Brilio.net - Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mulai dari mengonsumsi makanan yang sehat hingga giat berolahraga. Pasalnya, saat ini banyak sekali penyakit berbahaya yang mengintai.

Salah satunya adalah penyakit jantung, penyakit ini menjadi yang paling menakutkan bagi semua orang di dunia. Kendati umumnya penyakit ini banyak dialami oleh orang lanjut usia. Namun seiring waktu, saat ini penyakit jantung juga banyak anak muda bahkan semua umur.

Penyakit kelainan jantung banyak sekali jenisnya. Salah satunya adalah aritmia. Jenis penyakit jantung ini adalah penderita akan mengalami gangguan irama jantung karena masalah kelistrikan jantung yang merupakan bagian dari sistem jantung manusia.

Sebenarnya, orang kerap mengalami jantung berdebar. Namun bila jantung berdebar diikuti dengan kepala keliyengan, bahkan hingga pingsan disarankan untuk merujuk ke rumah sakit.

Sayangnya, aritmia kerap tidak terdeteksi, padahal bila tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan jantung secara permanen hingga kematian mendadak.

Loading...

Dokter spesialis RS MMC, Sunu Budhi Raharjo, PhD, SpJP (K) mengatakan jantung berdebar merupakan keluhan awal yang paling sering dirasakan pasien dengan gangguan aritmia.

"Harus diidentifikasi berdebarnya apakah normal atau tidak," jelas dr. Sunu dalam acara talkshow “MMC Hospital Introducing: Integrated Cardiovascular Centre” di Jakarta.

Ditemui ditempat yang sama, Spesialis Kardiovaskular dari RS MMC, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), menjelaskan bahwa normalnya, jantung berdenyut sebanyak 50-90 kali per menit. Saat jantung berdenyut cepat dia akan berdetak hingga 200 kali per menit. Sementara itu, denyut jantung melambat ketika denyut irama jantung terhitung 40 kali per menit.

Ia menambahkan, penyakit ini terjadi akibat pembentukan dan penjalaran impuls listrik sehingga menimbulkan denyut jantung yang tidak beraturan. Ada dua jenis aritmia yakni denyut jantung berdetak cepat disebut takiaritmia, sebaliknya denyut jantung yang melambat dikenal sebagai bradiaritma. Dua kondisi ini bisa membahayakan karena sama-sama bisa mengganggu suplai darah ke jantung.

Sementara itu, untuk menangani penyakit ini ada berbagai cara, salah satunya adalah dengan metode pemasangan Left Atrial Appendage (LAA) Closure, yang diyakini sebagai strategi penanganan terbaik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penggumpalan (pembekuan) darah di serambi jantung kiri.

Selain itu, ada pula metode lainnya yakni Ablasi Kateter Elektronis, yang lebih ampuh untuk menyembuhkan total yang tidak hanya meringankan gejala, dengan tingkat keberhasilan sekitar 97%.

Ini merupakan tindakan medis dengan minim invasif (tanpa operasi) bagi penderita aritmia. Dengan menggunakan kateter elektroda yang akan dipasang di pembuluh darah vena atau arteri di lipatan pangkal paha ditujukan untuk ke jantung, ujung kateter elektroda akan menghancurkan sebagian kecil jaringan sistem hantaran listrik yang mengganggu irama di jantung hingga normal kembali.

RECOMMENDED BY EDITOR