Brilio.net - Menikah memang merupakan tujuan pasangan yang sedang menjalin hubungan serius. Pernikahan di usia muda memang sedang menjadi tren saat ini di Indonesia. Bahkan beberapa daerah mengharuskan menikah cepat karena bila telat dianggap perawan tua.

Psikolog Klinis Dewasa, Pingkan Rumondor mengatakan masyarakat di Indonesia kebanyakan beranggapan bahwa ketika orang memasuki usia matang, namun masih melajang dianggap 'tidak laku'. Padahal, pernikahan merupakan hal yang sakral yang harus dipikirkan matang-matang dan perlu kesiapan psikologis dalam menjalaninya. Tidak hanya sebatas gengsi atau paksaan.

"Mungkin karena nilai budaya yang kolektivistik, sehingga pendapat orangtua dan tetangga masih menjadi hal yang penting bagi individu. Termasuk pendapat mengenai kapan seseorang harus menikah," katanya saat dihubungi brilio.net melalui pesan singkat, Selasa (18/7).

Menurutnya, ketika mengambil keputusan untuk menikah ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertimbangan ini bersifat mendasar.

"Kenali pasangan seutuhnya, baik minat, mimpi, ketakutan terdalam, nilai dan prinsip hidup, nomor sepatu, warna favorit, pekerjaan, sekolah, hingga keluarga besarnya (terutama jika sudah ada rencana menikah)," paparnya.

Nah, berikut tips sebelum kamu mengambil keputusan untuk menikah menurut Pingkan Rumondor:

1. Pahami nilai dan kebiasaan dalam keluarganya. Jika akan menikah dengan pasangan maka nilai dan kebiasaan tersebut akan memengaruhi kamu. Apakah kamu siap untuk menerimanya?

2. Bicarakan tentang uang dan cara mengelolanya. Sepakati cara pengelolaan yang mengakomodasi kebiasaan berdua.

3. Bicarakan juga mengenai hal-hal teknis yang bisa jadi sumber konflik saat menikah: tinggal di mana setelah menikah, seperti apa pembagian peran suami-istri, istri boleh bekerja atau lanjut pendidikan, seperti apa kebiasaan religius yang akan dijalankan, berapa anak yang diinginkan, seperti apa cara mengasuh yang ideal, serta bagaimana kalau tidak bisa punya anak.

3. Bicarakan juga harapan kamu tentang pernikahan, usahakan memberikan contoh-contoh yang konkret. Misalnya, 'bukan saya harap bisa bahagia menikah denganmu', tapi 'saya harap suami saya sering memeluk dan memuji hasil kerja saya, dengan begitu, saya merasa dicintai'.

4. Perhatikan pola perilaku pasangan, segera utarakan jika ada yang tidak berkenan, misalnya bicara kasar, atau ringan tangan pada orang lain.

5. Jika sudah membicarakan hal-hal di atas, tanyakan pada diri kamu: mengapa kamu mau menikah dengannya? Mengapa sekarang? Seberapa jauh kamu menginginkan pernikahan ini? Pastikan bahwa pernikahan adalah keputusan pribadi kamu.