Brilio.net - Tepat pukul 11.15 WIB, Jumat (23/9) Masjid Gedhe Kauman rutin menjalankan ibadah salat Jumat bagi kaum laki-laki. Masjid Gedhe Kauman yang lokasinya di Alun-Alun Keraton Yogyakarta, Jalan Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, memang selalu ramai akan kunjungan wisatawan serta warga lokal yang berniat untuk melakukan salat secara berjamaah atau hanya melakukan swafoto. 

BACA JUGA :
Penampakan masjid berusia 120 tahun, muncul usai 3 dekade tenggelam

"Masjid ini dibangun sejak 1773 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Bangunannya asli dan sudah menjadi salah satu cagar budaya Nasional. Karena itu masjid ini sangat dijaga, agar tetap kokoh sampai beberapa tahun ke depan," ujar Anwar, takmir Masjid Gedhe Kauman, saat ditemui brilio.net pada Jumat (23/9).


BACA JUGA :
Kisah haru seorang Kapolsek, rela jual rumah demi bangun masjid

Struktur bangunan Masjid Gedhe Kauman terdiri dari masjid induk dengan satu ruang utama sebagai tempat untuk salat yang dilengkapi tempat imam memimpin salat atau mihrab. Samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak. Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan salat di Masjid Gedhe Kauman. 

Tidak jauh dari mihrab terdapat mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornamen stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga diprada emas.

Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid. Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe Kauman pada masa sekarang adalah KUA, kantor takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit keraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Foto: mg/Ricka Milla Suatin

Bangunan utama Masjid Gedhe Kauman masih asli, renovasi pada 1867, 1917, dan 1933 tidak mengubah keaslian bangunan. 

Masjid Gedhe Kauman merupakan masjid pertama milik Keraton dan masjid induk atau pertama yang berdiri di Yogyakarta. 

Foto: mg/Ricka Milla Suatin

Banyak kekeliruan tentang masjid Gedhe Kauman, salah satunya adalah persepsi bahwa masjid Gedhe Kauman adalah masjid milik Muhammadiyah. 

Persepsi tersebut salah kaprah. Hal yang sebenarnya terjadi yaitu KH Ahmad Dahlan sebagai salah satu petinggi di Keraton dan banyak orang yang mengaitkan alasan itu untuk menjadikan Masjid Gedhe Kauman cenderung disebut sebagai masjid milik Muhammadiyah, yang mana pendapat tersebut adalah salah. 

Cara para takmir menjaga keautentikan Masjid Gedhe Kauman adalah dengan menertibkan pengunjung yang berdatangan, seperti menjadi penjaga Masjid Gedhe Kauman jika terdapat jamaah yang ingin masuk untuk salat. 

Berbeda konteksnya jika pengunjung hanya ingin datang meliput atau melihat-lihat isi masjid Gedhe Kauman, maka Takmir masjid akan membantu berkeliling ke dalam. Masjid yang terbuka dari waktu dzuhur hingga isya tersebut letaknya mengikuti kampung Kauman, sebuah kampung yang sudah diakui oleh Dinas Pariwisata Provinsi sebagai kampung wisata religi dan sejarah yang mana sejarahnya terdapat di masjid Gedhe Kauman. 

 

Reporter: mg/Ricka Milla Suatin

RECOMMENDED