Brilio
×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Home >> Creator
Farrel Zahdie

14 Agustus 2019 11:10

Ma, film horor thriller mengenai balas dendam di masa lampau

Spoiler alert!.

Ma, film horor thriller mengenai balas dendam di masa lampau

0



Blumhouse kembali membuat film horor bertema psikologis, Ma. Berawal dari senang-senang, semuanya menjadi petaka. Film berjudul Ma adalah gambaran sekelompok anak muda yang mulai terancam nyawanya karena seorang wanita paruh baya. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak muda ini? Lalu, siapa wanita paruh baya ini?

Premis film Ma.

ma

Anak-anak muda, pastinya ingin selalu bersenang-senang. Begitulah yang terjadi dengan sekelompok anak muda bernama Andy, Haley, Darrell, dan Chaz ketika mengajak Maggie. Namun, karena belum cukup umur, mereka membeli alkohol melalui seseorang wanita paruh baya.

Pada keesokan harinya, kelompok remaja ini bertemu dengan Sue Ann. Seorang wanita paruh baya yang ”menjaga’ anak-anak muda ini untuk tidak tertangkap ketika minum-minum. Kali ini Sue Ann sendiri yang mengajak anak muda ini untuk bersenang-senang.

Loading...

Namun, setelah itu, berbagai hal-hal yang menegangkan terjadi. Remaja yang awalnya bersenang-senang kemudian ketakutan. Nyawa mereka terancam. Semuanya bersumber dari Sue Ann yang tiba-tiba ingin memburu semua anak-anak muda ini.

3 Hal yang membuat film ini menarik.

ma

1. Memiliki alur cerita yang tak disangka (Plot Twist).

Awalnya saya kira film ini bercerita tentang ibu-ibu pedofilia yang ingin berteman dengan anak-anak remaja. Namun, menjelang akhir cerita, plot berubah. Tujuan sebenarnya bukan untuk mencari teman, tetapi Sue Ann ingin balas dendam terhadap orang tua mereka karena mereka telah mem-bully dia kala di sekolah. Dan pada akhirnya, ia sendiri akan membunuh anak-anak remaja tersebut.

2. Akting yang baik.

Sue Ann memberikan kesan dan pengalaman yang berkesan. Jujur semua aktingnya cukup membangkitkan sisi emosional saya (mungkin karena saya pernah di-bully). Dalam aktingnya saya begitu terkesan seolah seperti itu rasanya jadi yang ter-bully, sampai segitunya dia ingin balas dendam. Ya, dan balas dendam dengan cara yang lebih kejam dari yang pernah dilakukan. Tangisan Sue Ann, amarahnya, dan bagaimana ia mengungkapkan perasaannya kepada para pembullynya membuat saya turut kerap mendukung karakter ini (Spoiler: Pada akhirnya dia mati). 

3. Memberikan pesan moral yang baik.

Siapa sangka film horor dapat memberikan pesan moral yang baik. Yah, ternyata film ini memberikan pesan moral cukup dalam, walaupun hanya simpel.

Pertama, jangan sekali-kali membully orang. Kita tidak tahu apakah orang yang pernah kita sakiti benar-benar memaafkan kita atau tidak. Karena ternyata, bisa saja 20 tahun sudah berlalu, tetapi ia masih kerap menyimpan dendam.

Kedua, balas dendam sewajarnya. Dipukul, ya balas dengan pukulan. Dicaci, balas dengan cacian. Jangan dicaci, dibalas dengan baku hantam, dipukul dibalas dengan pembunuhan. Balaslah dengan hal yang setimpal. Malah ada kata pepatah, balas dendam terbaik ialah menjadi pribadi yang lebih baik. Berusahalah untuk ikhlas. Biarkan Tuhan yang membalas.

Well, itulah alasan mengapa film ini menjadi film horor thriller sepanjang tahun yang diproduksi oleh Blumhouse.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Pilih Reaksi Kamu


Tags

film horror film pembunuhan film thriller film serem film bioskop
Loading...
Creator Banner

YUK GABUNG SEKARANG UNTUK DAPETIN
UANG TUNAI DARI HASIL KARYAMU!

Learn More Sign In
Tulis Komentar

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

ON FIRE

MORE
Back To Top