×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Home >> Creator
ZEIN SALSABILA ZALFA 2020

28 Desember 2021 16:25

Makna puisi 'Pada Suatu Hari Nanti': Semua yang hidup akan mati

Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia yang terkemuka..

Makna puisi 'Pada Suatu Hari Nanti': Semua yang hidup akan mati

0



Puisi Pada Suatu Hari Nanti yang termuat di dalam Hujan Bulan Juni merupakan karya Sapardi Djoko Damono. Selama 30 tahun Sapardi Djoko Damono membuatnya, mulai dari tahun 1964 sampai dengan tahun 1994. Puisi ini mengacu pada kesetiaan di mana kefanaan pada suatu hari nanti benar terjadi, yaitu kematian teman terdekat kita.

Pada Suatu Hari Nanti

"Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,

pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari"

Loading...

"Pada suatu hari nanti", apakah kalimat tersebut mengacu pada tempat dan tujuan? Sejauh ini apa saja yang sudah kita lakukan?

Puisi Pada Suatu Hari Nanti mengingatkan kita akan adanya kematian. Kematian ialah teman terdekat, di dalam sajak puisi tersebut Sapardi berusaha untuk mengingatkan dan menyelipkan gagasan dan arti kesetiaan.

Di samping itu, Sapardi berusaha mempertegas kalimat "pada suatu hari nanti" yang di dalamnya memiliki gagasan akhir kematian di dalam bait pertama baris kesatu dan bait kedua baris pertama serta baris pertama bait ketiga. Oleh karena itu, kalimat "pada suatu hari nanti" dijadikan pokok judul oleh Sapardi.

Mari menelisik lebih dalam makna yang Sapardi tekankan dalam setiap bait puisi Pada Suatu Hari Nanti.

Terdiri dari 3 bait 12 baris yang disajikan dengan singkat, padat, dan jelas, Sapardi mencoba membuat puisi ini hanyut dalam suasana hening serta pembaca hanyut dalam suasana yang membuat hati bergetar dengan tema yang ia sajikan, yaitu kematian dan keabadian hidup.

Menelisik bait pertama puisi Pada Suatu Hari Nanti.

"Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri."

Pada baris kedua, "jasadku tak akan ada lagi". Kata "jasadku" mengacu pada kata konotatif atau kata kiasan dari kehidupan. Dilanjutkan dengan kalimat "tak akan ada lagi" artinya hal yang tak dapat diputar balik atau terulang kembali, di mana jelas kalimat tersebut merujuk pada kematian.

Pada baris ke-3 dan ke-4, Sapardi berusaha menjelaskan bahwa ia tidak merelakan kehidupannya terhenti begitu saja hanya dikarenakan kematian "takkan kurelakan sendiri", tetapi jauh dari hal tersebut ia ingin selalu ada hal yang membuatnya abadi. Untuk itu Sapardi menyelipkan kehidupannya di dalam setiap "bait-bait sajak" yang dapat diartikan sebuah karya sastra.

Menelisik bait kedua puisi Pada Suatu Hari Nanti.

"Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,"

Baris pertama pada bait ke-2 mengulang dan menegaskan hal yang sama kepada pembaca, yaitu sesuatu yang akan datang, menjelaskan makna terdalam kehidupan bahwa kehidupan tidak akan terhenti karena kematian.

Di baris ke-2 "suaraku tak terdengar lagi", kata "suara" tersebut mengacu pada kehidupan sama halnya dengan jasad pada bait pertama. Tetapi, kehidupan di sini lebih mengacu pada kehidupan yang berupa ekspresi emosi, suara hati atau yang bersifat kebatinan. "Tak terdengar lagi” yang berarti suara (kehidupan) oleh indra yang tidak lagi bisa dirasakan, atau kematian.

Kemudian di baris ke-3 dan ke-4 pada bait ke-2 "larik-larik sajak" menegaskan penentangan terhadap kematian.

Lalu, di baris ke-4 "kau akan tetap kusiasati" merujuk pada apa pun yang coba kita lakukan agar kehidupan tetap abadi. Maksudnya kehidupan akan tetap hidup dalam karya-karyanya hingga orang-orang tetap merasakan kehadiran jiwa Eyang Sapardi walaupun kelak penulis sudah tiada.

Menelisik bait ketiga puisi Pada Suatu Hari Nanti.

"pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari"

Pada sepenggal bait terakhir ini adanya secercah harapan yang Sapardi ungkapkan di mana semua cita-cita, ide, dan gagasan serta pemikiran suatu karya dapat tetap hidup dengan semangatnya hari ini, esok, dan seterusnya sampai kematian menjemput.

Baris pertama masih sama, hal atau gagasan yang Sapardi coba gambarkan, "pada suatu hari nanti" menjelaskan tentang suatu masa ke depan yang kelak akan terjadi.

Pada baris ke-2, "impianku pun tak dikenal lagi", kehidupan di sini dilambangkan oleh Sapardi dengan kata "impian". Impian mengacu pada keinginan atau hasrat berupa cita-cita, ide atau gagasan yang ia tuangkan. Pada bait "tak dikenal lagi", suatu kalimat yang mengacu pada kehidupan jika manusia tak lagi mempunyai mimpi sama saja mengacu pada kematian.

Di baris ke-3 dan ke-4, Sapardi menyelipkan suatu hal yang ia inginkan, yaitu walaupun impiannya suatu saat akan sirna dan tak dikenal lagi, ia akan terus berusaha dan mencarinya agar jiwa semangatnya tetap abadi dan kekal. Ini ditegaskan di dalam "sela-sela huruf sajak” yang merupakan kiasan dari karya-karyanya.

Source

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Pilih Reaksi Kamu


Tags

@penting puisi #sapardidjokodamono makna puisi pada suatu hari nanti
Loading...
Creator Banner

Gak perlu khawatir, tulisan kamu bisa tetap
TERBACA DAN TRENDING di Brilio.net

Learn More Sign In
Tulis Komentar

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

ON FIRE

MORE
Back To Top