×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Home >> Creator
moondavest

12 Oktober 2021 15:10

5 Tips yang bisa kamu lakukan ketika menjadi korban ghosting

Meski tampak sepele, nyatanya ghosting menimbulkan efek yang nggak baik, lho..

5 Tips yang bisa kamu lakukan ketika menjadi korban ghosting

0



Foto: cottonbro from Pexels

Ghosting atau istilah lain dari tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Istilah ini sedang marak di kalangan remaja zaman sekarang. Dalam setiap hubungan romansa, permasalahan pasti selalu datang. Sebuah hubungan yang sehat, ketika ada masalah melanda, sudah pasti meminimalisir sebelum berlarut-larut.

Berbeda dengan itu, ghosting adalah keadaan di mana salah satu pihak memilih menghilang dibandingkan menyelesaikan masalah—lebih parahnya, bahkan tidak ada masalah namun mendadak menghilangkan diri.

Walaupun terlihat sepele, ghosting bisa menciptakan dampak yang nggak baik juga, lho! Hampir mirip seperti toxic relationship, ghosting mengakibatkan pihak lain yang menjadi korban dilanda krisis kepercayaan diri. Jelas, saat tidak tahu masalahnya apa, mendadak hilang seolah-olah hangus dari muka bumi. Dihubungi berkali-kali berakhir hanya centang dua abu-abu atau kalau sudah next level, diblokir dari semua akun sosial media. Ujung-ujungnya jadi beban pikiran sendiri dan berujung merasa tidak pantas dicintai.

Tidak pernah bisa ditemukan alasan pasti mengapa sering kali ghosting dilakukan. Mungkin karena faktor kebosanan, mencari ruang untuk sendiri, atau malah diam-diam mencari pasangan lain di saat belum memutuskan selesai dengan yang lama. Dalam situasi tertentu, pihak yang menjadi korban akan terus menyalahkan diri sendiri—perasaan bersalah membawa beban berat bagi siapa pun, terlebih jika belum menemukan alasannya apa.

Memang, ghosting bisa jadi hal menyakitkan. Tapi ada hal-hal tertentu yang bisa kamu lakukan ketika di-ghosting. Penasaran?

Loading...

1. Menangis jika memang ingin menangis.

Jangan termakan stigma kalau menangis itu lebay, enggak sama sekali. Belajar untuk jujur terhadap perasaan diri sendiri itu harus. Kalau memang menyakitkan, terbukalah kepada perasaan sakit itu. Lagipula tanpa kamu sadari, sebenarnya setiap manusia pasti pernah menangis diam-diam. Stigma seperti "begitu saja menangis, sepele” nggak perlu kamu dengarkan.

Mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menemukan jawaban sama saja terombang-ambing di ombak realitas. Perasaan tidak berharga sedikit demi sedikit bakal memengaruhi pikiran. Gak apa-apa, menangis saja.

2. Blokir balik semua media sosial.

Meski terdengar kejam, tapi cara ini bisa kamu lakukan untuk sementara waktu. Ini kalau kasusnya kamu diblokir di media sosial oleh pasanganmu. Ketika pasanganmu tiba-tiba menghilang tanpa kabar, nggak perlu pantengin layar ponsel 24 jam sambil harap-harap cemas ada notifikasi. Jelas-jelas pasanganmu memilih untuk melarikan diri daripada menyelesaikan masalah atau membicarakan baik-baik ke kamu soal ada masalah apa. Padahal dalam sebuah hubungan—baik yang sudah dimulai atau yang hampir dimulai—komunikasi adalah hal penting. Bagaimana bisa menjalani hubungan jangka panjang kalau masalah sepele saja memilih kabur?

Dalam hal ini, kemungkinan pasangan kembali di bawah 15%. Apalagi sebelumnya nggak ada pembicaraan kalau ia ingin jeda sebentar supaya saling mencari ruang sendiri. Cara ini berguna supaya kamu bisa fokus ke dirimu sendiri seutuhnya tanpa harus memikirkan pasangan yang entah sudah di mana dan bagaimana kabarnya.

3. Tidak menentukan berharga atau tidaknya dirimu hanya dari kejadian ghosting.

Mengapa harus mengukur berharga atau tidaknya diri sendiri hanya dari perlakuan orang lain di luar kontrol kamu? Tidak ada yang menginginkan untuk di-ghosting. Tapi sayangnya, banyak hal yang nggak ada dalam kendali tangan kita sendiri. Ketika pasangan meng-ghosting tanpa sebab, bukan berarti berharga atau tidaknya dirimu diukur dari situ. Setelah menangis, memblokir balik semua media sosial, kemudian jangan membawa terlalu larut perasaan tidak pantas dicintai.

Belajar mengatur takaran rasa sakit, sehingga tidak berujung beban terlalu berat bagi dirimu sendiri. Apa yang dilakukan orang lain adalah permasalahan orang lain dengan diri mereka, tidak melulu disebabkan karena dirimu.

4. Kejar mimpi yang sempat tertunda.

Proses pemulihan pasti menguras tenaga dan membuat segala pekerjaan jadi terbengkalai. Setelah mengenali diri sendiri lebih dalam dan tidak berlarut dalam perasaan tidak berharga, kejar kembali mimpi yang sempat tertunda. Iya, ini penting. Coba tengok susunan rencana masa depanmu, susunan kerjaan dan to do list kamu, susunan mimpi-mimpimu. Proses pemulihan memang membutuhkan waktu lama, tapi bukan berarti harus berlarut-larut.

Kamu harus bisa menetapkan sekian waktu untuk proses dirimu bisa kembali menjadi dirimu sendiri. Meskipun tidak kembali seutuhnya, setidaknya kamu tidak menghabiskan waktu perjalananmu hanya untuk menyesali apa yang sudah terjadi.

5. Jadilah dirimu sendiri seutuhnya, jangan terima kembalinya pasangan.

Memang, mungkin tujuan awalmu adalah menunggu pasangan kembali dengan mengisi waktu yang sudah terbuang. Tapi harus kamu ingat baik-baik: Cara pasangan memperlakukanmu bisa terlihat dari bagaimana caranya menyelesaikan masalah. Jika sejak awal caranya menyelesaikan masalah adalah dengan kabur-kaburan, tidak bisa diajak berkompromi, bagaimana ke depannya bisa menyelesaikan masalah yang lebih berat?

Padahal dalam hubungan ada level-level tertentu dalam masalah, dan semakin lama akan naik level. Kamu perlu menemukan pasangan yang bisa diajak duduk untuk sama-sama saling mendengarkan. Kalaupun perlu waktu, bicarakan, bukan menghilang.

Yang perlu kamu terima adalah dirimu sendiri karena selama ini sudah kamu salahkan sendiri. Kalau sudah bisa tegas, jadilah dirimu sendiri seutuhnya. Pelan-pelan hilangkan beban masa lalu di kepala, kemudian jalani hidup apa adanya. Dengan begitu apa yang terasa berat di dada akan menjadi ringan secara berkala.

Source

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Pilih Reaksi Kamu


Tags

relationship toxicrelationship brokenrelationship ghosting hubungan asmara
Loading...
Creator Banner

Gak perlu khawatir, tulisan kamu bisa tetap
TERBACA DAN TRENDING di Brilio.net

Learn More Sign In
Tulis Komentar

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

ON FIRE

MORE
Back To Top