×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Home >> Creator
Junaedi SE

06 September 2021 11:58

Rosada Roan Athariq, Dukuh Garon idola warga Desa Panggungharjo

Banyak cerita heroik di kala situasi dan kondisi tidak dalam keadaan baik-baik saja..

Rosada Roan Athariq, Dukuh Garon idola warga Desa Panggungharjo

0



Foto: Koleksi Mas Gaes

Sejak kebijakan PPKM Darurat Jawa Bali hingga kebijakan PPKM yang diperpanjang terus menerus dan berlevel-level, membuat Pemerintah Kapanewon Sewon berinisiatif mendirikan Shelter Gabungan Empat Desa Se-Kapanewon yang diberi nama Shelter Tanggon Covid-19 Kapanewon Sewon. Kalurahan (sebutan untuk desa khusus di DIY) Panggungharjo pun ikut ambil bagian dalam misi kemanusiaan menjaga dan merawat semua warga desa dari ancaman serangan Covid-19.

Di balik keberadaan Shelter Tanggon Covid-19 Kapanewon Sewon ini, kemudian muncullah ide-ide, gagasan, dan pengetahuan serta praktik-praktik baik yang masih "berserakan" dan sayang jika tidak menuliskannya. Banyak cerita heroik kala situasi dan kondisi sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, tetapi mendesak untuk melakukan aksi kemanusiaan dan solidaritas demi menjaga jiwa dan raga semua warga desa secara cepat.

Dari perspektif leadership, Kalurahan Panggungharjo memiliki empat tokoh, yaitu Pak Lurah (Wahyudi Anggoro Hadi), Pak Kamituwo (Hosni Bimo Wicaksono), Pak Dukuh Garon (Rosada Roan Athariq), dan Pak Dukuh Jaranan  (Fendika Nurjayanto Yudatama) yang jasanya sangat besar terhadap kedaruratan bencana akibat pandemi Covid-19. Dari empat tokoh tersebut kita dapat menimba pengetahuan dan praktik-praktik baik yang telah mereka lakukan dalam menangani Covid-19 melalui pengelolaan Shelter Tanggon Covid-19 Kapanewon Sewon.

Beruntung sekali penulis dapat menuliskan sebuah kisah nyata (true story) salah satu dari empat tokoh penting tersebut yang merupakan representasi anak muda, energik, inovatif, entertainer, motivator, dan konselor. Ia adalah seorang pamong desa—mewakili Lurah Desa dalam memegang kewilayahan, yang biasa disebut Dukuh—Dukuh Garon, nama lengkapnya Rosada Roan Athariq, S.Pd. Ia merupakan lulusan S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan yang mengabdi sebagai Dukuh Garon sejak tahun 2017. 

Sejak mendapat SK Pengangkatan Dukuh Nomor 38 tahun 2017 yang kemudian disesuaikan dengan SK Konversi Nomor 34 tahun 2020, Mas Gaes—panggilan akrab Rosada Roan Athariq oleh teman-teman pamong Kalurahan Panggungharjo—dengan mantap akan menjalankan tugas sebagai Dukuh dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya.

Loading...

Atas dasar tanggung jawab itulah tidak ada alasan untuk menolak ketika mendapat tambahan tugas untuk membantu menangani shelter darurat di wilayah Kapanewon Sewon dengan posisi sebagai Koordinator Divisi Non Medis. Mengapa Pak Lurah menunjuk Mas Gaes sebagai Koordinator Divisi Non Medis? Alasannya karena background pendidikan terakhir Mas Gaes yang lulusan sarjana program studi BK UAD.

Menurut Lurah Wahyudi Anggoro Hadi, Covid-19 bukan problem medis belaka tetapi juga terdapat  persoalan non-medis. Berkaitan dengan persoalan non-medis berarti banyak hal yang berkaitan dengan urusan di luar penanganan klinis, yaitu kejiwaan atau psikologi para penyintas Covid-19 yang menjalani karantina di shelter, termasuk juga urusan logistik dan sarana prasarana.

