1. Home
  2. ยป
  3. Jalan-Jalan
11 November 2022 22:05

Sejarah Masjid Syuhada, saksi penghargaan perjuangan pahlawan Jogja

Tepat di sampingnya berdiri megah gereja HKBP di Kotabaru. Brilio.net
foto: Brilio.net/Ricka Milla Suatin

Brilio.net - Kota Yogyakarta menjadi sasaran utama penyerangan yang dilakukan oleh Belanda. Pada waktu itu Yogyakarta menjadi ibu kota Indonesia setelah Jakarta dikuasai oleh Belanda. Salah satu peninggalan pada masa penjajahan Belanda adalah Masjid Syuhada. Bangunan masjid tersebut bernama "Syuhada" yang bermakna penghargaan kepada para pejuang atau pahlawan yang gugur semasa revolusi nasional Indonesia. Masjid Syuhada menjadi salah satu masjid yang menyimpan nilai sejarah, terutama berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Masjid Syuhada terletak di daerah Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Masjid ini selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 20 September 1952, saat ini usianya sudah genap 70 tahun. Pembangunan Masjid Syuhada sendiri didasari atas persoalan tidak adanya tempat ibadah bagi umat Islam di Kotabaru mengingat di sampingnya berdiri megah gereja HKBP di Kotabaru. Tujuan utama didirikannya masjid ini adalah pemerintah Indonesia yang bermaksud untuk memberikan hadiah kepada rakyat Jogja atas perjuangan mereka dalam melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

BACA JUGA :
Asal-usul Masjid Soko Tunggal Yogyakarta yang punya satu tiang


foto: Brilio.net/Ricka Milla Suatin

"Masjid ini merupakan peninggalan pemerintah republik Indonesia yang pernah berpusat di Yogyakarta, dan sebagai monumen peringatan untuk para syuhada (patriot/pejuang) yang telah berhasil merebut kemerdekaan Indonesia dari pemerintah kolonial Belanda. Jadi, Masjid Syuhada dibangun selama dua tahun yaitu pada 1950-1952 masehi dan diresmikan pada 1 muharram 1372 hijriah atau 1 sura 1893 bertepatann 20 September 1952 masehi," ujar Hengky, takmir Masjid Syuhada saat diwawancari oleh brilio.net pada Jumat (11/11).

BACA JUGA :
Masjid Gedhe Kauman, masjid tertua Keraton Jogja yang masih autentik

Adapun panitia pembangunan masjid diketuai oleh Mr. Assaat, dan wakil ketua B.P.H. Prabuningrat, Ki Moesa Machfoeld sebagai pemimpin pembangunan, Supono sebagai ketua kepala pelaksana dan penasihat teknik Ir. R. Feenstra. Panitia tersebut dilantik pada 14 Oktober 1949 oleh menteri agama K.H. Masjkur. Kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1950 ditetapkan garis kiblat oleh K.H. Badawi dan 23 September 1950 ditetapkan sebagai peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

foto: Brilio.net/Ricka Milla Suatin

Seperti yang telah dikatakan oleh takmir masjid sebelumnya, bahwa setelah masjid diresmikan dan dibuat panitia kepengurusannya, masjid diserahkan kepada badan wakaf yaitu Yayasan Asrama dan Masjid (YASMA) di bawah perlindungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Oleh karenanya juga, masjid ini dijadikan sebagai salah satu cagar budaya di Indonesia.

Sementara itu, Masjid Syuhada memiliki arsitektur yang megah. Diberi cat berwarna hijau, membuat masjid terlihat asri. Masjid Syuhada memiliki 17 anak tangga dan membentuk angka 8 pada gapura masjid yang menandakan simbol nasionalisme. Masjid Syuhada juga memiliki 4 kubah yang berjumlah 5. Simbol-simbol ini menunjukkan tanggal paling penting bagi Indonesia, yaitu kemerdekaan.

foto: Brilio.net/Ricka Milla Suatin

Selain menjadi tempat beribadah, masjid ini juga dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan rohani. Adapun lembaga pendidikan di sekitar Masjid Syuhada, yakni TK Masjid Syuhada, Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada, SD Masjid Syuhada, SMP IT Masjid Syuhada.


Magang: Ricka Milla Suatin

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags