Brilio.net - Masih hangat di ingatan pada 2019, konten traveling selalu menjadi primadona di Instagram. Rasanya setiap hari pasti ada teman jalan-jalan ke destinasi eksotis yang terlihat seperti negeri dongeng. Maklum, harga tiket pesawat sedang murah-murahnya dan banyak juga promosi yang menarik untuk kantong anak muda saat itu.

Begitu masuk 2020, semuanya berubah. Pada tahun ini, kita diajarkan pentingnya kesehatan. Ternyata jatuh sakit tak hanya berat di tubuh tapi juga di kantong. Belum lagi jika kamu tak punya asuransi kesehatan atau jaminan BPJS, sekalinya sakit, dana untuk traveling bisa menguap cepat.

Isi feed Instagram kini juga mulai berganti. Yang dulunya penuh dengan liburan seru, kini menjadi penuh unggahan gaya hidup sehat. Mulai dari tren bersepeda, masakan rumahan, sampai hobi bertanam kini mulai digemari. Tren 'kembali ke alam' ini sekarang mulai populer. Nah, salah satu tren yang sedang naik daun adalah gaya hidup vegetarian.

Banyak yang masih bingung membedakan antara vegetarian dan vegan. Singkatnya, vegan adalah mereka yang benar-benar 100% menghindari produk hewani dalam keseharian. Hal ini termasuk makanan yang sehari-hari dikonsumsi. Sedangkan vegetarian masih bisa mengonsumsi produk hewani dalam berbagai kadar.

"Jadi vegetarian itu adalah pola makan yang mayoritas dari sumber nabati," ujar Maria Stephanie, Co-Founder @letusee.YK, sebuah katering makanan dan advokat literasi makanan sehat yang berbasis di Yogyakarta.

Loading...

liputanveganletusee istimewa

foto: Instagram/@letusee.yk

Wanita yang akrab dipanggil Steffi ini juga menambahkan bahwa ada berbagai jenis vegetarian. Mereka yang masih mengonsumsi susu dan produk olahannya disebut sebagai lacto-vegetarian. Ada juga yang masih menikmati susu dan telur atau biasa disebut sebagai ovo lacto vegetarian. Menariknya, ada juga semi-vegetarian yang masih mengonsumsi produk hewani tapi dalam porsi sedikit.

"Contohnya Senin-Jumat itu diet ketat lacto-ovo vegetarian, tapi nanti weekend dia bisa konsumsi misalnya ikan atau seafood. Nah, kalau vegan itu 100% hanya konsumsi nabati tanpa hewani sama sekali," tambahnya.

Sumber makanan nabati ternyata mempunyai peranan penting bagi tubuh. Steffi mengatakan bahwa makanan nabati penting untuk usus. Organ pencernaan ini mempunyai banyak sekali mikroorganisme yang bergantung pada asupan nabati.

"Mereka (mikroorganisme) makan dari serat-serat yang banyak didapat dari makanan nabati. Kalau makanan nabati, selain kita memberi makan diri kita sendiri, kita juga memberi makan para mikroorganisme dalam tubuh kita. Yang kemudian, timbal baliknya mikroorganisme tersebut ikut menjaga kekebalan tubuh kita," tegasnya.

Menjadi seorang vegetarian ternyata bukan langsung menjadi sebuah gaya hidup sehat yang cocok bagi semua orang. Steffi yang baru saja menyelesaikan studi pascasarjana di Jurusan Ilmu Pangan, Universitas Queensland Australia ini mengatakan bahwa pola makan hidup sehat sebenarnya tak bisa disamaratakan antara satu orang dengan yang lainnya.

"Pola makan sehat itu sangat subjektif. Contohnya ada seseorang yang punya kondisi jika mengonsumsi makanan hewani banyak akan menurunkan kesehatannya. Otomatis dia harus mengurangi porsi makanan hewani atau beralih sepenuhnya ke vegan," ujarnya.

"Ada juga orang-orang yang bisa sehat jika tetap makan sumber-sumber hewani. Misal sel darah merahnya rendah, maka sebaiknya tetap mengonsumsi sumber hewani, terutama daging merah," ungkapnya.

Menurutnya, pola makan hidup yang sehat harus mengikuti anjuran dokter secara medis. Dia juga menambahkan bahwa menjadi seorang vegan merupakan tantangan berat karena setiap orang memiliki kebutuhan gizi dan nutrisi yang berbeda-beda pula.

Gaya hidup vegetarian wujud membalas budi kepada Bumi

Chindy Christine, mahasiswa S2 dari University of Western Australia ini mencicipi gaya hidup vegetarian saat awal dirinya merantau di Jakarta. Lulusan universitas terkemuka di Yogyakarta ini mengatakan sudah ingin menjadi seorang vegetarian sejak lama tapi belum menemukan dorongan dan momen yang pas.

liputanveganletusee istimewa

foto: Instagram/@chindygogreen

"Sebenarnya pengen jadi vegetarian sudah lama, tapi bayanganku susah cari makannya. Untuk cari proteinnya dari mana? Karena belum banyak seminar tentang makanan saat itu," ungkapnya saat dihubungi Brilio.net beberapa waktu lalu.

Pandemi dan eksperimennya menjadi seorang vegetarian ternyata mengajarkan banyak hal bagi Chindy. Selain merasa lebih sehat, dia mengaku bahwa bisa berhemat dengan menjadi vegetarian.

"Pertama aku mikirnya kalau jadi vegetarian di Jakarta pasti bakal mahal, karena yang biasa dijual murah, yang mudah dicari, itu kan ayam goreng, ayam geprek. Restoran vegetarian yang ada di Jakarta itu yang sekelas restoran dalam mal, ya. Tapi karena Covid, aku malah lebih sering masak, jadinya malah lebih murah," terangnya.

"Terutama berat badan, ya. Dulu waktu kuliah 70 kg, sampai sekarang sudah turun 8 kg. Karena aku mengatur porsi makan juga, nggak cuma karena vegannya itu," ucap wanita yang pernah menjadi konsultan pendidikan ini.

Chindy juga mengatakan bahwa bukan hanya alasan kesehatan yang menjadi motivator utamanya menjalani gaya hidup vegetarian. Dia juga ingin berkontribusi terhadap krisis iklim yang semakin memburuk dari hari ke hari. Chindy sadar bahwa kontribusi dari satu orang saja pastinya sangat kecil.

"Masih inget nggak dengan kebakaran hutan Amazon di awal tahun ini (2020.red)? Itu kan sebenarnya karena sektor peternakan butuh lahan dan makanan, jadi mereka harus membuka hutan secara rutin, mungkin pas melakukan itu tidak sesuai proses ya atau berlebih," kenangnya.

Sama cerita dengan Chindy, Fransisca Kusumastuti juga mempunyai alasan lain menjalani gaya hidup sehat. Dia mengaku tak tega melihat hewan disembelih dan dikonsumsi oleh manusia.

"Pas lihat hewan di-slaughter untuk memenuhi kebutuhan manusia, aku berasa hancur, nggak bisa makan gitu. Aku bener-bener menolak membunuh hewan untuk dimakan. Karena aku punya kepercayaan hewan itu punya hak hidup juga seperti kita," ujarnya memulai pembicaraan ketika dihubungi Brilio.net.

Tapi Sisca, panggilan akrabnya, belum bisa sepenuhnya melepaskan diri dari produk hewani. Dia mengaku masih menjadi lacto-ovo vegetarian. Dia hanya mengonsumsi susu dan telur untuk kebutuhan gizinya. Banyak sekali tantangan yang harus ia lewati untuk menjalankan gaya hidup vegetarian.

"Kalau yang vegan itu tergolong mahal dan sulit ya di sini. Keluarga pun juga sudah memahami, jadi untuk makanan selalu dipisah. Untuk penyedap rasa masih ada sedikit bahan dari ayam atau sapi, ya masih bisa aku makan. Baru tahun kemarin aja kan sudah ada penyedap dari jamur," tambahnya.

Sisca belajar menjadi vegetarian sejak 2013. Dia memulainya dengan tidak mengonsumsi hewan berkaki seperti olahan ayam, sapi, dan kambing. Tapi dia masih mengonsumsi ikan, telur, dan susu. Baru pada 2016, dirinya memantapkan diri menjadi seorang vegetarian. Keluarganya juga mendukung pilihan hidupnya.

liputanveganletusee istimewa

foto: Instagram/@laloonymoony

"Yang aku rasain jadi jarang sakit, ya. Dulu sering sakit perut. Kalau sekarang paling ya pusing biasa. Dulu badan berat banget. Sekarang jadi enteng. Keluarga sangat mendukung. Kelihatan saat makan di luar kebanyakan mereka bakal milihin tempat yang ngasih choice vegan. Pun kalau tidak ada pilihan vegan, dagingku akan aku sisihin buat dimakan sama mereka," tambahnya.

Untuk makanan kesukaan, Sisca jujur masih kangen dengan rasa dan tekstur daging. Tapi dia tetap memilih untuk tidak memakan daging yang berasal dari hewani. Menurutnya, sekarang banyak restoran yang menawarkan daging artifisial yang terbuat dari jamur dan bahan lain-lain.

"Kita selama ini hanya mengambil saja dari bumi, seperti hewan-hewannya. Semuanya dieksploitasi dan kita tak memberikan kembali ke bumi. Aku ingin dengan menjadi vegetarian itu menjadi caraku untuk membalas budi ke Bumi dengan tidak menyakiti planet ini," tutupnya.

RECOMMENDED BY EDITOR