Pada saat itu suasana memang sedang crowded dan kenaikan kasus positif Covid-19 menunjukkan kenaikan. Selain itu karena kesiapan menghadapi fase ini masih dirasa meraba-raba. Termasuk bagaimana mengelola penyintas shelter dengan menjaga kondisi psikisnya? Tentu ini menjadi tantangan tersendiri. Menjaga psikis para penyintas Covid-19 di dalam shelter dengan berbagai cara pun dilakukan dalam situasi yang sedang tidak baik-baik saja ini.

"Saya biasanya langsung memandu kegiatan mulai pagi hari dengan setting musik tenang dan melakukan motivasi untuk para penyintas. Kemudian berkisar dua jam dilanjutkan musik edukasi, yaitu biasanya mars Hidup Sehat, mars GERMAS Hidup Sehat, mars 3 wajib, Ingat Pesan Ibu, serta Indonesia Raya mengakhiri sesi terapi musik dan motivasi pagi," cerita Mas Gaes sambil menyetel musik dangdut yang disalurkan ke ruang-ruang shelter melalui sound system yang disediakannya.

Mas Gaes merupakan representasi anak muda, enerjik, inovatif, entertainer, motivator, sekaligus konselor. Sebagai sarjana lulusan program studi BK, memberikan motivasi dengan suara yang menyejukkan bukan hal sulit bagi Mas Gaes, tetapi bagi penyintas di shelter adalah sebuah hal yang istimewa.

 

Rosada Roan Athariq, Dukuh Garon idola warga Desa Panggungharjo

Foto: Koleksi Mas Gaes

Sambil menyantap mi goreng yang disediakan oleh pengelola kantin shelter, Mas Gaes melanjutnya ceritanya. "Minggu pagi saya menjadi instruktur senam GERMAS Hidup Sehat yang diikuti oleh para penyintas dan beberapa relawan. Antusias para penyintas sangat bersemangat karena banyak dari mereka sebenarnya bosan dan ingin melakukan aktivitas yang lebih variatif dan refreshing. Maka kita fasilitasi untuk kegiatan senam Minggu pagi dan beberapa hari lainnya. Senam ini yang penting hobah dan happy." Pungkasnya.

Dari kisah nyata perjalanan Mas Gaes inilah penulis jadi lebih tahu bahwa menjaga kesehatan mental penyintas Covid-19 merupakan salah satu upaya dalam mengurangi angka kematian akibat Coronavirus Disease-19. Apa yang sudah dipraktikkan oleh Mas Gaes adalah dalam rangka menjaga psikis para penyintas Covid-19 dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, bukan malah menambah suasana menjadi susah.

Ternyata mengemban amanat sebagai koordinator non medis mirip dengan bapak kos atau bapak asrama. Tetek benget urusan non klinis menjadi pekerjaannya. Urusan giat ibadah, urusan makan dan minum, urusan perlengkapan mandi dan cuci pakaian, urusan perlengkapan tidur, urusan tabung dan lain-lain, semuanya berada di pundaknya. Beruntung para relawan bekerja bahu-membahu secara suka rela mendukung Mas Gaes.

Yang berbeda antara mengelola shelter menajemen rumah sakit adalah kedekatan antara pengelola dengan para peyintas Covid-19. Saking dekatnya pernah suatu hari ada penyintas perempuan yang request dibelikan pembalut tanpa sayap melalui WAG penyintas dan pengelola pun akhirnya dibelikan oleh Mas Gaes. Bahkan WAG tersebut berlanjut ketika para penyintas sudah selesai menjalani masa karantina di Shelter Tanggon Covid-19 dengan nama grup "Alumni Shelter".

 

Oleh: Junaedi, esais Mbantul Crew Sanggar Inovasi Desa.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Pilih Reaksi Kamu


Tags

#Menjaga Kesehatan Mental #Covid-19 #Dukuh Idola #Penanganan Covid-19 #Manajemen Shelter Tanggon Covid-19
Loading...
Creator Banner

Gak perlu khawatir, tulisan kamu bisa tetap
TERBACA DAN TRENDING di Brilio.net

Learn More Sign In
Tulis Komentar

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

ON FIRE

MORE
Back To Top