Brilio.net - Seni pertunjukan di Indonesia, khususnya Jawa cukup banyak. Dulu, banyak kesenian itu tampil di kampung-kampung sebagai hiburan rakyat yang murah meriah. Kini kesenian itu hilang satu persatu kalah dengan kesenian modern dan perkembangan zaman. Ada yang bertahan namun beralih ke gedung-gedung pertunjukan.

Dulu pertunjukan itu sangat ditunggu oleh masyarakat bawah sebagai hiburan. Karena mereka tidak perlu kemana-mana dan cukup tinggal di desa saja. Anak-anak kecil akan berkeliling melihat pertunjukan tersebut.

Kesenian apa saja yang dulu pernah digandrungi rakyat jelata dan kini sudah mulai hilang. Berikut brilio.net rangkum dari berbagai sumber.

Loading...

1. Pertunjuakan Tayub.

v © 2017 brilio.net
Foto Koleksi: Sanapustaka Kraton Surakarta


Pada masa awal tahun 1900 an, seni pertunjukan tayub banyak yang keliling ke desa-desa. Mereka adalah grup pertunjukan orang menari diiringi gamelan, tidak begitu banyak anggota penari tersebut.

Mereka beranggotakan 3 orang penari, dan 4-5 pemain musik gamelan dan berkeliling dari satu desa ke desa lainnya. Banyak orang juga menyebutnya sebagai rombongan ledek. Rombongan tersebut berkeliling tidak setiap hari, hanya hari-hari tertentu saja menurut tanggalan Jawa ataupun ketika sebuah desa mengalami panen. Mereka memainkan musik dan menari di punden desa, terkadang ketika menari ibu-ibu yang menonton sambil menggendong anak-anak kecil meminta penari-penari tersebut untuk memberi doa (suwuk) kepada anak-anak mereka agar terhindar dari malapetaka.

2. Wayang Orang.

v © 2017 brilio.net
foto: kitlv


Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731.

Kesenian ini keliling dari satu panggung desa ke desa. Seringkali juga dimanfaatkan untuk tujuan politik. Sehingga, cerita wayang tersebut dipadu dengan muatan politik.

3. Penari Keliling.

v © 2017 brilio.net
foto: kitlv


Pada masa kolonial Belanda banyak rombongan seni yang melakukan pertunjukan berkeliling desa. Sebagian telah menjadi bagian dari budaya kota dengan melakukan pertunjukan di berbagai gedung seni yang dibangun oleh pemerintah kolonial sebagai bagian dari klangenan mereka. Grup penari ini hanya beberapa orang dan melakukan pertunjukan tari.

4. Kuda Lumping

v © 2017 brilio.net
foto: kitlv


Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang.

Saat ini hampir tidak ada kesenian ini yang bertahan dan keliling desa. Kalau pun ada maka sangat sulit menemukannya. Kesenian ini sekarang hanya tampil pada waktu tertentu.

5. Kentrung

v © 2017 brilio.net
foto: siwisangnusantara.web.id


Kentrung adalah kesenian asli Indonesia yang berasal dari pantai utara Pulau Jawa. Kesenian ini menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara, Blora hingga Tuban. Kentrung punya cerita tersendiri yang khas. Saat ini sudah tidak ada kentrung yang keliling kampung.