Brilio.net - Bicara soal Yogyakarta tidak ada habisnya karena memiliki banyak sekali destinasi wisata, kuliner, hingga bangunan bersejarah. Seperti Kandang Menjangan atau biasa disebut Panggung Krapyak. Gimana sejarahnya? Berikut ulasannya yang dirangkum brilio.net dari berbagai sumber, Jumat (23/9).

Kandang Menjangan merupakan sebuah bangunan peninggalan raja kesultanan Yogyakarta yang digunakan untuk tempat berburu oleh raja-raja. Dilansir dari laman pariwisata.jogjakota.go.id, Panggung Krapyak dibangun pada tahun 1760. Kandang Menjangan berdiri di wilayah yang dulu dikenal dengan Hutan Krapyak. Di sinilah putra dari pendiri sekaligus raja pertama Mataram Islam Panembahan Senopati wafat, tepatnya terletak di Kampung Krapyak, Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul.

Kandang Menjangan Yogyakarta, tempat para raja intai hewan buruan © 2022 brilio.net

© dok. Feni Listiyani

Bangunan yang memiliki bentuk persegi empat dengan luas 17,6 m x 15 m dan tinggi 10 m ini berdiri gagah di tengah perempatan Jalan Krapyak. Setiap sisi dari bangunan ini terdapat pintu yang diapit oleh dua jendela. Pintu dan jendela berbentuk persegi dengan lengkungan di bagian atasnya.

"Sebelum direnovasi, bangunan Panggung Krapyak ini tidak berwarna atau menyerupai warna tembok. Setelah adanya gempa 2006, bangunan ini direnovasi karena ada beberapa bagian yang rusak. Tembok dicat dengan warna putih dan ada beberapa yang diperbaiki agar kelestarian dari bangunan terjaga tanpa mengganti bentuk dari bangunan aslinya," ungkap Haryono, penjaga Kandang Menjangan, saat diwawancarai brilio.net pada Jumat(23/9).

Terdapat dua lantai pada bangunan ini, lantai pertama memiliki 4 ruang dan lorong pendek yang menghubungkan pintu dari setiap sisi. Kalau matahari bersinar terang, cahayanya akan menembus ke dalam lantai pertama bangunan lewat pintu dan jendela. Adanya sinar matahari membuat nuansa tua yang tercipta dari kondisi bangunan, serta udara yang lebih lembap dan dingin akan langsung menyerap.

Jika menuju salah satu ruang di bagian tenggara dan barat daya bangunan dan menatap ke atas, kamu bisa melihat sebuah lubang yang cukup besar. Dari lubang itulah raja-raja yang hendak berburu menuju ke lantai dua dengan dibantu sebuah tangga kayu yang kini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Dengan menatap ke atas pula, kamu bisa mengetahui bahwa terdapat sebuah atap untuk menaungi lubang yang kini telah ambruk, ditengarai berguna untuk mencegah air masuk.

 

Magang: Feni Listiyani

(brl/tin)

RECOMMENDED BY EDITOR