Brilio.net - Pelabuhan selalu menjadi pusaran ekonomi. Sejak zaman dahulu pelabuhan kerap menjadi pusat aktivitas perdagangan baik barang dan jasa. Banyak orang yang menggantungkan nasib mereka pada keberadaan sebuah pelabuhan.

Namun seiring perkembangan zaman dan pertumbuhan jumlah penduduk, stigma negatif pun melekat pada pelabuhan. Salah satu wilayah pesisir yang menjadi tempat bersandarnya kapal ini kerap diidentikan dengan lokasi yang kumuh dan penuh dengan pungutan liar (pungli).

Pelabuhan Merak pada 1932 (Dok Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)

Malah ada juga yang beranggapan pelabuhan menjadi lahan subur bagi para preman mencari nafkah. Intinya, pelabuhan adalah tempat yang menyeramkan, penuh dengan kekerasan. Bukan cuma itu, pelabuhan juga sering diidentikan dengan tempat-tempat hiburan malam, khususnya yang berkaitan dengan pemuas syahwat.

Salah satu pelabuhan yang punya sejarah panjang dan cukup fenomenal di Indonesia adalah pelabuhan penyeberangan Merak. Daerah yang masuk dalam wilayah administratif Kota Cilegon Provinsi Banten ini merupakan pintu menuju Pulau Sumatera atau sebaliknya.

Loading...

Pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni kini terus berbenah untuk memberikan pelayanan kepada pengguna jasa penyeberangan 

Di zaman kolonial, Merak menjadi salah satu wilayah permukiman yang cukup disukai warga Eropa. Maklum, wilayah di pesisir barat Pulau Jawa ini merupakan salah satu nadi sektor ekonomi yang penting. Bahkan selama masa Perang Dunia II, tepatnya pada 1 Maret 1942, Pelabuhan Merak yang mulai beroperasi pada 1912 ini menjadi salah satu titik sentral mendaratnya pasukan pertama dari divisi kedua, pasukan utama serangan Jepang. Angkatan perang Negara Matahari Terbit itu mendarat di Merak tanpa diganggu pasukan perlindungan pantai Belanda. Pasukan Jepang ini pun bisa dengan leluasa dan bergerak cepat melintasi jalan-jalan utama menuju Batavia (sekarang Jakarta).

Di awal berdirinya (1912), pelabuhan Merak menjadi “jembatan” penghubung ke Pulau Sumatera. Posisi Selat Sunda yang berada di antara Jawa dan Sumatera merupakan jalur strategis perdagangan. Saat itu pemerintah Hindia Belanda memanfaatkan kereta api sebagai transportasi utama untuk menunjang aktivitas perpindahan barang komoditi dari Jawa ke Sumatera dan sebaliknya.

Tidak dipungkiri kini jasa penyeberangan menggunakan feri menjadi salah satu moda transportasi pilihan masyarakat  

Ketika itu pemerintah Hindia Belanda menunjuk perusahaan kereta api yang bernama Staatsspoorwegen untuk mengelola bidang transportasi di wilayah Banten. Pelabuhan Merak menjadi ujung rel kereta jalur Tanah Abang, Jakarta ke Merak. Pelabuhan Merak juga menjadi penunjang kegiatan Hindia Belanda untuk melakukan ekspor dan impor barang dari Indonesia ke luar negeri dan sebaliknya.

Pasca kemerdekaan pengeloaan pelabuhan berganti-ganti mengikuti perkembangan politik pemerintahan. Hingga tahun 1948, aktivitas ekspor barang ke luar negeri masih dilakukan di Pelabuhan Merak. Pada 1952, pemerintah Indonesia ketika itu membuka Pelabuhan Panjang di Lampung. Sejak itulah jalur resmi Merak-Lampung dibuka.   

Kemudian pada 1970, saat pemerintah Indonesia mulai membangun Pelabuhan Bakauheni, pelabuhan bayangan sementara yakni Pelabuhan Srengsem dioperasikan hingga akhirnya Pelabuhan Bakauheni beroperasi pada 1980. Sejak saat itulah pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi “jembatan” penghubung Jawa-Sumatera.     

