin telah memfasilitasi transmisi dari sejumlah kecil kasus ke banyak orang lain, misalnya peristiwa sper-spreader, terutama jika kebersihan tangan tidak dilakukan dan masker tidak digunakan ketika jarak fisik tidak dipertahankan," tulis WHO.

Di tulisan itu dijelaskan bahwa fisika dari udara yang diembuskan dan fisika yang dialirkan dapat menghasilkan hipotesis tentang kemungkinan mekanisme transmisi SARS-CoV-2 melalui aerosol.

Teori-teori ini menunjukkan bahwa sejumlah droplet menghasilkan aerosol mikroskopis (<5 μm) dengan cara menguap, dan orang yang sedang berbicara menghasilkan aerosol yang dihembuskan.

Itu mengapa orang yang rentan dapat menghirup aerosol, dan dapat terinfeksi jika aerosol mengandung virus corona dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan infeksi di tubuh si penerima.