Brilio
×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
BRILIO >> Jalan-Jalan
T. Widyatmoko (brl/tis)

04 Juli 2019 10:48

Pengkhianatan di Mergangsan

Tentang menunggu dua jam hingga tiga jam demi seporsi mie instan..

Pengkhianatan di Mergangsan

View Image



Penampakan mie instan di Warung Bu Siti. (Foto: Ivanovich Aldino/Brilio.net)

Brilio.net - Kecamatan Mergangsan, Kota Jogja dibelah Jalan Sugiono ke utara dan selatan. Bagian selatan Mergangsan, diiris Jalan Sisingamangaraja, ke timur bertepi di Kali Code, ke barat berbatasan Jalan Parangtritis.

Jalan Sisingamangaraja, datang dari nama pahlawan Batak, bisa disasar dari perempatan Tungkak atau Pojok Beteng Wetan. Perempatan Tungkak terletak di ujung selatan Jalan Taman Siswa sebelum masuk Jalan Lowanu. Dari perempatan Tungkak ke barat, melalui jembatan Code kemudian bertemu pertigaan bermula Jalan Sisingamangaraja. Pojok Beteng Wetan ke timur, melewati mulut Museum Perjuangan yang selalu sepi, berjumpa ujung Jalan Sisingamangaraja.

Untup-untup di Jalan Sisingamangaraja sisi sebelah timur terdapat warung Sop Merah. Saya pernah kecele makan di Sop Merah. Namanya Sop Merah, tetapi setelah ditunggu yang datang kuahnya bening. Padahal di foto-foto media sosial yang viral warna kuah merah menyala?

Merah, kalau nama berasal dari pelanggan, kalau rupa bersumber dari pasta cabe. Kata pemilik warung, cabe merah besar sama cabe rawit merah digiling. Komposisinya satu merah besar banding dua rawit merah. Karena saya tidak doyan cabe, maka sop saya tetap bening. Warung itu satu hari bisa menjual 800 porsi sop. Pantas tak pernah sepi.

Geser sedikit ke selatan, masih di sisi timur jalan, ada Warung Bu Siti. Nama persisnya Warung Mie Nyemek Bu Siti. Cara baca nyemek, e pertama pepet; e kedua pepet. Warung ini dikelola generasi kedua keluarga Bu Siti. Jualannya mie instan rebus atau goreng.

Loading...

Uniknya, cuma seporsi mie instan pengunjung harus menunggu dua jam bahkan tiga jam.

Susahnya menunggu di sini, mata tidak terhibur jam pasir yang berputar bolak-balik. Tidak ada loading dengan persentase sehingga bisa menebak, berapa persen lagi penantian berakhir. Tidak ada panggilan sesuai nomor urut sehingga tidak tahu kurang berapa nomor lagi pesanan datang.

Dan yang ditunggu ini mie instan. Makanan dari nama saja sudah menunjukkan kodrati gegas. Genetikanya kesegeraan. Cepat dulu, baru mudah dibuat, lezat, hemat, dan sehat.

Yuk, tarik mundur ke muasal mie instan. Penemuan yang diakui rakyat Jepang sebagai inovasi terhebat abad ke-20 mengalahkan walkman, shinkansen, kamera digital, atau karaoke.

Alkisah 15 Agustus 1945, sehari setelah Jepang tunduk ke Sekutu, Momofuku Ando menyusuri jalanan kota Osaka. Matanya tertumbuk antrean panjang orang yang hendak membeli mie ramen. Muncul gagasan Ando membuat mie yang masaknya singkat. Ando menciptakan mie instan lewat bendera Nissin. Laris manis hingga menjadikan Nissin perusahaan gergasi dengan kapitalisasi pasar nyaris Rp 100 triliun. Patung Ando, kini tegak berdiri di depan pabrik.

Pendek kata, mie instan diciptakan Momofuku Ando karena orang kelamaan menunggu.

Nah, di Warung Bu Siti terjadi pengkhiatan sempurna terhadap suratan takdir mie instan. Seharusnya, mie instan maksimal lima menit saja hingga tersaji. Mengapa di Warung Bu Siti harus menunggu sampai dua jam bahkan tiga jam. Tak masuk akal! Terjadi kelipatan lama masak mie instan dari fitrahnya sampai lebih 2.000 persen. Sungguh terlalu!

Realitasnya warung ini ada dan tetap ramai. Penuh sesak dari petang sampai subuh.

Ada yang berpandangan, menunggu demi makanan enak bukan masalah. Sepadan penderitaan.

Banyak pula pendapat begini: bagaimana kalau perut tak mau kompromi. Sudah kadung lapar. Bagaimana pula dengan pepatah waktu adalah uang, yang seakan dicampakkan begitu saja.

Saya potongkan satu ilustrasi. Toko maya Amazon pernah meneliti kalau pelayanan kepada pelanggan molor satu detik saja berimbas kerugian senilai satu persen pendapatan perusahaan. Itu artinya, sedetik saja molor, Rp 22,6 triliun lesap dari kantong Amazon.

Anda boleh saja komentar, apaan sih ngebandingin Amazon sama Warung Bu Siti. Perimbangan apel dengan talok dong. Sebentar, jangan ngegas dulu. Itu cuma contoh saya betapa orang sekarang sangat menghargai waktu.

Lalu apa yang bisa menjelaskan, kenapa dua jam, tiga jam, untuk mie instan dan selalu ramai?

Mergangsan © 2019 brilio.net

Proses memasak mie instan di Warung Bu Siti. (Foto: Ivanovich Aldino/Brilio.net)

Mungkin ada diferensiasi, bumbunya bikinan sendiri. Saya lebih percaya karena adaptasi kearifan lokal. Target pasarnya memang bukan orang yang buru-buru karena lapar, tetapi terhadap mereka yang menjalani laku mat-matan. Kamus Jawa mengalihbahasakan mat-matan sebagai menikmati. Pakar kuliner Murdijati Gardjito menafsirkan mat-matan, lewat pengamatan tekun dan khusyuk terhadap Jogja, sebagai "merasakan sesuatu secara santai, perlahan, dengan perasaan".

Murdijati menyebutkan pagi biasanya orang Jogja sibuk menyiapkan hari, siang giat bekerja. Malam hari waktu paling tepat bersantai. Seperti gudeg atau mie Jawa misalnya, kebanyakan dasar malam hari.

Warung Bu Siti berada dalam positioning makan sambil santai. Buka pukul tujuh malam tutup dinihari, dalam semalam bisa habis lima dus mie instan. Memasaknya hanya dengan satu tungku dan satu wajan. Pengunjung yang terjebak maupun sadar diri pada laku mat-matan kemudian sekadar duduk atau kelekaran dengan bercengkarama, guyon, nonton tivi, mematut diri, juga selfie.  

Warung Bu Siti mengajari pelanggan keluasan tafsir tentang menunggu. Bahwa corak selimut menunggu itu tidak hanya marah, bosan, gelisah, atau rindu.

Menurut Jason Farman dalam Delayed Response, selama ini kita cenderung menghargai waktu individual daripada waktu kolektif. Waktuku urusanku, nggak ada urusannya dengan kamu. Kita hidup dalam kungkungan masa yang diciptakan sendiri hingga kemudian jargon gunakan waktumu dengan efektif menancap dalam benak.

Jika sadar waktu sebagai kolektif dibanding individu, kita bisa paham menunggu sebagai investasi yang merekatkan diri dengan lingkungan. Ada kalanya menunggu berarti sarana belajar, kreatif, dan membangun jejaring.

Seperti kata Henri Bergson, ketika waktu telah lewat, sesungguhnya kitalah yang melewati. Waktu bukan potongan-potongan. Bukan sekadar matematika berupa satuan-satuan detik, menit, jam. Waktu juga la duree atau keberlangsungan, seperti asyik gojekan tiba-tiba tak sadar makanan sudah disajikan.

Anak generasi Y dan Z punya diksi untuk ‘membatasi diri dengan waktu sudah tak relevan lagi’: enjoy aja lagi!

Oleh: Titis Widyatmoko

RECOMMENDED BY EDITOR

Pilih Reaksi Kamu



Tags

Esai Esai Ringan Yogyakarta
Loading...
Creator Banner

YUK GABUNG SEKARANG UNTUK DAPETIN
UANG TUNAI DARI HASIL KARYAMU!

Learn More Sign In
Tulis Komentar

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE