1. Home
  2. ยป
  3. Jalan-Jalan
26 November 2022 02:27

Roti kembang waru, kudapan Raja Mataram Islam yang tetap eksis

Pada saat masa Kerajaan Islam, roti kembang waru disuguhkan untuk perayaan hari-hari penting ataupun hajatan. Brilio.net
foto: Dok/Annisa Dhea

Brilio.net - Yogyakarta memang tak bisa lepas dari budaya dan sejarahnya. Dahulu, banyak kerajaan-kerajaan besar yang berjaya pada masanya. Salah satunya adalah Kerajaan Mataram Islam yang berdiri abad ke-17. Banyak peninggalan kerajaan ini yang masih bisa ditemukan hingga kini, salah satunya makanan khas.

BACA JUGA :
Menyelami sejarah maritim di Museum Bahari, ada torpedo Rusia 7 meter


foto: Dok/Annisa Dhea

Kuliner khas tradisional yang bisa ditemui hingga kini adalah roti kembang waru. Roti ini berasal dari Kotagede, Yogyakarta. Pada saat masa Kerajaan Islam, roti kembang waru disuguhkan untuk perayaan hari-hari penting ataupun hajatan.

Bahkan, roti ini hanya boleh dikonsumsi oleh para bangsawan dan keluarga kerajaan saja. Dengan berbahan dasar tepung terigu, roti ini dapat menunjukkan pengaruh kuat budaya Eropa yang diperkenalkan Belanda pada zaman kolonial.

BACA JUGA :
Sasmitaloka, saksi bisu perjuangan Jenderal Soedirman

foto: Dok/Annisa Dhea

Saat ditemui brilio.net pada Jumat (25/11), penjaga toko yang berjualan roti kembang waru di Kotagede, Listin menjelaskan, dulunya Kotagede merupakan pusat Kerajaan Mataram Islam. "Roti kembang waru saat itu dijadikan sebagai hidangan kerajaan. Dan roti ini cuma bisa ditemui pada perayaan khusus saja," ungkapnya.

Seiring perubahan zaman, roti kembang waru dapat dinikmati oleh masyarakat biasa. Nama kembang waru pada roti tersebut dikarenakan bentuknya yang menyerupai kembang waru dan mempunyai delapan kelopak. Sehingga, mempunyai arti delapan jalan utama atau hasto broto. Kelopak dalam roti kembang waru diibaratkan 8 elemen penting yaitu matahari, bulan, bintang, mega (awan), tirta (air), kismo (tanah), samudra, dan maruto (angin).

foto: Dok/Annisa Dhea

"Zaman dulu bahannya telur kampung sama tepung ketan, terus sekarang bahannya ganti telur ayam petelur dan tepung terigu," lanjutnya. Karena itu siapa yang makan kembang waru harus bisa menjiwai dan mengamalkan delapan jalan utama, mengingat bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa delapan elemen tadi.

Jika dulu pewanginya menggunakan daun pandan, kini berubah menjadi menggunakan vanili. Meskipun begitu, rasa dan kualitasnya masih tetap asli.

"Kalau dulu, pembuatan rotinya masih pakai oven tradisional, tapi sekarang kan udah zaman modern ya, ada yang pakai oven listrik," tuturnya.

Roti kembang waru memiliki tekstur empuk serta rasanya yang manis. Hingga kini roti tersebut masih banyak diminati masyarakat, misalnya untuk sajian acara-acara tertentu.

Reporter: mg/Annisa Dheaning Triprasiwi

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags