Brilio.net - Hingga saat ini, wanita berusia 75 tahun ke atas tidak dianjurkan untuk secara rutin melakukan pemeriksaan mammogram guna mendeteksi kanker payudara. Hal ini mungkin akan berubah.

Berdasarkan data yang dipaparkan di konferensi tahunan Radiological Society of North America beberapa waktu lalu, bagi wanita berusia lebih dari 75 tahun, pemeriksaan mammogram hendaknya dilakukan berdasarkan pilihan individu, kondisi kesehatan, dan jenis penyakit lain yang mungkin dideritanya; bukan berdasarkan usia.

Kesimpulan ini diperoleh dari hasil observasi tingkat pendeteksian kanker yang diamati pada 5,6 juta mamografi (orang yang melakukan pemeriksaan mammogram), yang merupakan bagian dari National Mammography Database.

Sebelum penelitian ini dilakukan, pedoman yang berlaku menurut 2016 U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) adalah bagi wanita berusia di antara 50 dan 74 dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan mammogram setidaknya setiap dua tahun sekali. Sedangkan, bagi yang sudah berusia 75 tahun ke atas, USPSTF mengatakan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk menilai keuntungan maupun resiko yang mungkin terjadi jika melakukan mammogram di usia itu.

Penelitian baru ini bisa memberi pandangan baru.

“Tingkat pendeteksian kanker yang senantiasa meningkat serta nilai prediktif positif pada wanita berusia 75-90 tahun menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang kuat untuk menghentikan mammografi berdasarkan usia,” ujar dr. Cindy Lee, profesor dari UC-San Francisco dan co-author penelitian tersebut.

Mammogram, yang menggunakan teknologi imaging X-Ray untuk melihat jaringan payudara lebih saksama, telah menjadi kontroversi selama bertahun-tahun lamanya, khususnya atas pertanyaan apakah mammogram bisa menyelamatkan jiwa. Seiring berjalannya waktu, ada sejumlah kemajuan teknologi dalam upaya membuat mammogram bekerja lebih efektif dalam mengidentifikasi tumor yang bisa menjadi bahaya.

Sebuah penelitian yang dirilis di New England Journal of Medicine pada bulan Oktober lalu mengevaluasi penurunan tingkat kematian yang disebabkan kanker payudara dan dampak dari pengobatan baru versus pemeriksaan dini.

Menurut penelitian ini, ditemukan bahwa ada beberapa kasus di mana wanita yang didiagnosa memiliki tumor tidak selalu membahayakan kesehatan mereka. Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa potensi pemeriksaan untuk menurunkan angka kematian kanker payudara tercermin dalam menurunnya resiko menderita tumor yang lebih besar.

Namun, sehubungan dengan ini, penurunan angka kasus kematian menunjukkan bahwa penyempurnaan pengobatan yang ada bertanggung jawab untuk setidaknya dua pertiga dari penurunan angka kematian kanker payudara. Oleh karena itu, penting untuk diketahui bahwa mammogram hanya salah satu metode pencegahan kanker payudara.

“Kita harus berhenti fokus terlalu banyak pada pemeriksaan dan bagaimana cara kita bisa menyempurnakan metode yang ada, dan mulai membantu wanita untuk memahami bahwa pemeriksaan saja tidak cukup untuk mengurangi resiko terkena kanker payudara,” ujar dr. Russel Harris, profesor kesehatan masyarakat di University of North Carolina pada Stat News di bulan Oktober lalu.

Cara lain untuk mengurangi resiko kanker payudara termasuk menjaga berat badan ideal, berolahraga, tidak merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.

Di Asia Tenggara sendiri, berdasarkan hasil penelitian ASEAN Cost In Oncology (ACTION) yang dilakukan oleh George Institute for Global Health di delapan negara di Asia Tenggara, kanker payudara memiliki insiden maupun prevalensi 5 tahun tertinggi, dengan rasio mortalitas terhadap insiden yang relatif rendah.

Secara nasional, prevalensi penyakit kanker di Indonesia tahun 2013 adalah 1,4 per 1.000 penduduk, atau sekitar 330.000 jiwa. Sementara itu, kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dengan insiden 40 per 100.000 perempuan.