2 dari 3 halaman

Peradaban baru dimulai

Pengguna jasa penyeberangan Merak-Bakauheni kini lebih nyaman dengan keberadaan terminal eksekutif

Stigma negatif pelabuhan boleh jadi masih berlaku 5-10 tahun silam. Namun kini, jangan heran begitu menyaksikan Pelabuhan Merak-Bakauheni wajahnya sama sekali berbeda. Tidak ada lagi kekumuhan, pungli, apalagi gaya preman di kedua pelabuhan ini.

Terlebih dengan hadirnya Terminal Eksekutif Sosoro Merak dan Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni yang menjadi peradaban baru sebuah pelabuhan yang notabene sebagai salah satu “jembatan Nusantara”. Kini sulit membedakan antara pelabuhan Merak-Bakauheni dengan pusat perbelanjaan (mall). Maklum, wajah kedua pelabuhan tersebut benar-benar beda.        

Salah satu fasilitas di Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni

“Pelabuhan sekarang tidak lagi seperti imej kita 5 atau 6 tahun lalu. Di mana pelabuhan dikenal sebagai tempat yang kumuh, banyak pungli, tempat preman, menyeramkan. Kita ingin meningkatkan peradaban. Saat ini ASDP sedang elevating civilization to the next level,” ujar Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi saat jumpa pers di hadapan awak media dari atas kapal feri saat menuju Pelabuhan Bakauheni untuk menghadiri malam puncak H(Art)Bour Festival, Sabtu (15/2).

Transformasi yang dilakukan ASDP karena ingin memberikan pelayanan yang jauh lebih baik kepada pengguna jasa penyeberangan laut. Bahkan Ira tak malu menyebutkan bahwa dimulainya peradaban baru di pelabuhan setelah melihat contoh sukses yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Dulu kondisi serupa juga dialami dunia perkerataapian. Banyak penumpang “gelap” yang tak memiliki tiket. Selain itu tidak sedikit penumpang yang berada di atap gerbong. Tapi kini pemandangan itu tak lagi terlihat. PT KAI sudah melakukan transformasi yang luar biasa dan lebih beradab.       

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi 

“Saya tidak malu menyontoh PT Kereta Api Indonesia. Yang tadinya soal keselamatan penumpang kurang diperhatikan, banyak juga yang tidak beli tiket. Sekarang tidak ada lagi hal semacam itu. ASDP juga melakukan transformasi di banyak hal misalnya digitalisasi, pembayaran dengan non tunai. Itu yang sudah kita mulai. Kita tidak malu mengikuti jalan peningkatan peradaban dan pelayanan yang dilakukan PT KAI,” lanjut perempuan kelahiran Malang, 12 Desember 1967 itu.

Perempuan pemegang gelar Doktor Manajemen Stratejik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu juga sangat serius dalam mengubah wajah pelabuhan. Bukan sekadar sektor infrastruktur yang diperhatikan. Namun penyadang Master in Development Management Asian Institute of Management, Filipina dan Sarjana Sosial Ekonomi Peternakan dari Universitas Brawijaya, Malang ini juga ingin menjadikan pelabuhan sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi.

Fasilitas perbelanjaan yang ada di Terminal Eksekutif Sosoro Merak 

Hal ini terlihat dari digelarnya acara H(Art)Bour Festival yang dimulai sejak 21 Desember 2019 hingga 21 Februari 2020. Lewat gelaran bertajuk Memory Harbour ini, perempuan yang pernah menjabat Direktur Ritel, Jaringan, dan SDM PT Pos Indonesia dan Direktur Utama PT Sarinah (Persero) ini ingin menggugah dan meredefinisikan kembali makna pelabuhan kepada masyarakat.

Menurutnya, pelabuhan bak seni. Merupakan sebuah titik untuk melontarkan imajinasi, kemungkinan eksplorasi tempat-tempat serta pengalaman baru yang belum pernah dirasakan.  

“Peradaban tertinggi adalah penghargaan terhadap seni. Jadi kita ingin pelabuhan itu lebih beradab. Kalau kita sudah menghargai karya seni mestinya yang mendasar dari itu kita juga menghargai kebersihan, ketertiban, kerapihan. Lewat seni kita ingin menghargai dan meningkatkan peradaban di industri penyeberangan,” lanjut Ira.

3 dari 3 halaman

Mengget anak muda lewat destinasi wisata pelabuhan

Proses reservasi tiket di pelabuhan yang sudah menggunakan vending machine

Proses digitalisasi yang dilakukan ASDP tak lain untuk mengedukasi masyarakat dengan perkembangan teknologi. Selain itu, cara ini juga ingin menggaet anak muda untuk mulai memanfaatkan layanan pelabuhan sebagai moda transportasi yang menghubungkan antarpulau di Nusantara. Sebagai informasi, per 1 Maret 2020 mulai dari Pelabuhan Merak-Bakauheni hingga Ketapang-Gilimanuk, pemesanan tiket sudah bisa dilkukan secara online.    

Selain digitalisasi, wilayah sekitar pelabuhan, khususnya di Merak dan Bakauheni juga dipercantik. Tujuannya untuk dijadikan salah satu destinasi wisata. Apalagi saat ini ada perubahan perilaku pada keluarga yang ingin berlibur dari Lampung ke Jakarta atau sebaliknya. Mereka lebih memilih membawa kendaraan pribadi lalu menggunakan kapal feri. Dari sisi biaya sudah jelas lebih murah dibanding pesawat terbang.

Saat ini banyak keluarga yang memilih jalur penyeberangan untuk menuju destinasi wisata

“Kita sudah mulai dengan metode digitalisasi otomatis. Kita juga mengedukasi masyarakat menggunakan sistem digital. Diharapkan masyarakat bisa mampir ke destinasi wisata yang baru di sekitar Merak dan Bakauheni. Kita mulai dengan event-event yang menarik agar anak muda bisa lebih lama stay di pelabuhan,” ujar Ira.

Langkah ini pun disambut baik Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Nia Niscaya. “Saya menghargai upaya ASDP yang mengubah paradigma pelabuhan yang dulu kumuh, berantakan kini  lebih beradab,” kata Nia.  

Berbicara destinasi pariwisata tentunya tak lepas dari 3A (Akses, Akomodasi, Atraksi). Perubahan yang terjadi di Pelabuhan Merak-Bakauheni ini tak lepas dari upaya untuk menjadikan tempat ini sebagai salah satu destinasi wisata menarik.

Garbarata untuk menghubungkan terminal pelabuhan dengan kapal penyeberangan yang membuat pengguna semakin nyaman

“Jadi ASDP tidak hanya sebagai perusahaan transportasi, tapi juga bisa menjadi destinasi wisata dengan berbagai atraksi di dalamnya. Ada pengalaman yang bisa dirasakan pengunjung,” kata Nia.  

Gayung pun bersambut. Upaya peningkatan peradaban di pelabuhan Merak-Bakauheni juga disambut Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Menurutnya, Lampung memiliki beragam tempat wisata yang bisa dikembangkan menjadi destinasi pilihan seperti Anak Gunung Krakatau dan Pulau Kiluan yang merupakan surga tersembunyi “Sang Bumi Ruwa Jurai”.

Khusus di Pulau Kiluan misalnya, ratusan lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba snipper bisa dengan mudah dijumpai di tengah laut. Mereka menyapa ramah setiap orang yang dilihatnya dengan lompatan-lompatan indahnya.

Rooftop di Terminal Eksekutif Anjungan Agung yang juga menyediakan layar sinema sekaligus bisa dijadikan tempat pertemuan atau menggelar event 

“Pulau kiluan sekarang sudah menjadi cagar alam. Lebih dari itu tidak jauh dari situ kita juga ada wilayah terumbu karang yang bagus pada kedalaman 15 meter. Ini bisa menjadi destinasi wisata menyelam,” kata Arinal.

Yang jelas, pembangunan wajah baru pelabuhan sejatinya merupakan “mahakarya” dalam membentuk peradaban baru pada “jembatan Nusantara”.   

RECOMMENDED BY EDITOR