Brilio.net - Kuliner Yogyakarta merupakan salah satu idaman di Indonesia. Tak cuma siang hari saja, namun ketika malam tiba banyak sekali tempat makan yang buka dan siap memanjakan lidah para penikmat kuliner.

Mulai dari pusat kota hingga sudut kota menyimpan beragam kuliner legendaris yang yang wajib kamu coba ketika berkunjung ke kota ini. Salah satunya di daerah Godean, Sleman. Ya, daerah ini dikenal menjadi salah satu sentra oleh-oleh kripik belut di daerah Jogja.

Jelang tengah malam, daerah ini populer dengan sajian kuliner yang memiliki cita rasa khusus. Salah satu yang populer adalah sego welut atau nasi belut. Meski sebagian orang tak tertarik, namun jika diolah dengan benar belut dapat mejadi sajian yang sangat lezat.

Belut merupakan salah satu jenis ikan yang banyak menghuni rawa-rawa atau pun persawahan serta sebagai pemangsa hewan kecil. Belut ini memiliki ciri khas berbeda dengan ikan lainnya, yakni tak memiliki sisik dan tak bersirip, namun tubuhnya begitu licin ketika dipegang.

Karena penasaran, beberapa waktu lalu brilio.net mencoba menyambangi warung makan yang letaknya ada di depan pasar Godean, Jalan Godean km 10, Sidoagung, Godean, Sleman itu. Tak sulit untuk menemukan tempat ini. Dari Tugu Yogyakarta kamu dapat mengambil arah lurus ke barat Jalan Godean. Mungkin akan memerlukan sekitar 20 menit jika jalanan tak begitu ramai. Sampai bertemu dengan Pasar Godean, perhatikan sisi kiri jalan, karena tempat ini berada tepat di seberang pasar atau sebelum lampu merah.

Ketika sampai, jangan membayangkan jika tempatnya seperti warung atau kios pada umumnya, melainkan warung makan biasa pinggir jalan. Tempat ini begitu unik karena berada di sebuah lahan parkir. Sego Welut Mbak Surani ini sudah ada sejak tahun 1945, yang awalnya dikelola oleh Mbah Darmo, nenek dari Mbak Suwarni. Mbak Suwarni yang kini meneruskan usaha sego welut itu kini merupakan generasi ketiga.

Mencicipi sego welut Mbak Surani, kuliner legendaris khas Godean Brilio.net/Dwiyana Pangesthi

foto: Brilio.net/Dwiyana Pangesthi



"Saya sejak 97. Sebelum saya, itu simbah, namanya mbah Darmo. Kemudian bulik saya, terus saya. Saya generasi ketiga. Sejak saya kecil simbah memang sudah berjualan," ujar wanita 53 tahun ini ketika memulai perbincangan dengan brilio.net pada Sabtu (23/11).

Dibantu oleh suaminya, Ngadiono (63), Surani mulai menjajakan dagangannya saat magrib atau tepat mulai pukul 18.00 WIB. Tempatnya berjualan itu sebenarnya adalah lahan parkir orang-orang yang beraktivitas di pasar ketika siang harinya. Lapak inipun berkonsep sederhana, memakai lesehan dengan menggunakan tikar, serta pencahayaannya pun juga relatif kurang.

"Tempatnya nebeng, dulu di depan situ, terus simbah pindah ke sini. Terus bulik juga di sini. Kalau siang buat tempat ini parkiran." ujar Surani.

Meski hanya di sebuah lahan parkir, tempat makan ini selalu ramai pembeli. Tak hanya dari daerah sekitar saja, namun juga banyak pelanggan dari luar kota juga berkunjung mencicipi kuliner nasi belut ini. Baik dibungkus atau makan di tempat.

Sejak awal jualan hingga kini, keduanya tetap menyajikan menu yang sama seperti dulu. Yakni, beberapa sajian seperti gudeg, lele goreng, aneka lauk, sayuran, dan yang menjadi unggulan adalah mangut belut.

Mangut merupakan salah satu masakan Jawa yang identik dengan kuah santan serta memiliki rasa pedas dan gurih. Kuahnya berwarna merah yang didapat dari cabai merah besar yang dihaluskan. Kombinasi cabai hijau, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, serta rempah-rempah, membuat mangut belut ini terasa menggoda. Soal cita rasa, masakan ini sudah mengikuti permintaan pelanggan.

Loading...

Mencicipi sego welut Mbak Surani, kuliner legendaris khas Godean Brilio.net/Dwiyana Pangesthi

foto: Brilio.net/Dwiyana Pangesthi



"Ya cuma seperti ini sego welut, gudeg, ya ciri khasnya sego welut itu. Kalau di sini ciri khas welutnya dimangut. Pakai kuah santan, ya masakan gaya ndeso. Kalau dulu simbah saya masaknya manis, tapi kebanyakan (pelanggan) komplain, pengennya minta asin karena banyak juga yang dari luar Jawa," ujar Ngadiono yang selalu menemani istrinya itu.

Belut ini mereka dapatkan dari pedagang yang sudah menjadi langganannya. Meskipun daerah tersebut merupakan sentra belut, namun terkadang Surani juga kesulitan mendapatkan belut untuk bahan masakannya. Pasalnya seperti musim kemarau saat ini, belut susah dicari. Bahkan Surani mengaku pernah tidak mendapatkan stok belut karena tidak ada kiriman dari pedagang.

"Kalau pas banyak itu ya 10 kg, kalau begini cuma 5-6 kg. Kadang nggak ada soalnya kemarau panjang," kata Ngadiono.

Mencicipi sego welut Mbak Surani, kuliner legendaris khas Godean Brilio.net/Dwiyana Pangesthi

foto: Brilio.net/Dwiyana Pangesthi



Dalam satu porsi, Sego Welut Mbak Surani terbilang terjangkau. Para pengunjung yang memesan sego welut hanya dipatok Rp 15 ribu. Pasalnya harga satu kg belut mentah dihargai Rp 75 ribu.

"Dulu seporsi Rp 150 tahun 1997, sekarang Rp 15 ribu. Karena sekarang harga belut mentah per kg Rp 75 ribu, kalau dulu belut baru Rp 1.500," papar Surani.

Warung ini ramai ketika mulai buka hingga sekitar pukul 21.00 dan tutup sekitar pukul 11 malam. Pada musim liburan, Surani juga mengaku kewalahan melayani pembeli yang begitu banyak. Bahkan jika di hari biasa melayani 150 porsi, maka pada musim liburan bisa lebih dari porsi tersebut.

Mencicipi sego welut Mbak Surani, kuliner legendaris khas Godean Brilio.net/Dwiyana Pangesthi

foto: Brilio.net/Dwiyana Pangesthi



Nah, jika kalian berkunjung ke Yogyakarta tak ada salahnya mampir ke lesehan Sego Welut Mbak Surani ini. Karena banyak manfaat dari zat yang terkandung dalam belut, antara lain zat besi yang dapat mengobati dan mencegah anemia dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Belut juga kaya akan fosfor yang bisa membantu pertumbuhan tulang, kesehatan gigi dan gusi. Vitamin A-nya juga dapat membantu kesehatan mata sel reproduksi serta sel pertumbuhan. Tak hanya itu terdapat juga zat gizi lainya seperti protein, asam lemak tak jenuh dan banyak lainnya.







RECOMMENDED